(021) 50829292 (IGD) (021) 50829282 Pencarian

Bicara Awam Bicara Sehat : Batu Ginjal menyebabkan Gagal Ginjal, Benarkah?

RS Universitas Indonesia (RSUI) kembali menggelar rangkaian seminar awam dengan tajuk utama: “Batu Ginjal menyebabkan Gagal Ginjal, Benarkah?”. Seminar ini juga diselenggarakan untuk memperingati hari ginjal sedunia yang diperingati pada tanggal 7 Maret 2024 lalu.

Ginjal merupakan salah satu organ sangat penting yang berfungsi menyaring darah hingga mengendalikan keseimbangan air di dalam tubuh. Ketika fungsi ginjal terganggu akibat penyakit ginjal tertentu, kinerja berbagai organ tubuh akan bermasalah. Beberapa jenis penyakit ginjal yang umum terjadi diantaranya infeksi ginjal, batu ginjal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronis, nefropati diabetik, tumor ginjal, dan sebagainya. Penyakit ginjal yang dibiarkan atau tidak diobati dengan tepat akan menyebabkan kerusakan permanen pada ginjal hingga dapat membahayakan nyawa penderitanya.

Seminar Awam Bicara Sehat ini hadir untuk memberikan pengetahuan dan informasi seputar isu yang diangkat. Seminar ini dimoderatori oleh Ns. Astutiningrum Puspa Damayanti, S.Kep yang merupakan Head Nurse di Instalasi Dialisis RSUI.

Narasumber pertama dalam seminar ini yaitu dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD yakni seorang dokter spesialis penyakit dalam di RSUI. Dokter Hafiz membawakan materi dengan tema “Gagal ginjal di usia muda, mengapa dapat terjadi?”. Dokter Hafiz mengawali materi dengan menjelaskan fungsi ginjal, diantaranya membuang sisa metabolisme, membuang kelebihan air dan ion, membuang panas tubuh, merangsang produksi sel darah merah, memproduksi vitamin D, serta menjaga keseimbangan kalsium dan tulang. Fungsi ginjal dapat kita nilai dengan merujuk pada Laju Filtrasi Glomerular, yaitu nilai yang menunjukkan fungsi ginjal yang dihitung berdasarkan nilai kreatinin (melalui pemeriksaan laboratorium). Laju ini juga dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin.

Gagal ginjal bisa terjadi karena ada kerusakan pada struktur ginjal sehingga mengakibatkan fungsinya menurun, baik secara mendadak (akut) maupun menahun (kronik). Laju filtrasi glomerular terbagi menjadi 5 stadium, yaitu stadium 1 (≥ 90 ml/min/1,73 m3), stadium 2 (60-89 ml/min/1,73 m3), stadium 3 (30-59  ml/min/1,73 m3), stadium 4 (15-29 ml/min/1,73 m3), dan stadium 5 (<15 ml/min/1,73 m3). Fungsi ginjal dianggap mengalami penurunan jika laju filtrasi glomerularnya berada di bawah 60 ml/min/1,73 m3. Sementara pada gagal ginjal stadium 5 sudah disarankan untuk melakukan terapi pengganti ginjal.

Dokter Hafiz kemudian memaparkan prevalensi kejadian gagal ginjal. Sebanyak 1 dari 10 orang di dunia mengalami gagal ginjal atau sebesar 850 juta lebih penduduk. Gagal ginjal diprediksi menjadi penyebab kematian ke 5 pada tahun 2040. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, kejadian gagal ginjal paling banyak terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.

Penyebab gagal ginjal diantaranya radang ginjal (berhubungan dengan autoimun), polikistik (berhubungan dengan genetik), gangguan struktur (batu/kista), penyakit diabetes melitus, hipertensi. Penyakit diabetes melitus masih menjadi penyebab nomor 1 terjadinya gagal ginjal. Selain itu terdapat faktor risiko penyakit gagal ginjal bisa terjadi di usia muda yaitu obesitas, gaya hidup genetik, serta gangguan struktur ginjal. Gagal ginjal awalnya tidak bergejala, namun dalam beberapa waktu kemudian dapat muncul gejala dan tanda seperti buang air kecil berbusa dan merah, tekanan darah naik, lemas-letih, mual-muntah, anemia, buang air kecil sedikit, sesak napas, badan bengkak, hingga pingsan.

Pengobatan ginjal tujuannya yaitu bagaimana mencegah penurunan fungsinya, dan kalau fungsinya sudah menurun bagaimana kita cegah agar tidak terjadi perburukan. Penurunan fungsi ginjal dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat, diantaranya hidrasi cukup, diet seimbang dan sehat, pengobatan faktor risiko yang dimiliki (misalnya konsumsi obat diabetes melitus atau hipertensi), serta deteksi dini. Pada pasien yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal, hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya dengan evaluasi rutin dan pengobatan komplikasi, selain itu terdapat pula opsi terapi pengganti ginjal diantaranya hemodialisis (mesin), peritoneal dialisis (rongga perut), dan transplantasi ginjal.

Deteksi dini juga memegang peranan penting dalam mencegah gagal ginjal. Dokter Hafiz berpesan agar kita tidak menyepelekan gejala dan tanda yang dialami, jangan sok tahu, dan jangan menunda-nunda untuk memeriksanya. Deteksi gagal ginjal dapat dilakukan dengan melakukan cek kreatinin dan urinalisis.

Diakhir, dokter Hafiz juga membahas mitos yang banyak beredar di masyarakat yaitu minum obat dapat merusak ginjal. Beliau mengatakan minum obat mungkin berefek pada fungsi ginjal namun ini dapat dikontrol. Sementara jika kita sakit dan menghindari minum obat, maka pasti fungsi ginjal akan rusak dan ini tidak dapat dikontrol.

Narasumber kedua dalam seminar ini yaitu dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, Sp.U, FICS yakni seorang dokter spesialis urologi di RSUI. Dokter Dyandra membawakan materi dengan tema “Tangani batu ginjal sebelum terlambat.” Dokter Dyandra mengatakan bahwa pembentukan batu saluran kemih dapat terjadi di beberapa titik saluran kemih, diantaranya dapat berada di ginjal, ureter, atau uretra. Batu saluran kemih umumnya tidak menimbulkan nyeri jika ukurannya masih kecil. Jika ukuranya sudah besar dan sudah menyumbat saluran, barulah bergejala. Sumbatan akan menghambat aliran urin, lalu meningkatkan tekanan pada ginjal sehingga menimbulkan nyeri.

Batu ginjal terbentuk dari garam dan mineral dalam ginjal, yang akhirnya memadat dan mengeras. Batu ini dapat terjadi akibat peningkatan kadar zat pembentuk kristal seperti kalsium, oksalat, dan asam urat. Selain itu terdapat faktor pendukung terbentuknya batu ginjal, seperti sering menahan kencing, kurang minum air (dehidrasi), serta kadar garam yang tinggi dalam urin. Peningkatan kadar zat pembentuk kristal bisa terjadi karena faktor genetik dan kebiasaan konsumsi makan yang tinggi garam dan asam urat. Jika batu ginjal tidak ditangani akan menyebabkan gagal ginjal, nyeri berat, atau infeksi. Beberapa tanda dan gejala batu saluran kemih diantaranya muncul nyeri di perut dan paha, mual-muntah, atau demam (jika batu menyebabkan infeksi).

Dokter Dyandra juga menjelaskan beberapa cara pencegahan batu saluran kemih, yaitu cukupi konsumsi air putih sebanyak 2-3 liter sehari, batasi konsumsi garam/natrium (maksimal 2300 mg per hari), hindari kebiasaan merokok dan mium alkohol, konsumsi makan sehat hindari junk food, dan batasi konsumsi purin (biasanya ada di daging merah). Konsumsi daging merah boleh saja, namun frekuensinya jangan terlalu sering dan dalam porsi yang sesuai.

Terdapat beberapa metode penanganan batu saluran kemih, diantaranya (1) RIRS (Retrograde Intrarenal Surgery), metode ini menggunakan teropong yang masuk ke saluran kemih, batu dihancurkan dengan laser, tidak memerlukan sayatan, dan termasuk tindakan minimal invasif; (2) PCNL (Percutaneous nephrolithotomy) metode ini dapat dipilih jika ukuran batunya lebih besar, dengan menggunakan sayatan kecil pada bagian pinggang untuk menghancurkan batu; (3) URS (Ureterorenoscopy) metode ini biasanya digunakan bagi batu saluran kemih bagian atas; (4) ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy), metode ini cocok untuk batu berukuran kecil yang dihancurkan dengan gelombang kejut, tindakan ini tidak perlu dibius, dan durasinya hanya 1 jam sehingga tidak membutuhkan rawat inap, batu dapat dikeluarkan lewat urin.

Antusiasme peserta sangat tinggi, dengan jumlah peserta sebanyak 150 orang, dan juga berbagai pertanyaan yang muncul pada seminar ini. Salah satu pertanyaannya yaitu bagaimana cara memeriksa adanya batu saluran kemih dan apakah bisa sembuh tanpa operasi. Dokter Dyandra menjawab bahwa penanganan batu ginjal tergantung pada kondisi pasien dan karakteristik batunya, ini merupakan 2 komponen utama. Kondisi pasien dapat dipertimbangan dari segi apakah pasien memiliki komorbiditas, obat yang dikonsumsi, serta melihat bagaimana fungsi ginjalnya. Selain itu prefrensi pasien juga turut menentukan tindakan yang akan dipilih. Kemudian dari segi karakteristik batu dapat diketahui dengan melakukan CT scan, sehingga dapat mengetahui ukuran batu, jumlah batu, letak pastinya, serta konsistensi/kekerasan batunya. Konsistensi batu yang keras akan memengaruhi metode yang dipilih. Tidak semua batu harus dioperasi, baik yang minimal invasif atau terbuka. Di RSUI sudah jarang operasi batu saluran kemih terbuka. Batu yang berukuran kecil dan letaknya di saluran kemih tanpa keluhan nyeri dan infeksi, pasien dapat mengonsumsi obat saja. Obat ini bukan untuk menghancurkan batu tapi membantu mengeluarkannya lewat urin. Saat ini belum ada obat atau suplemen yang bisa menghancurkan batu.

RSUI berharap kegiatan Seminar Awam Bicara Sehat Virtual ini dapat terus hadir sebagai salah satu upaya promotif dan preventif kepada masyarakat luas. Untuk mendapatkan informasi terkait pelaksanaan seminar Bicara Sehat selanjutnya dapat dipantau melalui website dan media sosial RSUI.

Siaran ulang dari seminar awam ini dapat juga disaksikan di channel Youtube RSUI pada link berikut https://youtube.com/live/G_bLOtG8q7o?feature=share . Sampai bertemu kembali di ajang berikutnya!

Lampiran Berita Terkait: