
Dr. dr. Tresia Fransiska Ulianna Tambunan, SpKFR (K)
2023-01-03
10259
Merokok adalah sesuatu hal yang buruk, namun masih banyak yang tidak dapat meninggalkan kebiasaan ini. Rokok merupakan salah satu jenis candu yang dapat menimbulkan dampak berbagai masalah kesehatan terutama di organ pernapasan seperti paru-paru. Setiap rokok yang dihisap akan meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Dua dari sekian banyak penyakit yang dapat dicegah dengan berhenti merokok yaitu Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan Kanker Paru.
PPOK dapat disebabkan oleh berbagai hal dan umumnya dapat dicegah serta ditangani. Namun, penyebab PPOK yang paling utama adalah kebiasaan merokok aktif maupun pasif. Diperkirakan sekitar 80–90% kasus PPOK disebabkan oleh kebiasaan merokok atau menghirup asap rokok dalam jangka panjang. PPOK merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. PPOK menghalangi aliran udara di dalam paru-paru sehingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas. PPOK dapat menimbulkan gejala, seperti: sesak napas, batuk kronis, batuk berdahak, mudah lelah, lemas, lesu, dan sulit tidur.
Tata laksana (Pengobatan) PPOK meliputi terapi non farmakologis, terapi farmakologis, terapi oksigen, dan tindakan operatif jika gejalanya tidak dapat diredakan dengan obat-obatan atau terapi non farmakologis. Tujuan utama dari penatalaksanaan PPOK antara lain untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru, serta meningkatkan kualitas hidup penderita
Peranan Rehabilitasi Medik pada PPOK yaitu sebagai terapi non farmakologis yang meliputi edukasi, latihan fisik, latihan pernapasan, teknik relaksasi dan konservasi energi, terapi nutrisi serta dukungan emosional. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki gejala sesak nafas, meningkatkan kapasitas latihan, toleransi aktivitas fisik, dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Program rehabilitasi ini dapat dilaksanakan di dalam atau diluar rumah sakit oleh suatu tim multidisiplin yang terdi...

dr. Rayinda Raumanen, SpKJ, Raihanny Andrea Zahra, Ramadhany Fikri Setiawan
2023-01-03
8539
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia yang setiap hari merokok adalah 48.400.332 jiwa dan sebanyak 85% rumah tangga terpapar asap rokok.1 Setiap tahunnya sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berhubungan dengan tembakau.2 Rokok merupakan zat yang paling sering menyebabkan ketergantungan atau adiksi karena aksesnya yang mudah didapat.
Seseorang dapat dikatakan mengidap adiksi rokok apabila mengalami gejala toleransi dan gejala putus zat. Gejala toleransi terjadi bila tubuh memerlukan dosis lebih daripada sebelumnya untuk menghasilkan efek yang sama. Sedangkan gejala putus zat adalah kondisi yang muncul bila seseorang menghentikan kebiasaan merokok. Gejala putus zat meliputi keinginan kuat untuk merokok, iritabilitas, frustrasi, kecemasan, dan sulit berkonsentrasi.
Adiksi rokok berbahaya, baik terhadap kesehatan fisik dan mental maupun secara lingkungan, sosial, dan ekonomi. Adiksi rokok mungkin tidak memiliki efek drastis seperti zat lain, namun rasa nyaman yang muncul akibat rokok dapat memengaruhi pusat sistem reward di otak seseorang sehingga sulit untuk berhenti. Lantas bagaimana cara yang efektif untuk keluar dari adiksi rokok?
Ada berbagai macam strategi untuk menghentikan adiksi rokok, salah satunya yaitu dengan mengombinasikan terapi pengobatan dan konseling. Terapi pengobatan yang dapat dilakukan yaitu Nicotine Replacement Therapy. Terapi ini membantu menghentikan kebiasaan merokok dengan cara mengganti “rokok” menggunakan permen karet, patch (menyerupai stiker dan ditempelkan di kulit), alat semprot, atau permen pelega tenggorokan yang mengandung nikotin. Hal ini agar seseorang dapat mengurangi efek putus rokok yang biasa dirasakan bila berhenti secara tiba-tiba. Saat sesi konsultasi, psikiater akan mencari kemungkinan masalah mental lain yang mungkin menjadi faktor risiko seseorang merokok dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sep...

dr. Sri Wahdini, M.Biomed, SpAk & dr. Darwin Harpin, SpAk
2023-01-03
5736
Rokok adalah gulungan tembakau yang dibungkus daun nipah atau kertas, sedangkan merokok adalah menghisap rokok atau proses menikmati tembakau yang dibakar. Tembakau mengandung zat yang mempengaruhi tubuh, seperti tar, nikotin, karbon monoksida, dan lain-lain. Nikotin di dalam rokok apabila dihisap akan mencapai otak dalam tujuh detik dan berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotinik (nAChR) di otak. Aktivasi terhadap saraf ini menyebabkan terjadi produksi zat kimia salah satunya dopamin. Dopamin mampu memperkuat stimulasi otak dan mengaktifkan reward pathway, yakni pengaturan perasaan dan perilaku melalui mekanisme tertentu di otak. Dopamin merupakan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap rasa senang, tenang, motivasi, merasakan rasa sakit, dan percaya diri.
Manusia umumnya akan mengulangi perilaku yang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Efek inilah yang ingin didapat oleh perokok dan membuatnya ingin mengonsumsi nikotin kembali, sehingga terjadi ketergantungan fisik terhadap nikotin yang kita kenal sebagai ketagihan. Ketika seseorang mengkonsumsi rokok secara berulang, otak akan memperbanyak reseptor untuk mengikat nikotin. Sebaliknya, saat seseorang terbiasa merokok dan akan mengurangi atau berhenti merokok di tahap awal akan timbul gejala sakau nikotin karena tubuh beradaptasi dengan kekurangan nikotin. Gejala tersebut antara lain cemas, frustasi, mengantuk, dan sakit kepala,
Menghentikan kebiasaan merokok memerlukan dukungan fisik dan emosional dari keluarga dan orang-orang sekitar. Selain itu, diperlukan pendekatan medis menggunakan obat-obatan maupun tanpa obat-obatan untuk mengurangi dan mengatasi masalah yang timbul akibat merokok, salah satunya adalah terapi akupunktur medik. Akupunktur medik adalah teknik menusukkan jarum akupunktur ke titik-titik akupunktur berdasarkan pengetahuan anatomi, fisiologi, dan patologi, serta berasas prinsip Evidence-Based Medicine (EBM) untuk mengobati kondisi kesehatan ter...

Dr. dr. Tresia Fransiska Ulianna Tambunan, SpKFR (K)
2023-01-03
10259
Merokok adalah sesuatu hal yang buruk, namun masih banyak yang tidak dapat meninggalkan kebiasaan ini. Rokok merupakan salah satu jenis candu yang dapat menimbulkan dampak berbagai masalah kesehatan terutama di organ pernapasan seperti paru-paru. Setiap rokok yang dihisap akan meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Dua dari sekian banyak penyakit yang dapat dicegah dengan berhenti merokok yaitu Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan Kanker Paru.
PPOK dapat disebabkan oleh berbagai hal dan umumnya dapat dicegah serta ditangani. Namun, penyebab PPOK yang paling utama adalah kebiasaan merokok aktif maupun pasif. Diperkirakan sekitar 80–90% kasus PPOK disebabkan oleh kebiasaan merokok atau menghirup asap rokok dalam jangka panjang. PPOK merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. PPOK menghalangi aliran udara di dalam paru-paru sehingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas. PPOK dapat menimbulkan gejala, seperti: sesak napas, batuk kronis, batuk berdahak, mudah lelah, lemas, lesu, dan sulit tidur.
Tata laksana (Pengobatan) PPOK meliputi terapi non farmakologis, terapi farmakologis, terapi oksigen, dan tindakan operatif jika gejalanya tidak dapat diredakan dengan obat-obatan atau terapi non farmakologis. Tujuan utama dari penatalaksanaan PPOK antara lain untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru, serta meningkatkan kualitas hidup penderita
Peranan Rehabilitasi Medik pada PPOK yaitu sebagai terapi non farmakologis yang meliputi edukasi, latihan fisik, latihan pernapasan, teknik relaksasi dan konservasi energi, terapi nutrisi serta dukungan emosional. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki gejala sesak nafas, meningkatkan kapasitas latihan, toleransi aktivitas fisik, dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Program rehabilitasi ini dapat dilaksanakan di dalam atau diluar rumah sakit oleh suatu tim multidisiplin yang terdi...

dr. Rayinda Raumanen, SpKJ, Raihanny Andrea Zahra, Ramadhany Fikri Setiawan
2023-01-03
8539
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia yang setiap hari merokok adalah 48.400.332 jiwa dan sebanyak 85% rumah tangga terpapar asap rokok.1 Setiap tahunnya sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berhubungan dengan tembakau.2 Rokok merupakan zat yang paling sering menyebabkan ketergantungan atau adiksi karena aksesnya yang mudah didapat.
Seseorang dapat dikatakan mengidap adiksi rokok apabila mengalami gejala toleransi dan gejala putus zat. Gejala toleransi terjadi bila tubuh memerlukan dosis lebih daripada sebelumnya untuk menghasilkan efek yang sama. Sedangkan gejala putus zat adalah kondisi yang muncul bila seseorang menghentikan kebiasaan merokok. Gejala putus zat meliputi keinginan kuat untuk merokok, iritabilitas, frustrasi, kecemasan, dan sulit berkonsentrasi.
Adiksi rokok berbahaya, baik terhadap kesehatan fisik dan mental maupun secara lingkungan, sosial, dan ekonomi. Adiksi rokok mungkin tidak memiliki efek drastis seperti zat lain, namun rasa nyaman yang muncul akibat rokok dapat memengaruhi pusat sistem reward di otak seseorang sehingga sulit untuk berhenti. Lantas bagaimana cara yang efektif untuk keluar dari adiksi rokok?
Ada berbagai macam strategi untuk menghentikan adiksi rokok, salah satunya yaitu dengan mengombinasikan terapi pengobatan dan konseling. Terapi pengobatan yang dapat dilakukan yaitu Nicotine Replacement Therapy. Terapi ini membantu menghentikan kebiasaan merokok dengan cara mengganti “rokok” menggunakan permen karet, patch (menyerupai stiker dan ditempelkan di kulit), alat semprot, atau permen pelega tenggorokan yang mengandung nikotin. Hal ini agar seseorang dapat mengurangi efek putus rokok yang biasa dirasakan bila berhenti secara tiba-tiba. Saat sesi konsultasi, psikiater akan mencari kemungkinan masalah mental lain yang mungkin menjadi faktor risiko seseorang merokok dan memberikan pengobatan yang sesuai. Sep...

dr. Sri Wahdini, M.Biomed, SpAk & dr. Darwin Harpin, SpAk
2023-01-03
5736
Rokok adalah gulungan tembakau yang dibungkus daun nipah atau kertas, sedangkan merokok adalah menghisap rokok atau proses menikmati tembakau yang dibakar. Tembakau mengandung zat yang mempengaruhi tubuh, seperti tar, nikotin, karbon monoksida, dan lain-lain. Nikotin di dalam rokok apabila dihisap akan mencapai otak dalam tujuh detik dan berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotinik (nAChR) di otak. Aktivasi terhadap saraf ini menyebabkan terjadi produksi zat kimia salah satunya dopamin. Dopamin mampu memperkuat stimulasi otak dan mengaktifkan reward pathway, yakni pengaturan perasaan dan perilaku melalui mekanisme tertentu di otak. Dopamin merupakan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap rasa senang, tenang, motivasi, merasakan rasa sakit, dan percaya diri.
Manusia umumnya akan mengulangi perilaku yang menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Efek inilah yang ingin didapat oleh perokok dan membuatnya ingin mengonsumsi nikotin kembali, sehingga terjadi ketergantungan fisik terhadap nikotin yang kita kenal sebagai ketagihan. Ketika seseorang mengkonsumsi rokok secara berulang, otak akan memperbanyak reseptor untuk mengikat nikotin. Sebaliknya, saat seseorang terbiasa merokok dan akan mengurangi atau berhenti merokok di tahap awal akan timbul gejala sakau nikotin karena tubuh beradaptasi dengan kekurangan nikotin. Gejala tersebut antara lain cemas, frustasi, mengantuk, dan sakit kepala,
Menghentikan kebiasaan merokok memerlukan dukungan fisik dan emosional dari keluarga dan orang-orang sekitar. Selain itu, diperlukan pendekatan medis menggunakan obat-obatan maupun tanpa obat-obatan untuk mengurangi dan mengatasi masalah yang timbul akibat merokok, salah satunya adalah terapi akupunktur medik. Akupunktur medik adalah teknik menusukkan jarum akupunktur ke titik-titik akupunktur berdasarkan pengetahuan anatomi, fisiologi, dan patologi, serta berasas prinsip Evidence-Based Medicine (EBM) untuk mengobati kondisi kesehatan ter...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved