Artikel Kesehatan

Dampak Asap Rokok Terhadap Balita

Gifta Hati Gemar Zebua, Muhammad Dzulkarnaen, Monika Herliana

2022-03-16

10049

Dampak Asap Rokok Terhadap Balita

Generasi Emas 2045 dan Trend Merokok
Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi ekonomi terbesar di dunia akibat akan menghadapi bonus demografi dengan potensi peningkatan penduduk menjadi 319 juta pada 2045. Namun demikian, kemungkinan tersebut masih menghadapi berbagai rintangan, salah satunya konsumsi rokok. Badan Pusat Statistik pada 2020 mencatat terdapat 23,21% penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas adalah perokok. Dengan kata lain, satu dari lima orang Indonesia merupakan perokok aktif.

Perokok Pasif dan Third-hand Smoker
Terdapat lebih dari 4.000 senyawa kimia berbahaya yang terkandung dalam asap rokok dan dihirup oleh perokok aktif dan pasif. Senyawa kimia tersebut bahkan lebih membahayakan perokok pasif, karena dihirup tanpa disaring. Selain perokok pasif, korban perokok aktif lainnya adalah third-hand smoker (THS), yaitu mereka yang menghirup residu asap pembakaran rokok yang menempel di setiap permukaan seperti pakaian, dinding, rambut, bahkan kulit. 
Dampak negatif dari merokok sebenarnya telah dicantumkan di bungkus rokok. Namun, masih sedikit orang yang menyadari bagaimana pengaruh rokok khususnya pada balita. Balita yang merupakan penerus bangsa yang diharapkan mampu memajukan kesejahteraan bangsa, seharusnya memiliki lingkungan yang sehat dan terhindar dari bahaya asap rokok pasif maupun THS. Lalu, bagaimana rokok memengaruhi balita?

Pengaruh Rokok terhadap Kesehatan Anak
Pajanan asap rokok bertahun-tahun mengakibatkan radang berkepanjangan sehingga merusak lapisan pelindung saluran napas dan mengganggu fungsi imunitas. Kondisi ini mengakibatkan zat beracun dan agen infeksius (bakteri, virus, dan lainnya) menembus masuk ke dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran napas seperti pneumonia, tuberkulosis, atau bronkitis. Radang berkepanjangan juga mengakibatkan penebalan dinding saluran napas sehingga terjadi penyempitan sal...

Deteksi Dini Glaukoma untuk Mencegah Kebutaan

dr. Anissa Nindhyatriayu Witjaksono, BMedSc(Hons), SpM

2022-03-11

12927

Deteksi Dini Glaukoma untuk Mencegah Kebutaan

Glaukoma merupakan suatu kondisi dimana terdapat kerusakan pada saraf mata dan umumnya terjadi secara perlahan dan menahun (kronis). Di dunia, glaukoma menjadi penyebab kebutaan permanen nomor 3. Di Indonesia, sebanyak 4-5 orang per 1000 penduduk menderita glaukoma.

Pada tahap awal munculnya kelainan glaukoma, pasien umumnya tidak merasakan perubahan ataupun keluhan (asimtomatik). Gejala dari glaukoma banyaknya muncul saat kondisi sudah lebih lanjut. Gejala yang dapat dirasakan oleh penderita glaukoma diantaranya: pandangan buram, jalan sering tersandung atau menabrak akibat dari lapang pandang menyempit, rasa pegal atau nyeri di mata, serta mata merah.

Penderita glaukoma kebanyakan disertai dengan peningkatan tekanan bola mata, namun ada juga jenis glaukoma yang tidak disertai dengan peningkatan tekanan. Pemeriksaan tekanan bola mata adalah salah satu pemeriksaan yang akan dilakukan pada screening glaukoma. Pemeriksaan tekanan bola mata dapat dilakukan dengan teknik tanpa sentuhan ke bola mata menggunakan angin (non-contact) ataupun dengan pemeriksaan yang menyentuh bola mata (contact). Pemeriksaan rutin mata, terutama pemeriksaan saraf mata juga akan dilakukan untuk evaluasi kelainan glaukoma. Apabila terdapat kelainan, dapat dilakukan foto saraf mata. Selain itu, pemeriksaan lain yang akan dilakukan adalah pemeriksaan lapang pandang. Lapang pandang merupakan standar baku untuk menentukan diagnosis glaukoma, karena dapat menunjukkan kelainan pada fungsi saraf mata. Pemeriksaan lapang pandang dilakukan menggunakan teknologi komputerisasi bernama Humphrey Automated Perimetry.

Glaukoma umumnya diderita oleh pasien berusia lebih dari 40 tahun. Selain dapat menyebabkan kebutaan permanen, keterlambatan tata laksana dapat menyebabkan menurunnya kualitas hidup penderita di usia produktif. Oleh karena itu, kunci utama pencegahan kebutaan akibat glaukoma adalah dengan melakukan deteksi dini sehingga dapat dilakukan...

Mari Mengenal Spirometri, Alat Ukur Kemampuan Bernapas yang Sebenarnya

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR, Azis Muhammad Putera, Tiara Berliana Azzahra, Rosa Syahruzad

2022-03-07

234430

Mari Mengenal Spirometri, Alat Ukur Kemampuan Bernapas yang Sebenarnya

Pembaca mungkin pernah mendapatkan pesan berantai di media sosial atau aplikasi bertukar pesan, berisi video yang menginstruksikan menahan napas sekian detik untuk mengetahui kemampuan paru. Ternyata video tidak berisi informasi yang benar mengenai cara mengukur kemampuan paru. Lalu bagaimana cara mengukur kemampuan bernapas yang sebenarnya?

Spirometri adalah tes untuk menilai fungsi paru. Pemeriksaan ini menilai jumlah udara yang dapat dihirup dan dihembus paru dalam satuan mililiter, serta arus udara paru dalam satuan mililiter per detik. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menghirup dan menghembus napas melalui corong mulut.

Angka-angka yang dihasilkan digunakan untuk menilai kesehatan paru dan mendiagnosis penyakit pernapasan, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD), fibrosis paru, dan penyakit paru lainnya. Alat ini juga digunakan untuk penilaian persiapan operasi tertentu dan juga sebagai bagian dari pemeriksaan umum periodik (general medical check-up).

Sebelum melakukan pemeriksaan spirometri, orang yang akan diperiksa diinstruksikan untuk tidak merokok dan mengonsumsi minuman alkohol, minimal 24 jam sebelumnya. Orang yang akan diperiksa juga disarankan menggunakan pakaian longgar dan menghindari makan berat sebelum pemeriksaan agar pemeriksaan berlangsung nyaman dan pengukuran yang dihasilkan menggambarkan kondisi sebenarnya.

Pemeriksaan spirometri terdiri dari dua perasat. Perasat pertama menilai jumlah udara yang dapat dihirup dan dihembus paru. Melalui corong mulut, orang yang diperiksa diinstruksikan menghirup napas dalam semaksimal mungkin, lalu mengeluarkannya hingga habis. Perasat kedua menilai aliran udara paru. Anda akan diminta untuk menghirup napas dalam, lalu menghembuskan napas secepat dan sekuat mungkin. Kedua perasat ini masing-masing dilakukan tiga kali untuk mendapatkan hasil yang baik.

Indikasi pemeriksaan s...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved