Artikel Kesehatan

Mengapa Masker Double Penting?

Ema Fiki Munaya, SKM, MKM (Promosi Kesehatan RSUI)

2021-06-25

9458

Mengapa Masker Double Penting?

Sudah hampir 2 tahun masyarakat di seluruh dunia termasuk Indonesia berjuang melalui hari-hari yang melelahkan karena pandemi Covid-19. Di Indonesia, sejak dilaporkan pertama kali pada bulan Maret 2020 hingga 24 Juni 2021 terdapat lebih dari dua juta kasus dengan lebih dari lima puluh lima ribu kasus meninggal. Hal ini membuat masyarakat harus beradaptasi dengan new normal era dengan penerapan protokol kesehatan merupakan suatu kebutuhan, bahkan keharusan untuk menjaga diri sendiri dan sesama. Protokol kesehatan yang diberlakukan adalah himbauan bagi masyarakat untuk melindungi diri dari virus Sars-Cov-2 berupa mencuci tangan, menjaga jarak minimal 2 meter, menggunakan masker, membatasi mobilitas, dan menghindari keramaian.

Salah satu protokol kesehatan yang paling banyak mengalami perkembangan adalah aturan mengenai penggunakan masker. Di awal pandemi covid-19, Centre for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO) hanya mewajiban masker bagi orang sakit. Kemudian, sempat terjadi kelangkaan masker medis di awal pandemi karena masyarakat berbondong-bondong berbelanja masker medis. Harga masker medis menjadi tak masuk akal hingga pemerintah mengeluarkan aturan mengenai penggunaan masker kain tiga lapis bagi masyarakat umum. Tidak diketahui kapan dimulai, namun kemudian masker medis di pasaran mulai beredar secara normal dengan harga wajar kembali dan masyarakat umum mulai menggunakan masker medis sebagai bagian dari keseharian mereka. Bahkan perkembangan model, warna, dan bentuk masker yang beredar di masyarakat kini sangat beragam mulai dari masker medis biasa, duckbill, KF 94, dan KN-95 dengan klaim jumlah lapisan adalah 3 lapisan hingga 6 lapisan.

Belum lama ini, sekitar bulan April 2021 CDC mengeluarkan panduan mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan efektivitas masker yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Penggunaan masker secara konsisten dengan cara yang baik dan benar penti...

Apakah Normal Memiliki Gangguan Berkemih pada Pria Usia Lanjut?

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU

2021-06-15

9997

Apakah Normal Memiliki Gangguan Berkemih pada Pria Usia Lanjut?

Dengan semakin panjangnya usia harapan hidup, maka semakin sering ditemukan penyakit yang berhubungan dengan usia atau penyakit degeneratif. Tidak hanya osteoporosis, hipertensi, dan gula darah, gangguan berkemih pada pria usia lanjut juga sering didapatkan. Salah satu penyebab gangguan berkemih yang kerap ditemukan pada pria dengan usia di atas 50 tahun adalah gangguan prostat.

Prostat merupakan salah satu organ yang dimiliki oleh semua pria dan berfungsi sebagai pembuat cairan semen (95% cairan yang keluar saat ejakulasi). Organ ini terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi saluran kemih bagian bawah. Dengan bertambahnya usia maka semakin membesar pula ukuran prostat. Pembesaran ini dapat mengakibatkan prostat “menjepit” saluran kemih sehingga aliran urin tidak lancar. Sesuai dengan proses perkembangannya, usia merupakan faktor risiko terbesar terjadinya pembesaran prostat, Proses ini terjadi secara alamiah dan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi ini.

Banyak orang yang berpikir bahwa berkurangnya “performa” berkemih memang sudah normal dialami laki-laki yang lanjut usia, namun kenyataannya tidak demikian. Gangguan berkemih (seperti sulit berkemih, sering berkemih, anyang-anyangan, berkemih darah, atau bahkan tidak dapat berkemih sama sekali) dapat mengganggu kualitas hidup, dengan menyebabkan perasaan tidak puas saat berkemih dan/atau gangguan seksual. Di sisi lain, ada pula kemungkinan merupakan suatu keganasan pada prostat, terutama bila Anda memiliki faktor risiko lain (seperti ayah atau saudara memiliki kanker prostat dan memiliki metabolik sindrom). Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan untuk memeriksakan kondisi prostat Anda ke dokter Urologi bila usia sudah di atas 45 tahun (bila memiliki risiko keganasan) dan 50 tahun (bila tidak).

Tatalaksana pada gangguan prostat memiliki variasi yang luas dan akan disesuaikan dengan masing-masing pasien serta penyakit dasarnya, mulai dari observ...

Obat Herbal: Benarkah Tanpa Efek Samping?

dr. Anggi Gayatri, Sp.FK

2021-06-07

138287

Obat Herbal: Benarkah Tanpa Efek Samping?

Seiring dengan perkembangan penemuan obat herbal dan semakin maraknya penggunaan obat tradisional, masyarakat semakin mudah mendapatkan obat-obatan ini di pasaran. Masyarakat dapat membeli obat ini secara bebas di apotik, toko obat, supermarket ataupun tempat lain. Sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa obat herbal aman digunakan karena berasal dari bahan alami, tidak seperti obat kimia. Tapi apakah memang benar obat herbal pasti berkhasiat dan tanpa efek samping?

Obat herbal adalah obat yang dibuat dari bahan alam, baik tumbuhan, hewan atau mineral. Definisi obat herbal seringkali dicampuradukkan dengan obat tradisional. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang dapat berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral atau campuran ketiganya yang sudah digunakan secara turun temurun untuk pengobatan. Obat tradisional sudah pasti obat herbal, tapi obat herbal belum tentu obat tradisional. Saat ini banyak ahli mengembangkan berbagai obat herbal baru, yang belum digunakan secara turun temurun, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai obat tradisional. 

Perbedaan mendasar antara obat herbal dan obat kimia adalah bahwa obat herbal mengandung campuran berbagai zat kimia. Campuran tersebut dapat saling bersinergi ataupun memiliki efek antagonis antar komponen, yang pada akhirnya akan menimbulkan efek pada tubuh manusia. Efek sinergi untuk zat kimia yang bermanfaat tentunya menguntungkan karena dapat memperkuat efek terapi. Namun efek antagonis juga dapat menguntungkan karena kemungkinan dapat mengurangi efek merugikan dari zat kimia tertentu dalam satu obat herbal. Sementara itu obat kimia adalah obat yang mengandung satu zat kimia tunggal yang dapat bekerja sendiri dan menimbulkan efek. 

Efek samping adalah kejadian tidak diinginkan yang ditimbulkan akibat penggunaan obat. Efek samping dapat terjadi akibat zat obat itu sendiri, maupun zat kimia yang berperan sebagai pembawa (komponen tambahan dalam obat) dalam sediaan obat. Seluruh ba...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved