Artikel Kesehatan

Terapi Batu Saluran Kemih Mutakhir

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU

2022-02-22

14577

Terapi Batu Saluran Kemih Mutakhir

Penyakit batu saluran kemih (BSK) banyak dikeluhkan oleh masyarakat di Indonesia, dan merupakan kasus tersering di antara seluruh kasus di bidang Urologi. Penyakit ini lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan yaitu 3:1 dengan puncak kejadian terjadi pada usia 40-50 tahun. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Depok tahun 2018, populasi Kota Depok sekitar 2,33 juta jiwa dengan 15.65 % di atas usia 50 tahun atau sekitar 364.000 jiwa, yang berarti diprediksi ada sekitar 29.120 kasus BSK tiap tahunnya.

Terapi BSK beragam, mulai dari terapi agar batu dapat keluar secara spontan sampai tindakan pembedahan. Mulai dari tahun 1980-an, pilihan pengobatan untuk BSK termasuk lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal/extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), ureteroskopi (URS), dan percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Dengan kemajuan teknologi, operasi minimal invasif untuk penyakit batu telah disempurnakan dan menghasilkan sedikit morbiditas serta peningkatan keberhasilan hingga bebas batu (stone free rate). Terapi ESWL adalah terapi batu yang benar-benar non-invasif dan direkomendasikan untuk pasien dengan anatomi normal yang memiliki batu ginjal kurang dari 2 cm2 dan batu yang relatif lunak. Sedangkan URS merupakan suatu tindakan memasukkan teropong ke dalam ureter dan ginjal untuk menghancurkan batu. Tindakan ini minimal invasif karena tidak ada sayatan dan jahitan. Pada PCNL, teropong dimasukkan melalui luka yang kecil (1,5 – 2 cm) pada pinggang untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu. Tindakan ini direkomendasikan untuk pasien dengan batu cetak dan batu ginjal lebih besar dari 2 cm.

Terapi yang dipilih tentunya disesuaikan dengan beberapa faktor seperti kondisi pasien, faktor batu dan peralatan yang tersedia. Keadaan pasien dapat berbeda dari waktu ke waktu. Beberapa hal yang dapat dinilai seperti keadaan umum, status gizi, adanya obesitas, dan komorbiditas lainnya. Faktor batu memiliki peran penting...

Skrining Risiko Kencing Manis

dr. Clara Petrisiela Indah Atmaja, dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD

2022-02-18

10017

Skrining Risiko Kencing Manis

Kencing manis atau yang lebih dikenal dengan Diabetes Melitus (DM), merupakan penyakit metabolik menahun (kronis) yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah dalam darah. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh gangguan produksi hormon insulin pada sel beta organ pankreas dan/atau gangguan kerja hormon insulin itu sendiri. Jika hormon insulin terganggu, maka glukosa tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi sel maupun organ tubuh dan justru menumpuk dalam aliran pembuluh darah menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah, lebih lanjut menyebabkan komplikasi bagi organ tubuh yaitu mata, jantung, ginjal, pembuluh darah otak, dan sistem saraf.

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukan sekitar 20,4 juta orang Indonesia yang terdeteksi DM dan peningkatan kasus diabetes menjadi 8,5% pada kasus diabetes melitus berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah. Serta data dari International Diabetes Federation (IDF) bahwa jumlah kasus kematian akibat diabetes sebanyak 236.711 pada tahun 2021.

Tanda dan gejala DM Tipe 2 yaitu:

  • Sering merasa lapar
  • Sering merasa haus
  • Sering buang air kecil dalam jumlah banyak
  • Penurunan berat badan secara bermakna
  • Pandangan kabur
  • Kulit kering, gatal, serta kulit menjadi gelap di area leher belakang atau ketiak
  • Durasi penyembuhan luka lebih lama
  • Infeksi jamur
  • Iritasi daerah genital
  • Rasa kesemutan atau mati rasa
  • Mudah merasa lelah dan cepat tersinggung

Seringkali, pengidap diabetes melitus tidak menunjukan gejala klinis sehingga terlambat untuk mendapatkan tata laksana dan berdampak pada risiko komplikasi yang semakin berat. Maka dari itu, upaya skrining (pemeriksaan penyaring) perlu dilakukan pada kelompok risiko tinggi, yaitu pada usia di bawah 45 tahun pada individu dengan berat badan berlebih (indeks massa tubuh > 23 kg/m2) atau obesitas yang memiliki

Sering Tidak Terkontrol saat Makan? Yuk, Kenali Cara Mengatasinya!

dr. Wahyu Ika Wardhani, MBiomed, MGizi, SpGK(K); Nur Hasanah, S.Gz

2022-02-10

7032

Sering Tidak Terkontrol saat Makan? Yuk, Kenali Cara Mengatasinya!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makan adalah suatu proses memasukkan sesuatu ke dalam mulut, kemudian mengunyah dan menelannya. Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang adalah bagian yang penting dalam mempertahankan kesehatan fisik dan mental. Makan yang sehat dan seimbang yaitu mengonsumsi makanan yang beragam dan bernutrisi dengan proporsi dan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan untuk mempertahankan berat badan normal. Pada saat yang sama, makan dengan sehat juga berarti dapat menikmati makanan tanpa adanya rasa bersalah maupun kehilangan kendali saat makan.

Beberapa orang dapat makan dengan asupan yang sehat dan seimbang, namun beberapa lainnya mengalami gangguan perilaku makan yang menyebabkan terjadinya tidak terkontrolnya makan, hingga menyebabkan malnutrisi. Salah satu gangguan perilaku makan yang umum terjadi yaitu binge eating disorder (BED), yaitu suatu perilaku konsumsi makanan dalam jumlah besar selama periode waktu tertentu dengan penurunan kontrol atas makanan yang dikonsumsi, biasanya akibat stres yang dialami. Dua per tiga dari orang-orang yang BED mengalami kelebihan berat badan, dikarenakan jumlah kalori yang masuk lebih besar dibanding dengan yang dikeluarkan. Tidak jarang orang dengan BED kehilangan kepercayaan diri karena berat badannya yang berlebih sehingga membuat stress. Stress tersebut ternyata dapat memicu kembali perilaku BED sehingga kondisinya justru lebih memburuk.

Kelebihan berat badan dan obesitas tidak hanya menganggu secara penampilan, kondisi ini juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh, di antaranya berisiko mengalami diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, sleep apnea, dan beberapa penyakit lainnya. Orang yang obesitas juga lebih berisiko mengalami gejala berat saat terinfeksi COVID-19.

Strategi mindful eating dipercaya dapat menjadi salah satu solusi mengurangi perilaku BED dan membantu menurunkan berat badan. Dalam suatu penelitian didap...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved