Artikel Kesehatan

Mencegah Batu Saluran Kemih dengan Rajin Mengonsumsi Air Putih

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, Ryan Rizqi Putra, S.Ked, Putri Fatimah, S.Ked, Lia Savitri Eka Nur, S.Ked, Hendra Gusmawan, S.Ked

2023-02-27

12592

Mencegah Batu Saluran Kemih dengan Rajin Mengonsumsi Air Putih

Batu saluran kemih merupakan penyakit yang umum terjadi di dunia. Penyakit ini ditandai oleh terbentuknya batu di ginjal dan sering disebut nefrolitiasis. Batu yang terbentuk merupakan akibat dari terdeposisinya komponen kristal seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, kalsium karbonat, magnesium amonium fosfat, asam urat dan sistein.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian pembentukan batu di saluran kemih yaitu pada orang dengan penyakit hipertensi, diabetes, perokok, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol. Selain itu, kebiasaan kurangnya asupan cairan berhubungan langsung dengan pembentukan batu saluran kemih dan merupakan salah satu penyebab paling umum. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai batu saluran kemih, silahkan membaca artikel berikut INI.   

Untuk mencegah penyakit batu saluran kemih, kita dapat menggunakan cara yang efektif dan ekonomis yaitu dengan meningkatkan konsumsi air putih. Dengan meningkatnya asupan air, volume urin akan meningkat dan konsentrasi kalsium dan oksalat dalam saluran kemih akan menurun sehingga dapat menghambat terbentuknya batu. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Curhan dan Taylor yang menyatakan bahwa orang yang mengkonsumsi air lebih dari 2,5 L per hari lebih menurunkan resiko terbentuknya batu di saluran kemih dibandingkan dengan orang mengkonsumsi air kurang dari 1,2 L per hari.

Salah satu jenis batu saluran kemih, yaitu struvit yang disebabkan karena infeksi saluran kemih (ISK) oleh bakteri-bakteri penghasil urease seperti Proteus dan Klebsiella. Bakteri-bakteri tersebut mengurangi derajat keasaman urin sehingga menyediakan lingkungan yang mendukung terjadinya pengendapan mineral pada urin. Studi oleh Benjamin dkk. merekomendasikan wanita pramenopause dengan ISK berulang untuk meningkatkan asupan air minimal 1,5 L per hari untuk...

Benarkah Aktivitas Fisik dapat Meningkatkan Fertilitas Laki-laki?

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), Ahmad Fauzi, S.Ked, Athaya Shauni Hermawan, S.Ked, I Dewa Gede Leonardo, S.Ked

2023-02-27

4455

Benarkah Aktivitas Fisik dapat Meningkatkan Fertilitas Laki-laki?

Infertilitas laki-laki merupakan kasus yang seringkali menjadi masalah bagi pasangan di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 60 hingga 80 juta pasangan di seluruh dunia saat ini menderita infertilitas dan berkaitan dengan laki-laki. Namun sampai saat ini belum ada angka pasti kejadian infertilitas pada laki-laki di Indonesia. Fungsi reproduksi laki-laki dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yang dipengaruhi oleh stresor psikososial, diet, dan faktor gaya hidup lain yang dapat berpengaruh ke sistem hormon reproduksi.

Manfaat Aktivitas Fisik terhadap Fertilitas

Aktivitas fisik, termasuk di dalamnya latihan fisik dan olahraga, merupakan bagian dari perilaku hidup sehat. Aktivitas fisik memang dapat bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular, endokrin, metabolisme, dan neurologis. Meski demikian, aktivitas fisik yang berlebihan dan terlalu intens dapat membahayakan kesehatan, termasuk fertilitas. Dengan melakukan aktivitas fisik yang cukup, kemampuan seksual dan spermatogenesis laki-laki dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Latihan fisik yang dilakukan dengan baik, benar, terukur, dan teratur dapat mencegah terjadinya disfungsi ereksi dan ejakulasi dini yang merupakan kondisi umum penyebab gangguan fertilitas pada laki-laki.

 Setelah pubertas, akan dihasilkan hormon reproduksi Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle-Stimulating Hormone (FSH) yang akan membantu testis dalam produksi sperma atau yang biasa disebut spermatogenesis. Spermatogenesis juga dipengaruhi oleh hormon bernama testosteron, yang dapat ditingkatkan dengan aktivitas fisik yang tepat. Meski demikian, latihan fisik yang berat tahap kronik dapat membahayakan alur hormon reproduksi dengan menurunkan kadar hormon testosteron.

Rekomendasi Jenis Aktivitas Fisik untuk Meningkatkan Fertilitas

Aktivit...

Hari Kanker Anak Sedunia: Waspadai Gejala Awal dan Mitosnya

dr. Debora Roselita Karo Sekali, B.MedSc(Hons), dr. Ludi Dhyani Rahmartani, SpA(K)

2023-02-24

3814

Hari Kanker Anak Sedunia: Waspadai Gejala Awal dan Mitosnya

Siapa yang belum tahu bulan Februari adalah bulan apa? Bila jawaban Anda, bulan Februari adalah bulan penuh kasih sayang, itu benar. Tapi apakah Anda juga tahu bahwa pada bulan Februari ini tepatnya pada tanggal 4 dan 15 Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia dan Hari Kanker Anak Sedunia?

World Cancer Day dibentuk oleh sebuah organisasi Union for International Cancer Control (UICC) sebagai bentuk kampanye global untuk menggemakan Close the care gap  yaitu menutup kesenjangan perawatan kanker. Seluruh dunia diharapkan harus memiliki kesadaran atas pentingnya penyamarataan akses perawatan kanker tanpa diskriminasi.

Hari Kanker Anak Sedunia diperingati setiap tanggal 15 Februari dimana pada tahun 2023 ini memiliki tema Better Survival is Achievable #throughtheirhands. Tema ini berfokus pada pemberian penghargaan kepada seluruh keluarga dan tenaga medis atas setiap perawatan yang dilakukan bagi anak dengan kanker serta harapan bagi kelangsungan hidup mereka yang lebih baik.

WHO menyebutkan setiap tahunnya ada 400.000 anak dalam rentang 0-18 tahun yang menderita kanker di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, untuk mendeteksi gejala kanker memiliki tantangannya sendiri. Seringkali, anak dibawa dalam kondisi kanker stadium lanjut. Untuk mengatasi hal ini, berikut beberapa gejala awal kanker pada anak yang patut diwaspadai oleh orangtua.

Gejala umum yang dapat diperhatikan oleh orangtua, antara lain:

1.       Pucat

Seringkali gejala ini sulit dibedakan bila anak memiliki kulit yang putih. Orangtua dapat memperhatikan bahwa anaknya lebih pucat dengan membandingkan kelopak mata atau telapak tangan/kuku anak dengan tangannya sendiri. Gejala pucat sering juga diikuti dengan gejala lemas, mudah letih, lesu, aktivitas yang menurun, dan berkurangnya konsentrasi.

2.      ...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved