Artikel Kesehatan

Ibu Positif COVID-19,  Bolehkah Menyusui Bayi?

Ns. Raudha Ilmi Farid, S.Kep

2021-08-10

21747

Ibu Positif COVID-19, Bolehkah Menyusui Bayi?

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi segala aspek kehidupan masyarakat, terlebih pada aspek kesehatan. Coronavirus tidak pandang bulu dalam menginfeksi tubuh penderitanya mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, bahkan lansia. Selain itu, ibu hamil dan menyusui juga tidak lepas dari bayang-bayang COVID-19. Berdasarkan data dari Centers for Disease Control (CDC) sampai dengan 8 Januari 2021 terdapat sebanyak 9.545 kasus kelahiran dengan ibu terkonfirmasi COVID-19. Berbagai penelitian dan kebijakan telah dikeluarkan dan terus menerus diperbaharui terkait perlunya perpisahan ibu dan bayi selama ibu atau bayi masih terkonfirmasi COVID-19. Berbagai pertanyaan yang mengemuka adalah apakah inisiasi menyusui dini dapat tetap dilakukan? Apakah proses menyusui dapat tetap dilakukan? Dan bagaimana adaptasi dari proses menyusui?

Sampai dengan saat ini penularan secara langsung COVID-19 antara ibu dan bayi saat masih di dalam kandungan masih belum terbukti. Oleh karena itu, beberapa kebijakan memperbolehkan dilakukannya IMD atau Inisiasi Menyusui Dini antara ibu dan bayi dengan beberapa kriteria. Syarat diperbolehkannya IMD antara lain yaitu bila status ibu adalah kontak erat atau kasus suspek, dan dapat dipertimbangkan pada ibu dengan status kasus konfirmasi (hasil swab PCR COVID-19 positif) dengan tanpa gejala (asimptomatik) dan hanya jika kondisi ibu maupun bayi baru lahir dinyatakan stabil. Meskipun begitu, IMD dilakukan harus berdasarkan keputusan dari orangtua sebelum proses kelahiran dan dilakukan dengan mengutamakan pencegahan penularan COVID-19 yaitu ibu menggunakan APD minimal masker. Walau demikian, dengan beberapa pertimbangan dan keterbatasan fasilitas di tengah membludaknya kasus kelahiran dengan COVID-19, mendorong beberapa kebijakan tidak memperbolehkan dilakukannya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) serta rawat gabung ibu dan bayi pasca persalinan ibu terkonfirmasi COVID-19 dengan pertimbangan pencegahan penularan langsung setelah kelahiran. Hal ...

Cegah Hepatitis A dengan Menerapkan Higiene dan Sanitasi Makanan

Nur Hasanah, S.Gz

2021-08-05

4386

Cegah Hepatitis A dengan Menerapkan Higiene dan Sanitasi Makanan

Hepatitis A merupakan suatu peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Virus ini ditularkan saat seseorang yang sehat mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh tinja dari orang yang terinfeksi. Tidak seperti hepatitis B dan C, hepatitis A tidak menyebabkan penyakit hati kronik, namun bukan berarti kita bisa menyepelekannya. Pada beberapa kasus, hepatitis A dapat menyebabkan hepatitis fulminan (gagal hati akut), yang juga dapat berakibat fatal.

WHO memperkirakan di seluruh dunia pada tahun 2016, sebanyak 7134 orang meninggal akibat hepatitis A. Penyakit ini dapat terjadi secara sporadis dan dapat menjadi epidemi. Salah satunya yang pernah terjadi di Shanghai, Cina pada tahun 1988 yang menyerang lebih dari 300.000 penduduk.

Penularan hepatitis A sebenarnya dapat dicegah dengan hal-hal yang sederhana, salah satunya dengan menerapkan higiene dan sanitasi pengolahan makanan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan keamanan pangan dalam pencegahan penularan kuman, termasuk HAV:

1.      Menerapkan kebersihan saat mengolah makanan

  • Cuci tangan selama 20 detik dengan sabun dan air mengalir sebelum, saat, dan setelah menyiapkan makanan serta sebelum makan. Penjamah makanan yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dalam makanan yang dibuat jika sebelumnya tidak mencuci tangan dengan benar setelah buang air besar.
  • Penjamah makanan juga dapat menggunakan sarung tangan saat memasak untuk pencegahan penularan yang lebih optimal.
  • Cuci talenan, piring, garpu, sendok, pisau dan meja dengan air sabun panas setelah selesai memasak.
  • Cuci sayur dan buah dengan air bersih yang mengalir.
  • Bersihkan penutup pada makanan kaleng sebelum dibuka.

2.      Pisahkan bahan makanan untuk menghindari kontaminasi silang

  • Daging mentah (baik dari daging merah, ...

Mitos dan Fakta Seputar Stroke

dr. Dinda Diafiri, Sp.S

2021-08-03

6838

Mitos dan Fakta Seputar Stroke

Stroke merupakan penyakit pembuluh darah otak, akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukan stroke masih menduduki peringkat satu sebagai penyebab kematian dan kecacatan terbanyak di Indonesia. Kurangnya kesadaran masyarakat akan gejala stroke dan banyaknya mitos terkait stroke yang berkembang di masyarakat, membuat penanganan stroke menjadi terhambat.

Berikut beberapa mitos seputar stroke yang berkembang di masyarakat:

1.      Stroke Hanya Menyerang Orang Tua

Fakta: Stroke bisa terjadi pada berbagai usia. Walaupun kasus stroke lebih sering ditemukan pada usia > 55 tahun namun saat ini stroke di Indonesia banyak ditemui pada usia produktif 25-45 tahun. Stroke usia muda dikaitkan dengan kelainan pembuluh darah, penyakit sel darah merah dan akibat penerapan pola hidup yang tidak sehat.

2.      Stroke Hanya Terjadi  pada Penderita Penyakit Jantung

Fakta: Stroke dapat terjadi pada siapa saja dengan atau tanpa penyakit jantung, namun resiko stroke akan meningkat pada pasien penderita penyakit jantung, diabetes dan hipertensi.

3.      Stroke Tidak Dapat Dicegah

Fakta: Stroke merupakan penyakit yang bisa dicegah. Hampir 80% kejadian stroke bisa dicegah dengan perilaku “CERDIK “

C: Cek kesehatan secara berkala, E: Enyahkan asap rokok, R: Rajin aktivitas fisik/olahraga, D: Diet sehat gizi seimbang, I: Istirahat cukup, K: kelola stress.

4.      Stroke Tidak Memerlukan Penanganan Medis Segera

Fakta: Stroke merupakan keadaan gawat darurat yang menimbulkan kecacatan dan kematian. Saat ini resiko kecat...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved