
Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2021-12-27
46334
Saluran kemih bagian bawah (uretra) memiliki peran penting dalam mengalirkan urin dari kandung kemih keluar dari tubuh kita. Saluran ini dapat menyempit (striktur) karena berbagai penyebab seperti prosedur medis yang melibatkan memasukkan alat (sistoskopi) ke dalam uretra, penggunaan alat bantu selang (kateter) untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, trauma atau cedera pada uretra atau panggul, pembesaran prostat atau riwayat operasi untuk mengangkat atau mengurangi pembesaran kelenjar prostat, kanker uretra atau prostat, infeksi seksual menular dan terapi radiasi. Kondisi striktur ini menimbulkan beberapa keluhan, seperti aliran urin kurang lancar, pengosongan kandung kemih yang tidak maksimal, aliran urin bercabang, mengejan atau sakit saat buang air kecil, meningkatnya keinginan untuk buang air kecil atau lebih sering buang air kecil dan infeksi saluran kemih.
Panjang striktur bervariasi dari kurang dari 1 cm hingga sepanjang seluruh uretra. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria jika dibandingkan dengan wanita. Jika dibiarkan tanpa terapi, maka dapat mengakibatkan komplikasi terutama pada saluran kemih. Meningkatnya tekanan yang diperlukan oleh otot kandung kemih untuk mengeluarkan urin melalui penyempitan (seperti selang dengan bagian depannya yang mengecil) dapat mengakibatkan gejala sulit berkemih atau tidak dapat berkemih sama sekali. Tidak seluruh urin di kandung kemih dapat dikeluarkan saat Anda pergi ke toilet, sehingga sisa urin berjumlah banyak dapat terkumpul di kandung kemih. Kumpulan sisa urin ini lebih mudah terinfeksi sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi kandung kemih, prostat, dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada uretra dan jaringan otot kandung kemih. Kanker uretra adalah komplikasi yang sangat jarang dari striktur lama.
Terapi untuk striktur biasanya disarankan dengan tujuan meningkatkan laju aliran urin, untuk meredakan gejala dan untuk mencegah kemungkinan komplikasi. Ter...

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR, Billy Pramatirta, Farida Farah Adibah, Rafida Amalia Salma
2021-12-23
8720
Rokok sudah hadir dalam peradaban manusia sejak beberapa abad yang lalu. Seiring perkembangan zaman, ada semakin banyak jenis rokok yang dibuat, salah satunya yang terbaru adalah rokok elektrik. Rokok elektrik disebut juga vape, merupakan salah satu jenis rokok yang tidak dibakar. Produk rokok elektrik yang pertama beredar di pasaran dikembangkan pada 2003 oleh seorang apoteker berkebangsaan Tiongkok, Hon Lik. Produk ini mendapatkan perhatian dari para perokok Tiongkok sebagai salah satu alat potensial untuk membantu berhenti merokok atau sebagai produk alternatif rokok. Di Amerika Serikat, rokok elektrik mulai masuk ke pasaran pada pertengahan 2000-an. Per 2014, sekitar 90% dari seluruh produksi rokok elektrik di dunia berasal dari Tiongkok.
Pada tahun 2020, diperkirakan sedikitnya ada 68,1 juta orang yang menggunakan rokok elektrik di seluruh dunia. Pengetahuan dan penggunaan rokok elektrik meningkat drastis dalam dekade terakhir, terutama pada usia muda dan perempuan di negara maju. Penggunaan rokok elektrik di Amerika Serikat dan Eropa lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain, setelah Tiongkok yang memiliki angka pengguna rokok elektrik tertinggi. Saat ini, Indonesia sudah memberlakukan pajak pada penjualan rokok elektrik sejak Oktober 2018.1 Aturan yang mengatur terkait standardisasi produksi rokok elektrik di Indonesia pun masih dalam proses pembuatan.
Prinsip kerja rokok elektrik sama dengan rokok biasa, tetapi berbeda pada komponennya. Rokok elektrik, seperti rokok biasa, sama-sama menghasilkan asap aerosol ketika dipanaskan yang akan diisap oleh perokok. Perbedaannya, asap dari rokok elektrik dihasilkan oleh pemanasan e-liquid dengan ...

dr. Buti Ariani Ar Nur; dr. Syamsul Bahri; dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR
2021-11-17
224519
Anda sering mendengar istilah paru terendam cairan? Secara medis, hal ini disebut sebagai efusi pleura. Efusi pleura adalah penumpukan cairan di rongga pleura, yaitu rongga di antara lapisan pleura yang membungkus paru (pleura viseral) dengan lapisan pleura yang menempel pada dinding dalam rongga dada (pleura parietal). Efusi pleura merupakan penyakit yang paling umum di antara semua penyakit pleura dan mengenai sekitar 1,5 juta pasien per tahun di Amerika Serikat. Sementara itu di Indonesia, efusi pleura merupakan 2,7% dari keseluruhan kasus penyakit pernapasan.
Efusi pleura disebabkan oleh penyakit pleura atau penyakit di luar pleura seperti pneumonia, tuberkulosis paru, keganasan paru atau penyakit di luar paru seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau malnutrisi. Semua orang sehat memiliki sejumlah kecil cairan pleura yang melumasi rongga pleura ini sehingga pergerakan paru selama proses pernapasan berlangsung normal. Keseimbangan cairan ini dipertahankan oleh tekanan onkotik dan hidrostatik serta drainase limfatik yang terdapat di dalam pleura itu sendiri. Gangguan salah satu sistem dapat menyebabkan penumpukan cairan pleura.
Gejala klinis pasien dengan efusi pleura dipengaruhi penyebab yang mendasari. Gejala yang terjadi berupa batuk kering, sesak saat menarik napas, nyeri dada, atau demam. Nyeri dada dapat terfiksasi pada titik tertentu atau menyebar. Nyeri dada biasanya terasa tajam dan semakin berat saat menarik napas dalam, batuk, atau bersin.
Kemungkinan efusi pleura diketahui dari gejala yang dirasakan pasien dan riwayat penyakit pasien. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisis dengan mengetuk-ngetuk dada dan mendengarkan suara napas menggunakan stetoskop. Bila diperlukan, dapat dilakukan prosedur pemeriksaan lanjutan. Prosedur yang paling umum digunakan adalah pencitraan radiologi yaitu foto toraks (chest x-ray). Prosedur lain yang dapat digunakan antara lain pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau computed tomography (...

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2021-12-27
46334
Saluran kemih bagian bawah (uretra) memiliki peran penting dalam mengalirkan urin dari kandung kemih keluar dari tubuh kita. Saluran ini dapat menyempit (striktur) karena berbagai penyebab seperti prosedur medis yang melibatkan memasukkan alat (sistoskopi) ke dalam uretra, penggunaan alat bantu selang (kateter) untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, trauma atau cedera pada uretra atau panggul, pembesaran prostat atau riwayat operasi untuk mengangkat atau mengurangi pembesaran kelenjar prostat, kanker uretra atau prostat, infeksi seksual menular dan terapi radiasi. Kondisi striktur ini menimbulkan beberapa keluhan, seperti aliran urin kurang lancar, pengosongan kandung kemih yang tidak maksimal, aliran urin bercabang, mengejan atau sakit saat buang air kecil, meningkatnya keinginan untuk buang air kecil atau lebih sering buang air kecil dan infeksi saluran kemih.
Panjang striktur bervariasi dari kurang dari 1 cm hingga sepanjang seluruh uretra. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria jika dibandingkan dengan wanita. Jika dibiarkan tanpa terapi, maka dapat mengakibatkan komplikasi terutama pada saluran kemih. Meningkatnya tekanan yang diperlukan oleh otot kandung kemih untuk mengeluarkan urin melalui penyempitan (seperti selang dengan bagian depannya yang mengecil) dapat mengakibatkan gejala sulit berkemih atau tidak dapat berkemih sama sekali. Tidak seluruh urin di kandung kemih dapat dikeluarkan saat Anda pergi ke toilet, sehingga sisa urin berjumlah banyak dapat terkumpul di kandung kemih. Kumpulan sisa urin ini lebih mudah terinfeksi sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi kandung kemih, prostat, dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada uretra dan jaringan otot kandung kemih. Kanker uretra adalah komplikasi yang sangat jarang dari striktur lama.
Terapi untuk striktur biasanya disarankan dengan tujuan meningkatkan laju aliran urin, untuk meredakan gejala dan untuk mencegah kemungkinan komplikasi. Ter...

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR, Billy Pramatirta, Farida Farah Adibah, Rafida Amalia Salma
2021-12-23
8720
Rokok sudah hadir dalam peradaban manusia sejak beberapa abad yang lalu. Seiring perkembangan zaman, ada semakin banyak jenis rokok yang dibuat, salah satunya yang terbaru adalah rokok elektrik. Rokok elektrik disebut juga vape, merupakan salah satu jenis rokok yang tidak dibakar. Produk rokok elektrik yang pertama beredar di pasaran dikembangkan pada 2003 oleh seorang apoteker berkebangsaan Tiongkok, Hon Lik. Produk ini mendapatkan perhatian dari para perokok Tiongkok sebagai salah satu alat potensial untuk membantu berhenti merokok atau sebagai produk alternatif rokok. Di Amerika Serikat, rokok elektrik mulai masuk ke pasaran pada pertengahan 2000-an. Per 2014, sekitar 90% dari seluruh produksi rokok elektrik di dunia berasal dari Tiongkok.
Pada tahun 2020, diperkirakan sedikitnya ada 68,1 juta orang yang menggunakan rokok elektrik di seluruh dunia. Pengetahuan dan penggunaan rokok elektrik meningkat drastis dalam dekade terakhir, terutama pada usia muda dan perempuan di negara maju. Penggunaan rokok elektrik di Amerika Serikat dan Eropa lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain, setelah Tiongkok yang memiliki angka pengguna rokok elektrik tertinggi. Saat ini, Indonesia sudah memberlakukan pajak pada penjualan rokok elektrik sejak Oktober 2018.1 Aturan yang mengatur terkait standardisasi produksi rokok elektrik di Indonesia pun masih dalam proses pembuatan.
Prinsip kerja rokok elektrik sama dengan rokok biasa, tetapi berbeda pada komponennya. Rokok elektrik, seperti rokok biasa, sama-sama menghasilkan asap aerosol ketika dipanaskan yang akan diisap oleh perokok. Perbedaannya, asap dari rokok elektrik dihasilkan oleh pemanasan e-liquid dengan ...

dr. Buti Ariani Ar Nur; dr. Syamsul Bahri; dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR
2021-11-17
224519
Anda sering mendengar istilah paru terendam cairan? Secara medis, hal ini disebut sebagai efusi pleura. Efusi pleura adalah penumpukan cairan di rongga pleura, yaitu rongga di antara lapisan pleura yang membungkus paru (pleura viseral) dengan lapisan pleura yang menempel pada dinding dalam rongga dada (pleura parietal). Efusi pleura merupakan penyakit yang paling umum di antara semua penyakit pleura dan mengenai sekitar 1,5 juta pasien per tahun di Amerika Serikat. Sementara itu di Indonesia, efusi pleura merupakan 2,7% dari keseluruhan kasus penyakit pernapasan.
Efusi pleura disebabkan oleh penyakit pleura atau penyakit di luar pleura seperti pneumonia, tuberkulosis paru, keganasan paru atau penyakit di luar paru seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau malnutrisi. Semua orang sehat memiliki sejumlah kecil cairan pleura yang melumasi rongga pleura ini sehingga pergerakan paru selama proses pernapasan berlangsung normal. Keseimbangan cairan ini dipertahankan oleh tekanan onkotik dan hidrostatik serta drainase limfatik yang terdapat di dalam pleura itu sendiri. Gangguan salah satu sistem dapat menyebabkan penumpukan cairan pleura.
Gejala klinis pasien dengan efusi pleura dipengaruhi penyebab yang mendasari. Gejala yang terjadi berupa batuk kering, sesak saat menarik napas, nyeri dada, atau demam. Nyeri dada dapat terfiksasi pada titik tertentu atau menyebar. Nyeri dada biasanya terasa tajam dan semakin berat saat menarik napas dalam, batuk, atau bersin.
Kemungkinan efusi pleura diketahui dari gejala yang dirasakan pasien dan riwayat penyakit pasien. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisis dengan mengetuk-ngetuk dada dan mendengarkan suara napas menggunakan stetoskop. Bila diperlukan, dapat dilakukan prosedur pemeriksaan lanjutan. Prosedur yang paling umum digunakan adalah pencitraan radiologi yaitu foto toraks (chest x-ray). Prosedur lain yang dapat digunakan antara lain pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau computed tomography (...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved