
Dr. Wahyu Ika Wardhani, M.Biomed, M.Gizi, SpGK(K), Siti Nurlatifah,SKM
2022-04-04
10674
Saat berpuasa, kita tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam. Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban umat muslim yang dijalankan selama satu bulan lamanya. Manfaat puasa untuk kesehatan telah banyak diteliti dan ditemukan berhubungan dengan penurunan petanda inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-a), petanda stres oksidatif (malondialdehyde), berat badan, lingkar perut, gula darah puasa, kolesterol LDL, trigliserida, dan tekanan darah. Namun, terdapat juga penelitian yang memperlihatkan kenaikan berat badan kembali, empat minggu setelah akhir puasa. Oleh karena itu, memilih makanan yang tepat untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi penting untuk diketahui masyarakat.
Pemilihan makanan yang baik dimulai saat sahur. Saat sahur disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bersumber dari karbohidrat dengan indeks glikemik yang lebih rendah dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Caranya misalnya dengan memilih konsumsi nasi dari beras merah daripada beras putih, memilih roti gandum daripada roti putih, dan lain-lain. Untuk makan sahur, perbanyak konsumsi sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat, serta konsumsi pula lauk pauk kaya protein seperti ayam, ikan atau telur.
Sementara untuk makanan ifthar atau pembuka, sebaiknya menghindari makan yang terlalu berlebihan dan nikmatilah makanan secara perlahan. Namun, sayangnya pada beberapa orang seringkali kalap saat berbuka puasa sehingga porsi makannya lebih banyak dari biasanya serta kurang beraktivitas fisik yang justru akhirnya dapat menaikkan berat badan. Sesuai sunnah Nabi, kita dapat mengonsumsi 3 buah kurma saat berbuka. Kurma adalah sumber serat yang baik. Sebaiknya, hindari berbuka dengan gula sederhana, seperti minuman berwarna yang manis. Sumber protein dan lemak yang baik bisa menjadi alternatif saat berbuka, disertai dengan karbohidrat yang kompleks.
Selesai menjalankan ibadah, kita dapat melanjutkan berbuka dengan konsumsi makan sesuai dengan anjuran gizi seimbang. Selalu sert...

Antasena Andra Sidqi, Melliza Xaviera Putri Yulian, Nurchalis Rasyid
2022-04-01
7875
Sejak pandemi COVID-19, masker merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari. Penggunaan masker untuk menutup mulut dan hidung merupakan langkah sederhana paling penting untuk mencegah penyebaran dan penularan virus penyebab COVID-19, yaitu SARS-CoV-2, melalui uap udara (aerosol) dan percikan (droplet) yang tercemar. Terdapat beberapa jenis masker yang biasanya digunakan oleh masyarakat umum yaitu masker kain dan masker sekali pakai (disposable) seperti masker bedah dan masker respirator (contohnya masker N95).
Berdasarkan pedoman penggunaan masker dari World Health Organization (WHO), anjuran pemakaian masker bedah selain untuk petugas kesehatan juga diberikan kepada individu yang memiliki risiko komplikasi berat dari COVID-19. Individu yang dimaksud adalah mereka dengan usia lebih dari 60 tahun, memiliki penyakit bawaan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, penyakit paru kronik, kanker, penyakit serebrovaskular, dan penderita gangguan imunitas.
Di samping itu, tidak sedikit yang memilih menggunakan masker kain. Masyarakat umum (selain dengan kondisi di atas) dapat menggunakan masker kain saat beraktivitas baik di dalam maupun di luar ruangan. Masker ini dapat terbuat dari bahan tertentu seperti katun, nilon, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan oleh harga masker kain yang lebih terjangkau, mudah diproduksi, dan dapat dicuci lalu digunakan kembali. Umumnya, masker kain tidak memiliki regulasi dan standarisasi tertentu. Sehingga masker jenis ini tidak memiliki filtrasi yang baik dan tidak dapat digunakan oleh tenaga kesehatan.
Idealnya masker kain harus terdiri dari tiga lapisan. Tersusun dari bahan hidrofilik pada lapisan terdalam, dan bahan hidrofobik pada lapisan kedua dan terluar. Lapisan kedua diharapkan dapat meningkatkan filtrasi dan retensi terhadap droplet. Salah satu rekomendasi yang diberikan oleh CDC (Center for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat adalah penerapan ...

dr. Irene Sinta Febriana, Sp.OG
2022-03-23
93474
Kista coklat atau sering disebut dengan kista endometriosis merupakan penyakit organ reproduksi perempuan yang didefinisikan sebagai adanya jaringan mirip dinding rahim yang tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba, leher rahim, dan berbagai organ lain seperti rektum (usus besar) dan dinding perut.
Pertumbuhan dan perkembangan dari jaringan ini bergantung pada hormon estrogen, hormon utama perempuan yang mengatur fungsi organ reproduksi, seperti pada siklus haid. Jaringan yang tumbuh di luar rahim ini akan memiliki proses penebalan dan peluruhan yang sama dengan terjadinya menstruasi. Saat ini, sekitar 190 juta perempuan yang ada di seluruh dunia menderita endometriosis, baik pada usia reproduksi aktif, dan beberapa mengalaminya setelah berhenti haid (menopause).
Gejala yang dialami bagi penderita endometriosis ini yang paling sering adalah nyeri haid atau biasa dikenal dengan dismenore, nyeri saat berhubungan, nyeri pinggang, nyeri saat buang air besar, nyeri saat buang air kecil, serta sulit hamil atau dikenal dengan infertilitas. Pada siklus menstruasi, akan terjadi pelepasan hormon estrogen dan progesteron dari ovarium (indung telur) yang menyebabkan terjadinya pembentukan jaringan dinding rahim setiap bulannya.
Penurunan kadar hormon progesteron dan estrogen akan menyebabkan terjadinya peluruhan dinding rahim, baik di dalam rongga rahim maupun di luar rongga rahim. Salah satu lokasi adanya sel jaringan dinding rahim di luar dinding rahim yang sering adalah ovarium. Di ovarium, jaringan dinding rahim yang ada di luar rahim ini tidak memiliki jalan keluar pada saat terjadinya peluruhan, sehingga menyebabkan penumpukan dinding rahim luar rahim di ovarium yang lama kelamaan bisa berkembang menjadi kista coklat.
Jaringan dinding rahim di luar rahim yang tidak memiliki jalan keluar ini nantinya akan mengalami peradangan yang bisa mengaktifkan reseptor nyeri sehingga menimbulkan nyeri haid s...

Dr. Wahyu Ika Wardhani, M.Biomed, M.Gizi, SpGK(K), Siti Nurlatifah,SKM
2022-04-04
10674
Saat berpuasa, kita tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam. Puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban umat muslim yang dijalankan selama satu bulan lamanya. Manfaat puasa untuk kesehatan telah banyak diteliti dan ditemukan berhubungan dengan penurunan petanda inflamasi (IL-1, IL-6, TNF-a), petanda stres oksidatif (malondialdehyde), berat badan, lingkar perut, gula darah puasa, kolesterol LDL, trigliserida, dan tekanan darah. Namun, terdapat juga penelitian yang memperlihatkan kenaikan berat badan kembali, empat minggu setelah akhir puasa. Oleh karena itu, memilih makanan yang tepat untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi penting untuk diketahui masyarakat.
Pemilihan makanan yang baik dimulai saat sahur. Saat sahur disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bersumber dari karbohidrat dengan indeks glikemik yang lebih rendah dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Caranya misalnya dengan memilih konsumsi nasi dari beras merah daripada beras putih, memilih roti gandum daripada roti putih, dan lain-lain. Untuk makan sahur, perbanyak konsumsi sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat, serta konsumsi pula lauk pauk kaya protein seperti ayam, ikan atau telur.
Sementara untuk makanan ifthar atau pembuka, sebaiknya menghindari makan yang terlalu berlebihan dan nikmatilah makanan secara perlahan. Namun, sayangnya pada beberapa orang seringkali kalap saat berbuka puasa sehingga porsi makannya lebih banyak dari biasanya serta kurang beraktivitas fisik yang justru akhirnya dapat menaikkan berat badan. Sesuai sunnah Nabi, kita dapat mengonsumsi 3 buah kurma saat berbuka. Kurma adalah sumber serat yang baik. Sebaiknya, hindari berbuka dengan gula sederhana, seperti minuman berwarna yang manis. Sumber protein dan lemak yang baik bisa menjadi alternatif saat berbuka, disertai dengan karbohidrat yang kompleks.
Selesai menjalankan ibadah, kita dapat melanjutkan berbuka dengan konsumsi makan sesuai dengan anjuran gizi seimbang. Selalu sert...

Antasena Andra Sidqi, Melliza Xaviera Putri Yulian, Nurchalis Rasyid
2022-04-01
7875
Sejak pandemi COVID-19, masker merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari. Penggunaan masker untuk menutup mulut dan hidung merupakan langkah sederhana paling penting untuk mencegah penyebaran dan penularan virus penyebab COVID-19, yaitu SARS-CoV-2, melalui uap udara (aerosol) dan percikan (droplet) yang tercemar. Terdapat beberapa jenis masker yang biasanya digunakan oleh masyarakat umum yaitu masker kain dan masker sekali pakai (disposable) seperti masker bedah dan masker respirator (contohnya masker N95).
Berdasarkan pedoman penggunaan masker dari World Health Organization (WHO), anjuran pemakaian masker bedah selain untuk petugas kesehatan juga diberikan kepada individu yang memiliki risiko komplikasi berat dari COVID-19. Individu yang dimaksud adalah mereka dengan usia lebih dari 60 tahun, memiliki penyakit bawaan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, penyakit paru kronik, kanker, penyakit serebrovaskular, dan penderita gangguan imunitas.
Di samping itu, tidak sedikit yang memilih menggunakan masker kain. Masyarakat umum (selain dengan kondisi di atas) dapat menggunakan masker kain saat beraktivitas baik di dalam maupun di luar ruangan. Masker ini dapat terbuat dari bahan tertentu seperti katun, nilon, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan oleh harga masker kain yang lebih terjangkau, mudah diproduksi, dan dapat dicuci lalu digunakan kembali. Umumnya, masker kain tidak memiliki regulasi dan standarisasi tertentu. Sehingga masker jenis ini tidak memiliki filtrasi yang baik dan tidak dapat digunakan oleh tenaga kesehatan.
Idealnya masker kain harus terdiri dari tiga lapisan. Tersusun dari bahan hidrofilik pada lapisan terdalam, dan bahan hidrofobik pada lapisan kedua dan terluar. Lapisan kedua diharapkan dapat meningkatkan filtrasi dan retensi terhadap droplet. Salah satu rekomendasi yang diberikan oleh CDC (Center for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat adalah penerapan ...

dr. Irene Sinta Febriana, Sp.OG
2022-03-23
93474
Kista coklat atau sering disebut dengan kista endometriosis merupakan penyakit organ reproduksi perempuan yang didefinisikan sebagai adanya jaringan mirip dinding rahim yang tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba, leher rahim, dan berbagai organ lain seperti rektum (usus besar) dan dinding perut.
Pertumbuhan dan perkembangan dari jaringan ini bergantung pada hormon estrogen, hormon utama perempuan yang mengatur fungsi organ reproduksi, seperti pada siklus haid. Jaringan yang tumbuh di luar rahim ini akan memiliki proses penebalan dan peluruhan yang sama dengan terjadinya menstruasi. Saat ini, sekitar 190 juta perempuan yang ada di seluruh dunia menderita endometriosis, baik pada usia reproduksi aktif, dan beberapa mengalaminya setelah berhenti haid (menopause).
Gejala yang dialami bagi penderita endometriosis ini yang paling sering adalah nyeri haid atau biasa dikenal dengan dismenore, nyeri saat berhubungan, nyeri pinggang, nyeri saat buang air besar, nyeri saat buang air kecil, serta sulit hamil atau dikenal dengan infertilitas. Pada siklus menstruasi, akan terjadi pelepasan hormon estrogen dan progesteron dari ovarium (indung telur) yang menyebabkan terjadinya pembentukan jaringan dinding rahim setiap bulannya.
Penurunan kadar hormon progesteron dan estrogen akan menyebabkan terjadinya peluruhan dinding rahim, baik di dalam rongga rahim maupun di luar rongga rahim. Salah satu lokasi adanya sel jaringan dinding rahim di luar dinding rahim yang sering adalah ovarium. Di ovarium, jaringan dinding rahim yang ada di luar rahim ini tidak memiliki jalan keluar pada saat terjadinya peluruhan, sehingga menyebabkan penumpukan dinding rahim luar rahim di ovarium yang lama kelamaan bisa berkembang menjadi kista coklat.
Jaringan dinding rahim di luar rahim yang tidak memiliki jalan keluar ini nantinya akan mengalami peradangan yang bisa mengaktifkan reseptor nyeri sehingga menimbulkan nyeri haid s...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved