
dr. Prima Enky Merthana, Sp.OT, dr. Wildan Latief, Sp.OT(K), dr. Muhammad Rizqi Adhi P, Sp.OT(K)
2022-01-18
41158
Sudah bukan rahasia umum lagi dengan seiring bertambahnya usia semakin banyak masalah kesehatan yang dihadapi, mulai dari nyeri punggung hingga nyeri lutut yang kerap mengganggu ketenangan di masa tua. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai nyeri lutut yang disebabkan oleh pengapuran sendi lutut. Istilah pengapuran itu sendiri lebih kita kenal dengan osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif.
Secara definisi, osteoarthritis adalah gangguan pada satu sendi atau beberapa sendi yang diawali dengan penurunan kualitas tulang rawan dari sendi. Kelainan ini ditandai dengan penurunan fungsi yang terjadi dengan cepat, pembengkakan sendi, pembentukan kembali tulang subkondral, dan peradangan sekunder pada lapisan kapsul yang menghasilkan cairan sinovial. Gangguan tersebut terjadi secara lokal tanpa efek sistemik. Gambaran sendi pada orang normal dan sendi pada orang yang mengalami osteoarthritis, dapat dilihat pada Gambar 1 (pada bagian atas artikel).
Kejadian osteoarthritis meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Pada usia di atas 60 tahun, 25% wanita dan 15% pria memiliki kecenderungan mengalami gejala osteoarthritis. Sendi lutut merupakan sendi yang lebih sering mengalami osteoarthritis, selain sendi panggul, lutut, dan sendi diskus intervertebralis pada segmen lumbar bawah. Sendi-sendi yang disebutkan tersebut lebih cenderung mengalami osteoarthritis akibat dari fungsi penyangga berat badan, yang disebut dengan fenomena wear and tear.
Menurut penyebabnya osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif ini dibagi menjadi penyakit sendi degeneratif primer dan sekunder.
1. Penyakit sendi degeneratif primer
Masih terdapat faktor lain yang belum diketahui dengan pasti, terjadi karena pengaruh genetik (proses penuaan sendi lebih awal dan cepat).
2. Penyakit sendi degeneratif sekunder
Penyakit sendi degeneratif sekunder lebih sering terjadi dibanding dengan tipe primer. Berbagai jen...

dr. Wulansari Rumanda, dr. Tetra Arya Saputra, dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., S.P(K), FAPSR
2022-01-06
171461
Selang dada atau gembok salir air yang dikenal dalam dunia medis sebagai water sealed drainage (WSD) yaitu tindakan medis bertujuan mengeluarkan cairan atau udara dari rongga dada melalui selang. Selang dengan air sebagai “katup” ini memungkinkan pergerakan cairan atau udara keluar dari rongga dada secara satu arah. Pemasangan selang dada dilakukan pada kondisi seperti akumulasi udara (pneumotoraks), cairan (efusi pleura), darah (hematotoraks), dan nanah di rongga pleura (empiema toraks). Kondisi tersebut dapat diketahui berdasarkan keluhan yang dialami oleh pasien seperti sesak napas, pemeriksaan fisis paru dan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, ultrasonografi, dan CT-scan dada.
Pemasangan WSD menggunakan bius lokal dapat dilakukan langsung di samping tempat tidur pasien atau di ruang tindakan. Selang dada dewasa memiliki ukuran diameter 6,7 hingga 13,3 mm disesuaikan kondisi yang dialami oleh pasien. Selang dada diinsersikan pada ruang antariga di sisi samping dada dan sampai menembus rongga dada. Selang lalu dihubungkan ke penampung WSD. Drainase satu arah ini terjadi karena ada perbedaan tekanan antara rongga dada dan botol penampung, sehingga cairan yang sudah masuk ke dalam botol penampung tidak dapat kembali ke rongga dada. Alat WSD ini dipertahankan sampai jumlah cairan atau udara di rongga dada minimal. Pasien dapat bernapas lebih nyaman setelah dilakukan pemasangan WSD.
Pasien rawat yang telah dipasang WSD dievaluasi berkala selama beberapa hari, seperti perkembangan keluhan pasien, jumlah cairan atau udara, kemungkinan kebocoran atau sumbatan di selang dada, serta kemungkinan terjadi komplikasi pemasangan WSD. Jumlah produksi cairan atau udara terdeteksi berkurang di dalam penampung menandakan sudah terjadi perbaikan klinis. Apabila sudah mengalami perbaikan, maka WSD akan dilepas seluruhnya kemudian pasien dipulangkan untuk rawat jalan.
Komplikasi yang sering terjadi akibat pemasangan WSD adal...

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR, Sakinah Rahma Sari, Sean Alexander LTY, Varalisa Rahmawati
2021-12-29
23859
Rokok elektrik merupakan salah satu jenis rokok yang relatif baru. Sejak ditemukan pada 2003, rokok elektrik telah digunakan oleh sekitar 68,1 juta orang di seluruh dunia pada 2020. Banyak pengguna rokok elektrik yang mengaku menggunakannya untuk membantu berhenti merokok atau sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok biasa. Namun, apakah rokok elektrik memang aman dan dapat membantu untuk berhenti beralih dari rokok biasa?
Secara umum, rokok tembakau mengandung 7.000 senyawa kimia dengan setidaknya 250 diantaranya bersifat racun dan karsinogenik atau menyebabkan kanker. Tembakau dan lebih dari 50 zat penyebab kanker ditemukan pada buangan asap rokok sehingga asap buangan rokok juga bersifat karsinogen. Oleh karena itu, asap rokok memberikan dampak yang sama besarnya terhadap perokok pasif.
Sementara itu, belum banyak penelitian yang telah dilakukan terkait dampak rokok elektrik terhadap perokok pasif. Walaupun rokok elektrik dikatakan relatif tidak berbahaya karena tidak mengandung tembakau, rokok elektrik juga tetap mengandung beberapa agen kimia beracun seperti nikotin, aerosol, dan partikel toksik halus lainnya yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker. Setidaknya, terdapat 10 agen karsinogen aerosol yang telah ditemukan pada rokok elektrik antara lain timbal, formaldehida, toluene, asetaldehid, benzena, kadmium, isoprena, nikel, nikotin, dan N-nitrosonornikotin.
Selain efek beracunnya, sama seperti rokok biasa, rokok elektrik juga mengandung nikotin yang dapat memicu adiksi. Adiksi nikotin mudah untuk terjadi, berkembang dengan cepat, tetapi sangat sulit ditangani. Prosesnya dimulai dari terhirupnya asap tembakau ke tubuh, menyebar melalui aliran darah, melewati sawar darah-otak, dan segera menyebar di jaringan otak. Proses ini hanya memakan waktu dua sampai delapan detik. Nikotin akan berikatan dengan reseptornya di otak, yaitu reseptor kolinergik nikotinik, dan melepaskan dopamin yang membuat s...

dr. Prima Enky Merthana, Sp.OT, dr. Wildan Latief, Sp.OT(K), dr. Muhammad Rizqi Adhi P, Sp.OT(K)
2022-01-18
41158
Sudah bukan rahasia umum lagi dengan seiring bertambahnya usia semakin banyak masalah kesehatan yang dihadapi, mulai dari nyeri punggung hingga nyeri lutut yang kerap mengganggu ketenangan di masa tua. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai nyeri lutut yang disebabkan oleh pengapuran sendi lutut. Istilah pengapuran itu sendiri lebih kita kenal dengan osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif.
Secara definisi, osteoarthritis adalah gangguan pada satu sendi atau beberapa sendi yang diawali dengan penurunan kualitas tulang rawan dari sendi. Kelainan ini ditandai dengan penurunan fungsi yang terjadi dengan cepat, pembengkakan sendi, pembentukan kembali tulang subkondral, dan peradangan sekunder pada lapisan kapsul yang menghasilkan cairan sinovial. Gangguan tersebut terjadi secara lokal tanpa efek sistemik. Gambaran sendi pada orang normal dan sendi pada orang yang mengalami osteoarthritis, dapat dilihat pada Gambar 1 (pada bagian atas artikel).
Kejadian osteoarthritis meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Pada usia di atas 60 tahun, 25% wanita dan 15% pria memiliki kecenderungan mengalami gejala osteoarthritis. Sendi lutut merupakan sendi yang lebih sering mengalami osteoarthritis, selain sendi panggul, lutut, dan sendi diskus intervertebralis pada segmen lumbar bawah. Sendi-sendi yang disebutkan tersebut lebih cenderung mengalami osteoarthritis akibat dari fungsi penyangga berat badan, yang disebut dengan fenomena wear and tear.
Menurut penyebabnya osteoarthritis atau penyakit sendi degeneratif ini dibagi menjadi penyakit sendi degeneratif primer dan sekunder.
1. Penyakit sendi degeneratif primer
Masih terdapat faktor lain yang belum diketahui dengan pasti, terjadi karena pengaruh genetik (proses penuaan sendi lebih awal dan cepat).
2. Penyakit sendi degeneratif sekunder
Penyakit sendi degeneratif sekunder lebih sering terjadi dibanding dengan tipe primer. Berbagai jen...

dr. Wulansari Rumanda, dr. Tetra Arya Saputra, dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., S.P(K), FAPSR
2022-01-06
171461
Selang dada atau gembok salir air yang dikenal dalam dunia medis sebagai water sealed drainage (WSD) yaitu tindakan medis bertujuan mengeluarkan cairan atau udara dari rongga dada melalui selang. Selang dengan air sebagai “katup” ini memungkinkan pergerakan cairan atau udara keluar dari rongga dada secara satu arah. Pemasangan selang dada dilakukan pada kondisi seperti akumulasi udara (pneumotoraks), cairan (efusi pleura), darah (hematotoraks), dan nanah di rongga pleura (empiema toraks). Kondisi tersebut dapat diketahui berdasarkan keluhan yang dialami oleh pasien seperti sesak napas, pemeriksaan fisis paru dan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, ultrasonografi, dan CT-scan dada.
Pemasangan WSD menggunakan bius lokal dapat dilakukan langsung di samping tempat tidur pasien atau di ruang tindakan. Selang dada dewasa memiliki ukuran diameter 6,7 hingga 13,3 mm disesuaikan kondisi yang dialami oleh pasien. Selang dada diinsersikan pada ruang antariga di sisi samping dada dan sampai menembus rongga dada. Selang lalu dihubungkan ke penampung WSD. Drainase satu arah ini terjadi karena ada perbedaan tekanan antara rongga dada dan botol penampung, sehingga cairan yang sudah masuk ke dalam botol penampung tidak dapat kembali ke rongga dada. Alat WSD ini dipertahankan sampai jumlah cairan atau udara di rongga dada minimal. Pasien dapat bernapas lebih nyaman setelah dilakukan pemasangan WSD.
Pasien rawat yang telah dipasang WSD dievaluasi berkala selama beberapa hari, seperti perkembangan keluhan pasien, jumlah cairan atau udara, kemungkinan kebocoran atau sumbatan di selang dada, serta kemungkinan terjadi komplikasi pemasangan WSD. Jumlah produksi cairan atau udara terdeteksi berkurang di dalam penampung menandakan sudah terjadi perbaikan klinis. Apabila sudah mengalami perbaikan, maka WSD akan dilepas seluruhnya kemudian pasien dipulangkan untuk rawat jalan.
Komplikasi yang sering terjadi akibat pemasangan WSD adal...

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR, Sakinah Rahma Sari, Sean Alexander LTY, Varalisa Rahmawati
2021-12-29
23859
Rokok elektrik merupakan salah satu jenis rokok yang relatif baru. Sejak ditemukan pada 2003, rokok elektrik telah digunakan oleh sekitar 68,1 juta orang di seluruh dunia pada 2020. Banyak pengguna rokok elektrik yang mengaku menggunakannya untuk membantu berhenti merokok atau sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok biasa. Namun, apakah rokok elektrik memang aman dan dapat membantu untuk berhenti beralih dari rokok biasa?
Secara umum, rokok tembakau mengandung 7.000 senyawa kimia dengan setidaknya 250 diantaranya bersifat racun dan karsinogenik atau menyebabkan kanker. Tembakau dan lebih dari 50 zat penyebab kanker ditemukan pada buangan asap rokok sehingga asap buangan rokok juga bersifat karsinogen. Oleh karena itu, asap rokok memberikan dampak yang sama besarnya terhadap perokok pasif.
Sementara itu, belum banyak penelitian yang telah dilakukan terkait dampak rokok elektrik terhadap perokok pasif. Walaupun rokok elektrik dikatakan relatif tidak berbahaya karena tidak mengandung tembakau, rokok elektrik juga tetap mengandung beberapa agen kimia beracun seperti nikotin, aerosol, dan partikel toksik halus lainnya yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kanker. Setidaknya, terdapat 10 agen karsinogen aerosol yang telah ditemukan pada rokok elektrik antara lain timbal, formaldehida, toluene, asetaldehid, benzena, kadmium, isoprena, nikel, nikotin, dan N-nitrosonornikotin.
Selain efek beracunnya, sama seperti rokok biasa, rokok elektrik juga mengandung nikotin yang dapat memicu adiksi. Adiksi nikotin mudah untuk terjadi, berkembang dengan cepat, tetapi sangat sulit ditangani. Prosesnya dimulai dari terhirupnya asap tembakau ke tubuh, menyebar melalui aliran darah, melewati sawar darah-otak, dan segera menyebar di jaringan otak. Proses ini hanya memakan waktu dua sampai delapan detik. Nikotin akan berikatan dengan reseptornya di otak, yaitu reseptor kolinergik nikotinik, dan melepaskan dopamin yang membuat s...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved