Artikel Kesehatan

Pemeriksaan CBCT untuk Impaksi Gigi Bungsu

Dr. drg. Menik Priaminiarti, Sp.RKG(K)

2023-03-17

15957

Pemeriksaan CBCT untuk Impaksi Gigi Bungsu

Apakah Cabut Gigi Bungsu harus Operasi?

Gigi geraham bungsu yang sakit biasanya disebabkan oleh impaksi atau kondisi gigi yang tidak dapat tumbuh karena posisi yang tidak normal. Desakan ini umumnya menimbulkan rasa nyeri, bengkak di gusi, sakit kepala dan dalam tahap lanjut dapat menyebabkan kesulitan membuka rahang. Hal tersebut sering kali karena tidak ada ruang untuk gigi bungsu tumbuh di rongga mulut.

Namun, tidak semua gigi bungsu harus dicabut dengan cara operasi. Dokter gigi harus memeriksa dulu kondisi gigi dan mulut pasien untuk melihat keadaan gigi bungsu. Untuk meyakinkan posisi mahkota dan akar gigi bungsu tersebut, maka diperlukan foto ronsen berupa panoramik atau CBCT (Cone Beam Computed Tomography).

Apa Kelebihan Pemeriksaan CBCT?

Teknologi yang semakin berkembang membuat dokter gigi lebih mudah menentukan posisi gigi impaksi lebih akurat. CBCT merupakan alat terbaru di bidang radiologi pada kedokteran gigi yang salah satu fungsinya untuk membantu menegakkan diagnosis suatu kelainan atau penyakit.  

Hasil foto panoramik dan periapikal memberikan  gambaran dua dimensi, sehingga kita tidak dapat mengetahui ukuran asli dari gigi atau bagian yang diperiksa. Sedangkan pemeriksaan CBCT yang memberikan gambaran tiga dimensi, sehingga dokter gigi mendapatkan ukuran asli dari gigi atau bagian yang diperiksa. Kelebihan CBCT untuk evaluasi gigi bungsu, antara lain:

  1. Tidak menimbulkan rasa nyeri
  2. Dosis paparan lebih rendah
  3. Menghasilkan gambar tiga dimensi yang dapat dilihat dari segala arah.
  4. Menghasilkan gambaran yang lebih akurat
  5. Dapat merencanakan tindakan operasi gigi bungsu secara efektif
  6. Tersedia fasilitas pengukuran panjang lengkung rahang dan derajat kemiringannya
  7. Mencegah terjadinya tumpang tindih.

Selain itu hasil pencitraan 3D CBCT dapat direkonstruksi sesuai dengan area yang dibutuhkan, salah sat...

Peran Laser dalam Operasi Urologi

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU

2023-03-15

18521

Peran Laser dalam Operasi Urologi

Laser adalah singkatan dari "Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation" atau "Penguatan Cahaya melalui Emisi Stimulasi Radiasi". Laser adalah alat yang menghasilkan sinar cahaya yang sangat terfokus dan kohesif, yang memiliki sifat-sifat khusus yang membedakannya dari sumber cahaya lainnya seperti lampu.

Laser digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk dalam bidang kedokteran, industri, teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan. Dalam kedokteran, laser digunakan dalam berbagai prosedur bedah dan pengobatan, seperti pengobatan batu ginjal, pengobatan kanker, penghilangan bekas luka, dan pengobatan mata.

Laser memiliki banyak peran dalam operasi urologi modern. Beberapa contoh peran laser dalam operasi urologi adalah:

  1. Pemotongan jaringan: Laser dapat digunakan untuk memotong jaringan yang berlebihan, seperti pada kasus pembesaran prostat. Pemotongan yang dilakukan dengan laser biasanya lebih akurat dan lebih sedikit trauma pada jaringan sekitarnya.
  2. Penghancuran batu ginjal: Laser juga dapat digunakan untuk menghancurkan batu ginjal. Teknik ini disebut lithotripsi laser dan biasanya dilakukan dengan laser holmium. Laser holmium dapat memecahkan batu ginjal menjadi fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan.
  3. Penghilangan tumor: Laser juga dapat digunakan untuk menghilangkan tumor pada kandung kemih atau prostat. Teknik ini disebut enukleasi laser atau reseksi transuretral dengan laser (TURP). Laser dapat mengangkat tumor tanpa mengganggu jaringan sekitarnya.
  4. Operasi pelebaran saluran kemih: Laser dapat digunakan dalam operasi pelebaran saluran kemih bagian bawah yang sempit. Teknik ini disebut ureteroskopi laser. Laser dapat membantu memotong jaringan yang menyumbat saluran kemih.

Dalam semua kasus di atas, laser menawarkan keuntungan dalam hal akurasi, sedikit trauma pada jaringan sekitarnya, dan waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan teknik operasi ...

Bersepeda dan Disfungsi Ereksi, Apakah Berkaitan?

dr. Widi Atmoko, Sp.U(K), FICS

2023-03-14

7548

Bersepeda dan Disfungsi Ereksi, Apakah Berkaitan?

Saat ini olahraga bersepeda semakin banyak diminati oleh masyarakat. Bersepeda memiliki banyak kelebihan dibanding olahraga lain. Bersepeda termasuk dalam jenis olahraga yang low impact sehingga tidak menyebabkan tekanan berlebih pada sendi atau jaringan otot sehingga tidak berisiko tinggi untuk cedera bagi pemula atau lansia. Bersepeda juga mudah untuk dilakukan karena tidak memerlukan keahlian khusus, serta intensitas dan durasinya bisa disesuaikan dengan kemampuan tiap orang. Bersepeda juga bisa dilakukan bersama-sama dengan teman-teman, keluarga, maupun komunitas sehingga dapat pula dijadikan sebagai ajang menjalin keakraban. Jika dilihat dari segi kesehatan, banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan rutin bersepeda, diantaranya dapat meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas, meningkatkan kesehatan jantung dan kapasitas paru, memperbaiki postur dan mobilitas sendi, meningkatkan kemampuan koordinasi, mengurangi rasa cemas dan depresi, serta membantu untuk menurunkan kadar lemak tubuh.

Saat ini banyak beredar informasi yang mengatakan bahwa bersepeda dapat membuat pria mandul dan mengalami disfungsi ereksi. Apakah ini benar? Perlu diketahui bahwa organ seksual dan reproduksi pria pada dasarnya ada beberapa bagian yaitu penis, prostat, saluran kencing (uretra), skrotum, testis, saluran vas deferens, dan kandung kemih. Saat bersepeda, bagian saddle dari sepeda memberikan tekanan pada area perineum, yaitu area yang berada diantara bagian bawah skrotum dan anus. Tekanan pada area perineum ini juga dapat diperberat dengan getaran saat bersepeda. Hal ini membuat arteri dan saraf pudendus terhimpit sehingga menyebabkan  penurunan oksigen sementara, alhasil terjadilah mati rasa/kebas di area perineum selama beberapa saat dan ini sering dihubungkan dengan risiko impotensi yang meningkat sebesar 1,4 kali. Berdasarkan penelitian dari Leibovitch dan Mor tahun 2005 yang meneliti hubungan bersepeda dengan gangguan urogenital, didapatkan h...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved