Artikel Kesehatan

Glaukoma si Pencuri Penglihatan

dr. Ardiella Yunard, SpM(K)

2021-10-18

41448

Glaukoma si Pencuri Penglihatan

Dalam rangka memperingati World Sight Day 14 Oktober 2021, maka artikel ini disusun untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan glaukoma. Terdapat beberapa pertanyaan mengenai glaukoma yang biasa ditanyakan, yang akan saya bahas lebih lanjut.

Marilah kita mengenal glaukoma lebih jauh, apakah glaukoma itu?

Glaukoma merupakan suatu kondisi mata dengan kerusakan pada saraf mata, yang merupakan struktur penting dalam penglihatan. Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh tekanan bola mata yang tinggi, walaupun tidak semua penderita glaukoma memiliki tekanan bola mata yang tinggi.

Berapakah tekanan bola mata normal?

Tekanan bola mata dapat bervariasi sepanjang hari, sehingga bukan merupakan nilai yang tetap. Pada umumnya tekanan bola mata normal berkisar antara 10-21 mmHg. Untuk mengetahui tekanan bola mata, perlu dilakukan pemeriksaan pengukuran tekanan bola mata menggunakan alat khusus. Ada beberapa macam alat untuk mengukur tekanan bola mata, diantaranya ada alat yang mengukur seperti tiupan angin, ada juga alat yang mengukurnya dengan menyentuh bola mata, namun tidak perlu khawatir karena pemeriksaan ini aman dan tidak nyeri karena diberi obat tetes anti nyeri terlebih dahulu.

Siapa sajakah yang berisiko menderita glaukoma?

Glaukoma dapat mengenai siapa saja, namun terdapat individu dengan risiko lebih tinggi, diantaranya usia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga yang menderita glaukoma, menggunakan kacamata minus atau plus tinggi, penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, cedera pada mata, ataupun penggunaan obat anti-radang jangka panjang baik berupa tetes, hirup, ataupun obat minum. 

Gejala dan tanda apa yang muncul pada penderita glaukoma?

Banyak penderita glaukoma yang tidak menunjukkan gejala atau gejala sangat ringan, sehingga penderita datang pada saat penyakit glaukoma sudah parah. Oleh sebab itu penyakit glaukoma ...

Tindakan Operasi Terkini untuk Pasien dengan Pembesaran Prostat Jinak (PPJ)

dr. Dyandra Parikesit, B.Med.Sc, Sp.U

2021-10-05

18967

Tindakan Operasi Terkini untuk Pasien dengan Pembesaran Prostat Jinak (PPJ)

Pilihan terapi pada pasien dengan pembesaran prostat jinak sangatlah beragam, mulai dari evaluasi berkala, pengobatan, dan operasi. Beragam teknik yang digunakan untuk mengeluarkan jaringan prostat sehingga prostat tidak mengobstruksi saluran kemih bagian bawah. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai PPJ silahkan membaca artikel kami dengan judul “Apakah normal memiliki gangguan berkemih pada pria usia lanjut?”

Teknik operasi yang paling banyak digunakan untuk menatalaksana PPJ adalah Transurethral resection of prostate (TURP). Pada teknik tersebut, prostat akan di”kerok” dari luar ke dalam dengan menggunakan teropong yang dimasukkan ke saluran kemih bagian bawah. Teknik ini dilakukan secara invasif minimal sehingga tidak ada sayatan bekas luka operasi. Namun di sisi lain, banyak penelitian yang mengatakan bahwa teknik ini menyisakan banyak jaringan prostat sehingga prostat dapat bertumbuh kembali.

Untuk mengatasi kekurangan pada teknik TURP, terdapat teknik operasi lain dengan teknik Transurethral enucleation and resection of prostate (TUERP). Saat ini KSM Urologi RS Universitas Indonesia (RSUI) sudah dapat melakukan operasi PPJ dengan teknik TUERP. Dengan teknik ini, kelenjar prostat akan dipisahkan dari kapsulnya (seperti buah jeruk dan kulitnya) sehingga prostat dapat dikeluarkan secara lengkap sehingga diharapkan akan menurunkan angka pertumbuhan prostat, meningkatkan pancaran berkemih, menurunkan keluhan akibat sumbatan karena prostat, dan menurunkan jumlah perdarahan.

Operasi TUERP juga menggunakan alat berupa teropong sehingga tidak meninggalkan luka. Teropong akan dimasukkan melalui saluran kemih (saat pasien dalam pembiusan), dan mengeluarkan jaringan prostat yang menyebabkan penyumbatan. Operasi ini diindikasikan pada pasien dengan infeksi saluran kemih berula...

Pemantauan Kesehatan dan Irama Jantung Mandiri dengan Tele-health Monitoring berbasis IoT

dr. Hermawan, Sp.JP(K), FIHA

2021-09-28

4103

Pemantauan Kesehatan dan Irama Jantung Mandiri dengan Tele-health Monitoring berbasis IoT

Seperti kita ketahui pandemi COVID-19 telah banyak membawa perubahan besar di berbagai aspek kehidupan termasuk bagaimana cara pandang kita dalam melihat paradigma dan perilaku hidup sehat sehari-hari. Selama ini kita sangat mengandalkan tenaga kesehatan yang ada seperti dokter, perawat, bidan dan fasilitas layanan kesehatan yang mungkin terbatas dan tidak selalu ada di sisi kita dalam memantau kesehatan kita sehari-hari. Kondisi New Normal saat ini meminta kita untuk lebih mandiri dan pro-aktif dalam melihat dan memantau kondisi kesehatan diri.

Saat ini penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Diperkirakan ada 17,9 juta jiwa yang meninggal karena penyakit kardiovaskular setiap tahun. Penyakit kardiovaskular adalah sekelompok gangguan jantung dan pembuluh darah termasuk penyakit jantung koroner, penyakit gangguan irama jantung, penyakit serebrovaskular, penyakit jantung rematik, dan kondisi lainnya. Lebih dari delapan puluh persen kematian kardiovaskular disebabkan oleh serangan jantung dan strok.

Penderita penyakit kardiovaskular menjadi kelompok yang paling rentan terhadap COVID-19. Mereka berisiko untuk mengalami perburukan jika terinfeksi COVID-19 sehingga banyak di antara mereka yang takut ke rumah sakit untuk kontrol rutin, Penggunaan teknologi jarak jauh kesehatan atau tele-health menjadi penting dalam masa pandemi untuk membantu pemantauan (monitoring) kondisi kesehatan jantung dimanapun berada, tidak hanya di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pasien dengan riwayat penyakit serebrovaskular, khususnya strok iskemik (thrombo-embolic stroke), membutuhkan pemantauan irama jantung secara berkesinambungan. Gangguan irama jantung sendiri telah diketahui meningkatkan risiko strok iskemik hingga empat kali lipat. Gangguan irama jantung seringkali tidak terdeteksi dengan pemeriksaan sesaat atau bahkan dengan modalitas yang ada saat ini karena memiliki keterbatasan waktu ...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved