Artikel Kesehatan

Manajemen Laktasi untuk Keberhasilan Menyusui

dr. Fhathia Avisha, dr. Endah Setyaningsih, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A

2022-08-03

20447

Manajemen Laktasi untuk Keberhasilan Menyusui

Air susu ibu (ASI) merupakan satu-satunya nutrisi yang tepat untuk bayi karena mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Menyusui dimulai segera setelah lahir kemudian diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu indikator program pemerintah dalam melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 HPK), gerakan ini dimulai dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun.

Menyusui dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak dan melindungi anak dari penyakit, serta menyusui mendorong pertumbuhan yang sehat dan meningkatkan sejak dini perkembangan anak dan mendukung perkembangan otak yang sehat. Menyusui tidak hanya baik untuk bayi, tetapi juga baik untuk ibu. Menyusui dapat melindungi terhadap kejadian perdarahan pasca-melahirkan, depresi pasca melahirkan, penurunan berat badan, kanker ovarium dan payudara, penyakit jantung, hipertensi, dislipidemia dan diabetes tipe 2. Diperkirakan dengan meningkatnya tingkat menyusui dapat mencegah tambahan 20.000 kematian ibu akibat kanker payudara.

Penelitian pada 123 negara menunjukkan bahwa di seluruh dunia 95 % dari bayi pernah mendapat ASI. Namun, tingkat ini sangat bervariasi antara negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan negara-negara berpenghasilan tinggi. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 4 %, atau 1 dari 25 bayi, tidak pernah disusui, sedangkan negara-negara berpenghasilan tinggi, ditemukan 21 % bayi, atau 1 dari 5 bayi, tidak pernah menerima ASI.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif baik faktor internal dari ibu maupun eksternal. Faktor internal antara lain usia ibu, status gizi ibu, dan tingkat pendidikan, sedangkan faktor eksternal adalah pengetahuan tentang ASI eksklusif, tenaga kesehatan dan media massa. Selain itu beberapa alasa...

Menyusui saat Isolasi Mandiri akibat COVID-19

dr. Fhathia Avisha, dr. Endah Setyaningsih, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A

2022-08-02

3683

Menyusui saat Isolasi Mandiri akibat COVID-19

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi karena mengandung semua zat gizi serta faktor bioaktif seperti enzim, hormon, growth factors dan lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Menyusui dimulai segera setelah lahir, kemudian diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu indikator program pemerintah dalam melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 HPK), gerakan ini dimulai dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun.

Saat masa pandemi ini, banyak Ibu yang merasa takut tentang risiko penularan ke bayi saat menyusui. Hal yang perlu diedukasi pada Ibu yaitu tidak hanya tentang risiko penularan COVID-19 ke bayi selama menyusui, tetapi juga risiko kesakitan dan kematian yang berhubungan apabila Ibu tidak menyusui, ketidaksesuaian penggunaan susu formula, dan pentingnya skin-to-skin contact. Skin-to-skin contact secara dini dan tidak terinterupsi, rawat gabung, dan metode kangguru direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), hal ini dapat mempercepat bonding dan meningkatkan keberhasilan menyusui.

Bagaimana menyusui pada ibu yang sedang menjalani isolasi mandiri saat pandemi seperti ini?

Sampai saat ini belum ada bukti penularan COVID-19 secara langsung dari ibu ke anak melalui ASI. Kemungkinan penularan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya dapat melalui kontak langsung dengan droplet (cairan saluran pernapasan) ibu. Sehingga pada ibu yang sedang isolasi mandiri, tetap boleh memberikan ASI dengan memperhatikan prosedur pencegahan penularan.

Mengurangi intensitas menyusui atau memerah dapat menyebabkan turunnya suplai ASI, bayi menunjukkan penolakan ketika diberikan ASI kembali di kemudian hari, dan penurunan imun protektif yang terkandung dalam ASI. Berikut anjuran bagi ibu menyusui yang menja...

Protein Hewani sebagai Zat Gizi Penting bagi Pertumbuhan Anak

dr. Devi Nurfadila Fani, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A

2022-07-26

85334

Protein Hewani sebagai Zat Gizi Penting bagi Pertumbuhan Anak

Tahukah Ayah Bunda, protein hewani sangat berpengaruh terhadap tinggi anak?

Hasil studi menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi dan asupan protein harian anak di usia penting pertumbuhan menunjang penambahan tinggi badan anak di usia sekolah (5-10 tahun). Jika hal ini tidak di perhatikan akan mengakibatkan asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan akan berpotensi melambatnya perkembangan otak. Hal ini berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Kebutuhan asupan protein harian sangat penting diperhatikan untuk tumbuh kembang anak usia pertumbuhan terutama protein hewani.

Protein hewani adalah protein yang berasal dari hewan, meliputi daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging bebek, seafood, serta telur. Keunggulan protein hewani adalah memiliki komposisi asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Selain itu protein hewani juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin B12, vitamin D, DHA (docosahexaenoic acid), zat besi, dan zink. Mikronutrien tersebut memiliki peran penting bagi tubuh, yaitu:

  • Vitamin B12 berperan untuk menjaga kesehatan saraf dan otak serta pembentukan sel darah merah.
  • Vitamin D berperan dalam penyerapan kalsium dan sistem kekebalan tubuh.
  • DHA memiliki peran kesehatan pada otak anak
  • Zat besi yang berperan untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan meningkatkan sistem imun tubuh
  • Zink berperan dalam mendukung system imun tubuh, masa pemulihan, dan baik untuk pencernaan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) no 28 tahun 2019 kebutuhan asupan protein harian anak disesuaikan dengan usia dari anak yaitu usia 6-11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram/hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, dan usia 7-9 ta...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved