Artikel Kesehatan

World Patient Safety Day (17 September 2022)

Dr. Novita Dwi Istanti, AMK, SKM, MARS

2022-09-19

3843

World Patient Safety Day (17 September 2022)

Praktik pengobatan yang tidak aman dan kesalahan pengobatan adalah penyebab utama cedera dan bahaya yang dapat dihindari dalam sistem perawatan kesehatan di seluruh dunia. Secara global, biaya yang terkait dengan kesalahan pengobatan diperkirakan mencapai $42 miliar USD per tahun. Kesalahan dapat terjadi pada berbagai tahap proses penggunaan obat. Kesalahan pengobatan terjadi ketika sistem pengobatan yang lemah dan/atau faktor manusia seperti kelelahan, kondisi lingkungan yang buruk atau kekurangan staf mempengaruhi praktik peresepan, penyalinan, pemberian, administrasi dan pemantauan, yang kemudian dapat mengakibatkan kerusakan parah, kecacatan, dan bahkan kematian. Berbagai intervensi untuk mengatasi frekuensi dan dampak kesalahan pengobatan telah dikembangkan, namun penerapannya bervariasi. Diperlukan mobilisasi luas dari pemangku kepentingan yang mendukung tindakan berkelanjutan. Menanggapi hal ini, World Health Organization (WHO) telah mengidentifikasi Medication Without Harm sebagai tema Global Patient Safety Challenge ketiga.

WHO Global Patient Safety Challenge: Medication Without Harm: Pengobatan Tanpa Bahaya akan mengusulkan solusi untuk mengatasi banyak kendala yang dihadapi dunia saat ini untuk memastikan keamanan praktik pengobatan. Tujuan WHO adalah untuk mencapai keterlibatan dan komitmen yang luas dari Negara-negara Anggota WHO dan badan-badan profesional di seluruh dunia untuk mengurangi bahaya yang terkait dengan pengobatan.

Medication Without Harm bertujuan untuk mengurangi bahaya parah terkait pengobatan yang dapat dihindari sebesar 50%, secara global dalam 5 tahun ke depan. Ini secara resmi diluncurkan pada KTT Keselamatan Pasien Tingkat Menteri Global Kedua di Bonn, Jerman pada 29 Maret 2017.

Obat-obatan adalah intervensi yang paling banyak digunakan dalam pelayanan kesehatan, dan kerugian terkait pengobatan merupakan proporsi terbesar dari total kerugian yang dapat...

Mengapa Terjadi Batuk Darah dan Bagaimana Mengatasinya?

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR, dr. Adetya Rahma Dinni

2022-09-14

388098

Mengapa Terjadi Batuk Darah dan Bagaimana Mengatasinya?

Pernahkah Anda mendengar istilah batuk darah atau pernah mengalami batuk darah? Batuk darah atau hemoptisis merupakan usaha mekanis saluran napas mengeluarkan darah yang berasal dari saluran napas bawah di dalam paru.. Batuk darah berwarna merah segar atau merah muda. Warna merah tersebut perlu dibedakan dengan warna merah muntah darah, karena muntah darah (hematemesis) berasal dari saluran cerna dan umumnya berwarna merah kehitaman, hingga bisa seperti kopi. Persentase perawatan rumah sakit akibat batuk darah adalah sebesar 31-35%. Berdasarkan jumlah batuk darah yang dikeluarkan, batuk darah dikelompokkan menjadi batuk darah non-masif (kurang dari 200 mL per hari) dan masif (minimal 200 mL per hari). Batuk darah masif memiliki risiko kematian yang tinggi (30%) karena cairan dan bekuan darah dapat menyumbat saluran napas.

Batuk darah merupakan gejala utama dari 10-15% semua penyakit paru. Penyebab batuk darah di Indonesia terutama adalah tuberkulosis, infeksi jamur di paru (mikosis), tumor paru, dan gagal jantung.. Batuk darah dapat disertai dengan gejala lain, yang bisa timbul tergantung penyakit paru dasarnya, seperti nyeri dada, demam, sesak napas, dan penurunan berat badan.  Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab batuk darah yaitu pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiologis dada (seperti foto toraks dan CT-scan dada), dan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan darah lengkap bertujuan mengetahui kondisi sistem darah terkait penyakit yang terjadi. Pemeriksaan radiologis dada bertujuan mengetahui lokasi kelainan dan perlukaan penyebab batuk darah, dan mengetahui penyakit dasar seperti infeksi atau tumor. Pemeriksaan dahak, seperti sitologi dahak, bakteri tahan asam, dan biakan jamur, bertujuan mengetahui kelainan sel atau mikroorganisme penyebab batuk darah.

Kondisi batuk darah masif umumnya membutuhkan pertolongan segera menggunakan alat prosedur minimal invasif seperti bronkoskopi atau teropong saluran napas oleh ...

Peran CT Scan dan MRI dalam Diagnosis Stroke

dr. Reyhan Eddy Yunus, SpRad(K), MSc, dr. Larasati Kusuma Putri, dr. M. Faris Afif, SpRad

2022-09-05

29127

Peran CT Scan dan MRI dalam Diagnosis Stroke

Stroke merupakan penyakit yang disebabkan gangguan aliran pembuluh darah ke otak karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya oksigen dan nutrisi yang diperlukan otak sehingga terjadi penurunan fungsi dan kematian jaringan otak. Gejala stroke meliputi kelemahan sesisi dari anggota tubuh, bibir terlihat miring ke satu sisi saat senyum, bicara pelo, pandangan kabur atau kehilangan penglihatan secara tiba-tiba, nyeri kepala berat secara tiba-tiba, kehilangan keseimbangan, dan pingsan.

Saat seseorang mengalami gejala stroke, maka dia harus segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Di rumah sakit, tim medis akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk mendiagnosis stroke, termasuk di dalamnya pemeriksaan radiologis untuk menilai kondisi otak. Sebagai upaya mengetahui secara detail kondisi sistem atau jaringan dalam tubuh pasien, dokter akan meminta pasien untuk melakukan CT scan atau MRI. Lalu apa sajakah peran dan fungsi dari CT Scan dan MRI dalam diagnosis stroke? Mari, kita simak selengkapnya berikut ini!

1.      Computed tomography (CT) scan

CT scan merupakan pemeriksaan yang menggunakan radiasi sinar X untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi (3D) dari otak. Lama pemeriksaan CT scan adalah sekitar 10 menit. CT scan digunakan untuk menegakkan diagnosis stroke dan membedakan apakah disebabkan oleh perdarahan atau sumbatan. Kondisi ini perlu dinilai secara cepat untuk menentukan pengobatan yang tepat. Jika diperlukan, CT angiografi (CTA) menggunakan kontras yang disuntikkan melalui pembuluh darah vena dapat dilakukan untuk memperlihatkan pembuluh darah dengan lebih jelas. Dengan CTA, pembuluh darah yang mengalami penyempitan atau sumbatan total dapat diketahui.

2.       Magnetic resonance imaging (MRI)

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet kuat. P...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved