
dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR, dr. Adetya Rahma Dinni
2022-09-14
388109
Pernahkah Anda mendengar istilah batuk darah atau pernah mengalami batuk darah? Batuk darah atau hemoptisis merupakan usaha mekanis saluran napas mengeluarkan darah yang berasal dari saluran napas bawah di dalam paru.. Batuk darah berwarna merah segar atau merah muda. Warna merah tersebut perlu dibedakan dengan warna merah muntah darah, karena muntah darah (hematemesis) berasal dari saluran cerna dan umumnya berwarna merah kehitaman, hingga bisa seperti kopi. Persentase perawatan rumah sakit akibat batuk darah adalah sebesar 31-35%. Berdasarkan jumlah batuk darah yang dikeluarkan, batuk darah dikelompokkan menjadi batuk darah non-masif (kurang dari 200 mL per hari) dan masif (minimal 200 mL per hari). Batuk darah masif memiliki risiko kematian yang tinggi (30%) karena cairan dan bekuan darah dapat menyumbat saluran napas.
Batuk darah merupakan gejala utama dari 10-15% semua penyakit paru. Penyebab batuk darah di Indonesia terutama adalah tuberkulosis, infeksi jamur di paru (mikosis), tumor paru, dan gagal jantung.. Batuk darah dapat disertai dengan gejala lain, yang bisa timbul tergantung penyakit paru dasarnya, seperti nyeri dada, demam, sesak napas, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab batuk darah yaitu pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiologis dada (seperti foto toraks dan CT-scan dada), dan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan darah lengkap bertujuan mengetahui kondisi sistem darah terkait penyakit yang terjadi. Pemeriksaan radiologis dada bertujuan mengetahui lokasi kelainan dan perlukaan penyebab batuk darah, dan mengetahui penyakit dasar seperti infeksi atau tumor. Pemeriksaan dahak, seperti sitologi dahak, bakteri tahan asam, dan biakan jamur, bertujuan mengetahui kelainan sel atau mikroorganisme penyebab batuk darah.
Kondisi batuk darah masif umumnya membutuhkan pertolongan segera menggunakan alat prosedur minimal invasif seperti bronkoskopi atau teropong saluran napas oleh ...

dr. Reyhan Eddy Yunus, SpRad(K), MSc, dr. Larasati Kusuma Putri, dr. M. Faris Afif, SpRad
2022-09-05
29136
Stroke merupakan penyakit yang disebabkan gangguan aliran pembuluh darah ke otak karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya oksigen dan nutrisi yang diperlukan otak sehingga terjadi penurunan fungsi dan kematian jaringan otak. Gejala stroke meliputi kelemahan sesisi dari anggota tubuh, bibir terlihat miring ke satu sisi saat senyum, bicara pelo, pandangan kabur atau kehilangan penglihatan secara tiba-tiba, nyeri kepala berat secara tiba-tiba, kehilangan keseimbangan, dan pingsan.
Saat seseorang mengalami gejala stroke, maka dia harus segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Di rumah sakit, tim medis akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk mendiagnosis stroke, termasuk di dalamnya pemeriksaan radiologis untuk menilai kondisi otak. Sebagai upaya mengetahui secara detail kondisi sistem atau jaringan dalam tubuh pasien, dokter akan meminta pasien untuk melakukan CT scan atau MRI. Lalu apa sajakah peran dan fungsi dari CT Scan dan MRI dalam diagnosis stroke? Mari, kita simak selengkapnya berikut ini!
1. Computed tomography (CT) scan
CT scan merupakan pemeriksaan yang menggunakan radiasi sinar X untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi (3D) dari otak. Lama pemeriksaan CT scan adalah sekitar 10 menit. CT scan digunakan untuk menegakkan diagnosis stroke dan membedakan apakah disebabkan oleh perdarahan atau sumbatan. Kondisi ini perlu dinilai secara cepat untuk menentukan pengobatan yang tepat. Jika diperlukan, CT angiografi (CTA) menggunakan kontras yang disuntikkan melalui pembuluh darah vena dapat dilakukan untuk memperlihatkan pembuluh darah dengan lebih jelas. Dengan CTA, pembuluh darah yang mengalami penyempitan atau sumbatan total dapat diketahui.
2. Magnetic resonance imaging (MRI)
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet kuat. P...

Ahmad M B, S.Ked, BMedSc(Hons), M. Ikhsan N K, S.Ked, BMedSc(Hons), M. Maulana W, S.Ked, BMedSci
2022-08-26
24430
Ditinjau oleh: dr. Dyandra Parikesit, SpU, BMedSc, FICS
Pernahkah Anda merasa nyeri pada pinggang Anda?
Nyeri pinggang, atau dikenal dengan lower back pain atau flank pain, merupakan suatu rasa tidak nyaman pada area antara tulang rusuk bagian bawah dan tulang panggul. Nyeri ini dapat muncul secara tiba-tiba maupun bertahap dan memburuk. Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan nyeri pada pinggang, termasuk diantaranya nyeri akibat otot dan tulang belakang, serta nyeri akibat saluran berkemih, termasuk diantaranya ginjal.
Umumnya, nyeri pinggang karena masalah ginjal dapat disebabkan oleh:
1. Infeksi salurah kemih
2. Batu ginjal
3. Tertusuk atau terbentur pada bagian punggung
Sedangkan pada nyeri pinggang yang disebabkan karena masalah tulang atau otot umumnya disebabkan oleh:
1. Cedera akibat keseleo atau terjatuh
2. Berdiri atau duduk terlalu lama
3. Struktur tulang belakang yang tidak normal
Lalu, bagaimana cara kita membedakan penyebab nyeri tersebut? Berikut beberapa tanda dan gejala yang membedakan nyeri pinggang karena masalah ginjal dengan tulang-otot. Berdasarkan lokasi nyeri, masalah ginjal umumnya terjadi di area punggung, dibawah tulang iga bagian belakang dan dapat menjalar ke bagian samping dari perut bahkan sampai kemaluan. Sedangkan pada masalah tulang-otot, pasien lebih sering merasa nyeri di pinggang, dekat dengan tulang panggul dan bisa menjalar ke bokong dan paha. Pasien dengan penyakit ginjal juga cenderung sulit untuk menunjuk lokasi pasti dari nyeri, namun lebih mudah bagi pasien dengan kendala tulang-otot untuk menunjuk lokasi nyeri.
Selain itu, nyeri pada persoalan ginjal terasa lebih parah, hilang timbul, serta tidak membaik jika diistirahatkan atau menggunakan kompres. Dibandingkan dengan persoalan tulang-otot, nyeri cenderung lebih ringan, menetap, ...

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR, dr. Adetya Rahma Dinni
2022-09-14
388109
Pernahkah Anda mendengar istilah batuk darah atau pernah mengalami batuk darah? Batuk darah atau hemoptisis merupakan usaha mekanis saluran napas mengeluarkan darah yang berasal dari saluran napas bawah di dalam paru.. Batuk darah berwarna merah segar atau merah muda. Warna merah tersebut perlu dibedakan dengan warna merah muntah darah, karena muntah darah (hematemesis) berasal dari saluran cerna dan umumnya berwarna merah kehitaman, hingga bisa seperti kopi. Persentase perawatan rumah sakit akibat batuk darah adalah sebesar 31-35%. Berdasarkan jumlah batuk darah yang dikeluarkan, batuk darah dikelompokkan menjadi batuk darah non-masif (kurang dari 200 mL per hari) dan masif (minimal 200 mL per hari). Batuk darah masif memiliki risiko kematian yang tinggi (30%) karena cairan dan bekuan darah dapat menyumbat saluran napas.
Batuk darah merupakan gejala utama dari 10-15% semua penyakit paru. Penyebab batuk darah di Indonesia terutama adalah tuberkulosis, infeksi jamur di paru (mikosis), tumor paru, dan gagal jantung.. Batuk darah dapat disertai dengan gejala lain, yang bisa timbul tergantung penyakit paru dasarnya, seperti nyeri dada, demam, sesak napas, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab batuk darah yaitu pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiologis dada (seperti foto toraks dan CT-scan dada), dan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan darah lengkap bertujuan mengetahui kondisi sistem darah terkait penyakit yang terjadi. Pemeriksaan radiologis dada bertujuan mengetahui lokasi kelainan dan perlukaan penyebab batuk darah, dan mengetahui penyakit dasar seperti infeksi atau tumor. Pemeriksaan dahak, seperti sitologi dahak, bakteri tahan asam, dan biakan jamur, bertujuan mengetahui kelainan sel atau mikroorganisme penyebab batuk darah.
Kondisi batuk darah masif umumnya membutuhkan pertolongan segera menggunakan alat prosedur minimal invasif seperti bronkoskopi atau teropong saluran napas oleh ...

dr. Reyhan Eddy Yunus, SpRad(K), MSc, dr. Larasati Kusuma Putri, dr. M. Faris Afif, SpRad
2022-09-05
29136
Stroke merupakan penyakit yang disebabkan gangguan aliran pembuluh darah ke otak karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya oksigen dan nutrisi yang diperlukan otak sehingga terjadi penurunan fungsi dan kematian jaringan otak. Gejala stroke meliputi kelemahan sesisi dari anggota tubuh, bibir terlihat miring ke satu sisi saat senyum, bicara pelo, pandangan kabur atau kehilangan penglihatan secara tiba-tiba, nyeri kepala berat secara tiba-tiba, kehilangan keseimbangan, dan pingsan.
Saat seseorang mengalami gejala stroke, maka dia harus segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Di rumah sakit, tim medis akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk mendiagnosis stroke, termasuk di dalamnya pemeriksaan radiologis untuk menilai kondisi otak. Sebagai upaya mengetahui secara detail kondisi sistem atau jaringan dalam tubuh pasien, dokter akan meminta pasien untuk melakukan CT scan atau MRI. Lalu apa sajakah peran dan fungsi dari CT Scan dan MRI dalam diagnosis stroke? Mari, kita simak selengkapnya berikut ini!
1. Computed tomography (CT) scan
CT scan merupakan pemeriksaan yang menggunakan radiasi sinar X untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi (3D) dari otak. Lama pemeriksaan CT scan adalah sekitar 10 menit. CT scan digunakan untuk menegakkan diagnosis stroke dan membedakan apakah disebabkan oleh perdarahan atau sumbatan. Kondisi ini perlu dinilai secara cepat untuk menentukan pengobatan yang tepat. Jika diperlukan, CT angiografi (CTA) menggunakan kontras yang disuntikkan melalui pembuluh darah vena dapat dilakukan untuk memperlihatkan pembuluh darah dengan lebih jelas. Dengan CTA, pembuluh darah yang mengalami penyempitan atau sumbatan total dapat diketahui.
2. Magnetic resonance imaging (MRI)
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet kuat. P...

Ahmad M B, S.Ked, BMedSc(Hons), M. Ikhsan N K, S.Ked, BMedSc(Hons), M. Maulana W, S.Ked, BMedSci
2022-08-26
24430
Ditinjau oleh: dr. Dyandra Parikesit, SpU, BMedSc, FICS
Pernahkah Anda merasa nyeri pada pinggang Anda?
Nyeri pinggang, atau dikenal dengan lower back pain atau flank pain, merupakan suatu rasa tidak nyaman pada area antara tulang rusuk bagian bawah dan tulang panggul. Nyeri ini dapat muncul secara tiba-tiba maupun bertahap dan memburuk. Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan nyeri pada pinggang, termasuk diantaranya nyeri akibat otot dan tulang belakang, serta nyeri akibat saluran berkemih, termasuk diantaranya ginjal.
Umumnya, nyeri pinggang karena masalah ginjal dapat disebabkan oleh:
1. Infeksi salurah kemih
2. Batu ginjal
3. Tertusuk atau terbentur pada bagian punggung
Sedangkan pada nyeri pinggang yang disebabkan karena masalah tulang atau otot umumnya disebabkan oleh:
1. Cedera akibat keseleo atau terjatuh
2. Berdiri atau duduk terlalu lama
3. Struktur tulang belakang yang tidak normal
Lalu, bagaimana cara kita membedakan penyebab nyeri tersebut? Berikut beberapa tanda dan gejala yang membedakan nyeri pinggang karena masalah ginjal dengan tulang-otot. Berdasarkan lokasi nyeri, masalah ginjal umumnya terjadi di area punggung, dibawah tulang iga bagian belakang dan dapat menjalar ke bagian samping dari perut bahkan sampai kemaluan. Sedangkan pada masalah tulang-otot, pasien lebih sering merasa nyeri di pinggang, dekat dengan tulang panggul dan bisa menjalar ke bokong dan paha. Pasien dengan penyakit ginjal juga cenderung sulit untuk menunjuk lokasi pasti dari nyeri, namun lebih mudah bagi pasien dengan kendala tulang-otot untuk menunjuk lokasi nyeri.
Selain itu, nyeri pada persoalan ginjal terasa lebih parah, hilang timbul, serta tidak membaik jika diistirahatkan atau menggunakan kompres. Dibandingkan dengan persoalan tulang-otot, nyeri cenderung lebih ringan, menetap, ...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved