
dr. Clara Petrisiela Indah Atmaja, dr. Muhammad Ikhsan, Sp.PD-KKV, FINASIM
2022-06-15
8406
Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan utama seluruh masyarakat penjuru dunia, berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan, namun sesungguhnya menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, maupun ginjal. Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini. Berangkat dari kondisi tersebut, hipertensi sering disebut sebagai ‘Si Pembunuh Senyap’ atau ‘The Silent Killer’.
Pada tanggal 17 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia, dengan harapan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan ancaman bahaya kesehatan dari tekanan darah tinggi yang tidak terkendali, yang dimana tahun ini mengusung tema “Cegah dan Kendalikan Hipertensi untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 tercatat kenaikan angka kejadian kasus hipertensi di Indonesia menjadi 34,11% dari 25,8% pada tahun 2013. Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang terdeteksi > 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan yang berbeda saat pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan dengan menggunakan alat ukur tekanan darah yang sudah tervalidasi.
Hipertensi sendiri terbagi dalam dua kelompok penyebab, yaitu hipertensi primer (esensial) sebanyak 90-95% kasus merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan hipertensi sekunder (5-10%), yaitu tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyebab yang mendasarinya antara lain berhubungan dengan tanda-tanda gangguan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar gondok (tiroid), dan penyakit kelenjar adrenal (sebuah kelenjar di atas ginjal yang bertugas menghasilkan hormon), serta konsumsi obat-obatan tertentu.
Tekanan darah tinggi pada hiperte...

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-06-09
18463
Di Indonesia, penyakit batu saluran kemih (BSK) masih menduduki kasus tersering di antara seluruh kasus di bidang Urologi. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013, prevalensi penyakit BSK sekitar 0,6 % di Indonesia (0,8 % di Jawa Barat) dengan proporsi di rentang usia 55–64 tahun, laki-laki, dan tingkat pendidikan yang rendah masing-masing 1,3 %, 0,8 % dan 0,8 %.1 Menurut Badan Pusat Statistik Kota Depok tahun 2018, populasi Kota Depok sekitar 2,33 juta jiwa dengan 15,65 % usia >50 tahun atau sekitar 364.000 jiwa, yang berarti ada sekitar 29.120 kasus BSK tiap tahunnya.
Penyakit Batu Saluran Kemih
Penyakit BSK didefinisikan sebagai pembentukan batu di saluran kemih yang meliputi batu di ginjal, saluran kemih bagian atas (ureter), kandung kemih (buli), dan saluran kemih bagian bawah (uretra). BSK terjadi karena adanya pengendapan mineral (kristal) yang terdapat di urin dan seiring berjalannya waktu kristal berkumpul sehingga menjadi batu.
Faktor risiko terjadinya pembentukan batu antara lain, terjadinya BSK di usia muda, faktor keturunan, batu asam urat, batu akibat infeksi, hiperparatiroidisme, sindrom metabolik, dan obat-obatan. Sekitar 50% pasien dengan riwayat BSK dapat terjadi kekambuhan setidaknya 1 kali dalam seumur hidup.
Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih
Terapi BSK beragam, mulai dari terapi agar batu dapat keluar secara spontan sampai tindakan pembedahan. Operasi batu pertama yang didokumentasikan adalah operasi terbuka untuk batu kandung kemih yang berasal dari peradaban India, Cina, dan Yunani kuno. Seiring waktu, kemajuan ilmu kedokteran, peralatan medis, sumber energi, pencitraan, dan teknik anestesi telah menghasilkan berbagai pilihan tatalaksana BSK yang minim bahkan tanpa sayatan (minimal invasive). Pilihan tatalaksana tersebut antara lain lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal (extracorporeal shock wave lithotripsy /ESWL), ureteroskopi (URS), retrograde intrarenal surgery (RIRS), d...

dr. Cynthia Centauri, Sp. A
2022-06-08
37973
Pneumonia atau radang paru adalah infeksi saluran pernapasan akut yang menyebabkan kantung udara paru (sel alveoli) yang seharusnya terisi udara justru terisi oleh “nanah” atau cairan. Kondisi tersebut menyebabkan kesulitan napas dan pertukaran oksigen. Nanah atau cairan ini terbentuk akibat proses peradangan yang umumnya dicetuskan oleh infeksi baik virus, bakteri, maupun jamur.
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak. World Health Organization (WHO) melaporkan sebanyak 14% kematian anak usia balita disebabkan oleh pneumonia; pada 2019 tercatat sebanyak 740.180 anak meninggal karena pneumonia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia adalah 2,1% dengan prevalensi tertinggi pada kelompok anak usia 12 hingga 23 bulan.
Pneumonia terjadi akibat kuman masuk ke paru-paru, secara langsung (akibat inhalasi atau aspirasi/terhirup secara tidak sadar) maupun tidak langsung (misalnya akibat penyebaran kuman melalui aliran darah). Kuman akan memicu respon imun tubuh dan menyebabkan proses peradangan. Hal tersebut akan menyebabkan saluran napas bawah terisi sel darah putih, cairan dan sisa sel yang mengganggu proses pertukaran udara dan oksigen dengan karbondioksida.
Kuman penyebab pneumonia bervariasi sesuai usia anak, namun secara umum kuman yang paling sering ditemukan pada berbagai usia antara lain adalah Streptococcus pneumoniae, Adenovirus, Influenza A dan B, Respiratory syncytial virus, dan Haemophilus influenzae (baik tipe B dan non-tipe). 1,4 Sejak terjadinya pandemi COVID19 di dunia pada tahun 2020, virus SARS-CoV-2 juga menjadi salah satu penyebab pneumonia pada anak. Pneumonia bakteri pada anak paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Streptococcus pneumoniae dapat menyebabkan penyakit pneumokokus berupa infeksi berat (sepsis dan meningitis), infeksi telinga tengah/otitis media dan pneumonia.
Faktor risiko terjadinya pneumonia antara lain adalah im...

dr. Clara Petrisiela Indah Atmaja, dr. Muhammad Ikhsan, Sp.PD-KKV, FINASIM
2022-06-15
8406
Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan utama seluruh masyarakat penjuru dunia, berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan, namun sesungguhnya menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, maupun ginjal. Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini. Berangkat dari kondisi tersebut, hipertensi sering disebut sebagai ‘Si Pembunuh Senyap’ atau ‘The Silent Killer’.
Pada tanggal 17 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia, dengan harapan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan ancaman bahaya kesehatan dari tekanan darah tinggi yang tidak terkendali, yang dimana tahun ini mengusung tema “Cegah dan Kendalikan Hipertensi untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 tercatat kenaikan angka kejadian kasus hipertensi di Indonesia menjadi 34,11% dari 25,8% pada tahun 2013. Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang terdeteksi > 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan yang berbeda saat pengukuran di klinik atau fasilitas layanan kesehatan dengan menggunakan alat ukur tekanan darah yang sudah tervalidasi.
Hipertensi sendiri terbagi dalam dua kelompok penyebab, yaitu hipertensi primer (esensial) sebanyak 90-95% kasus merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan hipertensi sekunder (5-10%), yaitu tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyebab yang mendasarinya antara lain berhubungan dengan tanda-tanda gangguan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar gondok (tiroid), dan penyakit kelenjar adrenal (sebuah kelenjar di atas ginjal yang bertugas menghasilkan hormon), serta konsumsi obat-obatan tertentu.
Tekanan darah tinggi pada hiperte...

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-06-09
18463
Di Indonesia, penyakit batu saluran kemih (BSK) masih menduduki kasus tersering di antara seluruh kasus di bidang Urologi. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013, prevalensi penyakit BSK sekitar 0,6 % di Indonesia (0,8 % di Jawa Barat) dengan proporsi di rentang usia 55–64 tahun, laki-laki, dan tingkat pendidikan yang rendah masing-masing 1,3 %, 0,8 % dan 0,8 %.1 Menurut Badan Pusat Statistik Kota Depok tahun 2018, populasi Kota Depok sekitar 2,33 juta jiwa dengan 15,65 % usia >50 tahun atau sekitar 364.000 jiwa, yang berarti ada sekitar 29.120 kasus BSK tiap tahunnya.
Penyakit Batu Saluran Kemih
Penyakit BSK didefinisikan sebagai pembentukan batu di saluran kemih yang meliputi batu di ginjal, saluran kemih bagian atas (ureter), kandung kemih (buli), dan saluran kemih bagian bawah (uretra). BSK terjadi karena adanya pengendapan mineral (kristal) yang terdapat di urin dan seiring berjalannya waktu kristal berkumpul sehingga menjadi batu.
Faktor risiko terjadinya pembentukan batu antara lain, terjadinya BSK di usia muda, faktor keturunan, batu asam urat, batu akibat infeksi, hiperparatiroidisme, sindrom metabolik, dan obat-obatan. Sekitar 50% pasien dengan riwayat BSK dapat terjadi kekambuhan setidaknya 1 kali dalam seumur hidup.
Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih
Terapi BSK beragam, mulai dari terapi agar batu dapat keluar secara spontan sampai tindakan pembedahan. Operasi batu pertama yang didokumentasikan adalah operasi terbuka untuk batu kandung kemih yang berasal dari peradaban India, Cina, dan Yunani kuno. Seiring waktu, kemajuan ilmu kedokteran, peralatan medis, sumber energi, pencitraan, dan teknik anestesi telah menghasilkan berbagai pilihan tatalaksana BSK yang minim bahkan tanpa sayatan (minimal invasive). Pilihan tatalaksana tersebut antara lain lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal (extracorporeal shock wave lithotripsy /ESWL), ureteroskopi (URS), retrograde intrarenal surgery (RIRS), d...

dr. Cynthia Centauri, Sp. A
2022-06-08
37973
Pneumonia atau radang paru adalah infeksi saluran pernapasan akut yang menyebabkan kantung udara paru (sel alveoli) yang seharusnya terisi udara justru terisi oleh “nanah” atau cairan. Kondisi tersebut menyebabkan kesulitan napas dan pertukaran oksigen. Nanah atau cairan ini terbentuk akibat proses peradangan yang umumnya dicetuskan oleh infeksi baik virus, bakteri, maupun jamur.
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak. World Health Organization (WHO) melaporkan sebanyak 14% kematian anak usia balita disebabkan oleh pneumonia; pada 2019 tercatat sebanyak 740.180 anak meninggal karena pneumonia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia adalah 2,1% dengan prevalensi tertinggi pada kelompok anak usia 12 hingga 23 bulan.
Pneumonia terjadi akibat kuman masuk ke paru-paru, secara langsung (akibat inhalasi atau aspirasi/terhirup secara tidak sadar) maupun tidak langsung (misalnya akibat penyebaran kuman melalui aliran darah). Kuman akan memicu respon imun tubuh dan menyebabkan proses peradangan. Hal tersebut akan menyebabkan saluran napas bawah terisi sel darah putih, cairan dan sisa sel yang mengganggu proses pertukaran udara dan oksigen dengan karbondioksida.
Kuman penyebab pneumonia bervariasi sesuai usia anak, namun secara umum kuman yang paling sering ditemukan pada berbagai usia antara lain adalah Streptococcus pneumoniae, Adenovirus, Influenza A dan B, Respiratory syncytial virus, dan Haemophilus influenzae (baik tipe B dan non-tipe). 1,4 Sejak terjadinya pandemi COVID19 di dunia pada tahun 2020, virus SARS-CoV-2 juga menjadi salah satu penyebab pneumonia pada anak. Pneumonia bakteri pada anak paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Streptococcus pneumoniae dapat menyebabkan penyakit pneumokokus berupa infeksi berat (sepsis dan meningitis), infeksi telinga tengah/otitis media dan pneumonia.
Faktor risiko terjadinya pneumonia antara lain adalah im...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved