
dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2023-05-03
20188
Apakah seorang anak bisa mengidap Diabetes?
Jawabannya bisa. Anak juga dapat mengalami penyakit Diabetes Melitus (DM), baik tipe-1 maupun tipe-2. Sebagian besar DM pada anak adalah DM tipe-1, namun akhir-akhir ini prevalensi DM tipe-2 pada anak meningkat. Insidens DM tipe-1 sangat bervariasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat terdapat 1.021 kasus DM tipe-1 di Indonesia hingga tahun 2014. Puncak kejadian DM tipe-1 terjadi pada anak usia 5–6 tahun dan usia 11 tahun, sedangkan lebih dari 50% kasus penderita baru DM tipe-1 terjadi pada usia di atas 20 tahun. Berbeda dengan DM tipe-2, gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan hiperglikemia kronik pada DM tipe-1 disebabkan oleh kerusakan sel β pankreas melalui proses autoimun atau idiopatik sehingga produksi insulin berkurang hingga terhenti. Selain faktor genetik, faktor risiko DM tipe-1 ini dapat dipicu oleh faktor lingkungan, seperti infeksi virus, toksin, dan lain-lain.
Penderita DM tipe-1 memiliki perjalanan klinis yang akut berupa poliuria (sering kencing), polidipsi (sering haus), mengompol malam hari, beser, penurunan berat badan yang cepat dalam 2–6 minggu, polifagia (sering lapar) dan sering lemas atau lesu. Komplikasi yang dapat timbul dalam jangka waktu panjang antara lain gangguan penglihatan, mati rasa pada tangan dan kaki, luka yang sulit sembuh, dan gagal ginjal. Sebagian anak dengan DM tipe-1 dapat timbul komplikasi akut yang berat yang disebut ketoasidosis. Anak mengalami penurunan kesadaran, dehidrasi, mual dan muntah, sesak napas akibat kadar gula yang sangat tinggi disertai dengan peningkatan keton dan asam pada darah. Kejadian ini merupakan komplikasi yang berat dan perlu penanganan cepat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan, namun penderita DM dapat memiliki kualitas hidup yang optimal dengan pengontrolan gula darah dan metabolik yang tepat. Prinsip pengelolaan penderi...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K)
2023-05-03
37667
Diabetes mellitus atau yang dikenal dengan kencing manis atau penyakit gula merupakan suatu gangguan metabolisme kronis multi-etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Penyakit ini juga disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Penyakit Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia, dengan prevalensi dan insidensi yang terus meningkat, terutama di negara yang berkembang dan negara yang telah memasuki budaya industrialisasi.
Diabetes adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia dan kematian tersebut akibat komplikasi dari diabetes. Diabetes dikategorikan menjadi tipe 1 dan tipe 2. Sebanyak 5–10% kasus merupakan diabetes tipe 1, yang disebabkan oleh kekurangan sekresi insulin akibat kerusakan sel di pankreas yang memproduksi insulin. sedangkan diabetes tipe 2 (90–95% dari seluruh kasus) merupakan kombinasi dari ketidakmampuan sel untuk merespon insulin (resistensi insulin) dan kompensasi sekresi insulin yang tidak memadai. Hal ini menyebabkan kegagalan penyerapan glukosa ke dalam otot dan hati.
Manfaat Latihan Fisik
Pada penderita diabetes, mengonsumsi makanan sehat, membiasakan aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga secara rutin dapat membantu mengontrol kadar gula darah menjadi optimal sehingga mencegah atau memperlambat komplikasi. Penatalaksanaan dan pengelolaan diabetes menitikberatkan pada 4 pilar yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan fisik, dan intervensi farmakologi.
Bergerak dalam bentuk aktivitas fisik (physical activity), latihan fisik (exercise), maupun olahraga (sport) dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh. Aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga bagi penderita diabetes merupakan kegiatan yang murah, mudah, aman, dan nyaman selama dipersiapkan dan dimonitor dengan baik. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Be...

Ns. I Gusti Putri Jayanti, S.Kep
2023-04-28
15621
Penyandang diabates melitus (DM) memiliki beberapa risiko komplikasi penyakit, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum adalah luka terbuka berupa borok yang muncul pada bagian bawah kaki penderita diabetes melitus. Kenapa hal tersebut dapat terjadi?
Beberapa literatur menyebutkan sekitar 60% penyandang DM mengalami neuropati atau kerusakan saraf yang mengakibatkan penyandang DM mengalami penurunan kemampuan merasakan sensasi nyeri. Penurunan tersebut menyebabkan sinyal alami tubuh terhadap cedera, trauma, atau luka akan berkurang, sehingga kaki berisiko infeksi tanpa disadari. Jika tidak diberikan perawatan dengan baik, maka dapat berujung dengan amputasi. Berikut ini merupakan 8 tips perawatan kaki diabetes yang bisa dilakukan mandiri di rumah:
1.Cek Pulsasi dan Sensasi
Cek pulsasi adalah pengecekan nadi yang ada pada punggung kaki. Jika berdenyut maka dapat dikatakan kaki dalam kondisi baik. Sedangkan cek sensasi atau sentuhan dapat dilakukan dengan menekan telapak kaki menggunakan benda tumpul. Sama seperti cek nadi atau pulsasi, jika kita dapat merasakan sensasi benda yang digunakan untuk menekan, maka dapat disimpulkan kaki dalam keadaan baik.
2. Pemeriksaan Kaki
Penyandang DM berisiko tinggi menderita kerusakan saraf yang ditandai dengan hilangnya sensasi nyeri tanpa disadari, maka wajib bagi penyandang DM untuk mengecek kondisi kaki secara berkala. Hal yang perlu diperhatikan, antara lain: adanya luka, goresan, peradangan atau kemerahan, bengkak, lepuhan atau kalus pada kaki.
3. Membersihkan Kaki
Bersihkan kaki dengan air hangat dan sabun yang mengandung pelembab tinggi. Melansir IDWF Guidelines on the Prevention and Management of Diabetic Foot Disease, suhu air terbaik untuk membersihkan kaki adalah di bawah 37 derajat Celcius, suhu yang biasa kita sebut dengan istilah “suam-suam kuku”. Setelah dibersihkan, gunakan lotion atau petroleum jelly untuk menjaga kaki tetap lemb...

dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2023-05-03
20188
Apakah seorang anak bisa mengidap Diabetes?
Jawabannya bisa. Anak juga dapat mengalami penyakit Diabetes Melitus (DM), baik tipe-1 maupun tipe-2. Sebagian besar DM pada anak adalah DM tipe-1, namun akhir-akhir ini prevalensi DM tipe-2 pada anak meningkat. Insidens DM tipe-1 sangat bervariasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat terdapat 1.021 kasus DM tipe-1 di Indonesia hingga tahun 2014. Puncak kejadian DM tipe-1 terjadi pada anak usia 5–6 tahun dan usia 11 tahun, sedangkan lebih dari 50% kasus penderita baru DM tipe-1 terjadi pada usia di atas 20 tahun. Berbeda dengan DM tipe-2, gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan hiperglikemia kronik pada DM tipe-1 disebabkan oleh kerusakan sel β pankreas melalui proses autoimun atau idiopatik sehingga produksi insulin berkurang hingga terhenti. Selain faktor genetik, faktor risiko DM tipe-1 ini dapat dipicu oleh faktor lingkungan, seperti infeksi virus, toksin, dan lain-lain.
Penderita DM tipe-1 memiliki perjalanan klinis yang akut berupa poliuria (sering kencing), polidipsi (sering haus), mengompol malam hari, beser, penurunan berat badan yang cepat dalam 2–6 minggu, polifagia (sering lapar) dan sering lemas atau lesu. Komplikasi yang dapat timbul dalam jangka waktu panjang antara lain gangguan penglihatan, mati rasa pada tangan dan kaki, luka yang sulit sembuh, dan gagal ginjal. Sebagian anak dengan DM tipe-1 dapat timbul komplikasi akut yang berat yang disebut ketoasidosis. Anak mengalami penurunan kesadaran, dehidrasi, mual dan muntah, sesak napas akibat kadar gula yang sangat tinggi disertai dengan peningkatan keton dan asam pada darah. Kejadian ini merupakan komplikasi yang berat dan perlu penanganan cepat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan, namun penderita DM dapat memiliki kualitas hidup yang optimal dengan pengontrolan gula darah dan metabolik yang tepat. Prinsip pengelolaan penderi...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K)
2023-05-03
37667
Diabetes mellitus atau yang dikenal dengan kencing manis atau penyakit gula merupakan suatu gangguan metabolisme kronis multi-etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Penyakit ini juga disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Penyakit Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan di dunia, dengan prevalensi dan insidensi yang terus meningkat, terutama di negara yang berkembang dan negara yang telah memasuki budaya industrialisasi.
Diabetes adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia dan kematian tersebut akibat komplikasi dari diabetes. Diabetes dikategorikan menjadi tipe 1 dan tipe 2. Sebanyak 5–10% kasus merupakan diabetes tipe 1, yang disebabkan oleh kekurangan sekresi insulin akibat kerusakan sel di pankreas yang memproduksi insulin. sedangkan diabetes tipe 2 (90–95% dari seluruh kasus) merupakan kombinasi dari ketidakmampuan sel untuk merespon insulin (resistensi insulin) dan kompensasi sekresi insulin yang tidak memadai. Hal ini menyebabkan kegagalan penyerapan glukosa ke dalam otot dan hati.
Manfaat Latihan Fisik
Pada penderita diabetes, mengonsumsi makanan sehat, membiasakan aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga secara rutin dapat membantu mengontrol kadar gula darah menjadi optimal sehingga mencegah atau memperlambat komplikasi. Penatalaksanaan dan pengelolaan diabetes menitikberatkan pada 4 pilar yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan fisik, dan intervensi farmakologi.
Bergerak dalam bentuk aktivitas fisik (physical activity), latihan fisik (exercise), maupun olahraga (sport) dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh. Aktivitas fisik, latihan fisik, dan olahraga bagi penderita diabetes merupakan kegiatan yang murah, mudah, aman, dan nyaman selama dipersiapkan dan dimonitor dengan baik. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Be...

Ns. I Gusti Putri Jayanti, S.Kep
2023-04-28
15621
Penyandang diabates melitus (DM) memiliki beberapa risiko komplikasi penyakit, salah satunya adalah ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum adalah luka terbuka berupa borok yang muncul pada bagian bawah kaki penderita diabetes melitus. Kenapa hal tersebut dapat terjadi?
Beberapa literatur menyebutkan sekitar 60% penyandang DM mengalami neuropati atau kerusakan saraf yang mengakibatkan penyandang DM mengalami penurunan kemampuan merasakan sensasi nyeri. Penurunan tersebut menyebabkan sinyal alami tubuh terhadap cedera, trauma, atau luka akan berkurang, sehingga kaki berisiko infeksi tanpa disadari. Jika tidak diberikan perawatan dengan baik, maka dapat berujung dengan amputasi. Berikut ini merupakan 8 tips perawatan kaki diabetes yang bisa dilakukan mandiri di rumah:
1.Cek Pulsasi dan Sensasi
Cek pulsasi adalah pengecekan nadi yang ada pada punggung kaki. Jika berdenyut maka dapat dikatakan kaki dalam kondisi baik. Sedangkan cek sensasi atau sentuhan dapat dilakukan dengan menekan telapak kaki menggunakan benda tumpul. Sama seperti cek nadi atau pulsasi, jika kita dapat merasakan sensasi benda yang digunakan untuk menekan, maka dapat disimpulkan kaki dalam keadaan baik.
2. Pemeriksaan Kaki
Penyandang DM berisiko tinggi menderita kerusakan saraf yang ditandai dengan hilangnya sensasi nyeri tanpa disadari, maka wajib bagi penyandang DM untuk mengecek kondisi kaki secara berkala. Hal yang perlu diperhatikan, antara lain: adanya luka, goresan, peradangan atau kemerahan, bengkak, lepuhan atau kalus pada kaki.
3. Membersihkan Kaki
Bersihkan kaki dengan air hangat dan sabun yang mengandung pelembab tinggi. Melansir IDWF Guidelines on the Prevention and Management of Diabetic Foot Disease, suhu air terbaik untuk membersihkan kaki adalah di bawah 37 derajat Celcius, suhu yang biasa kita sebut dengan istilah “suam-suam kuku”. Setelah dibersihkan, gunakan lotion atau petroleum jelly untuk menjaga kaki tetap lemb...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved