
dr. Gisela Haza Anissa, Sp.M dan dr. Syska Widyawati, Sp.M(K), M.Pd.Ked
2022-03-04
7766
Perubahan pada penglihatan yang mungkin muncul jika mengalami katarak yaitu pandangan buram, kesulitan membaca, pandangan ganda, sensitif terhadap cahaya terang misalnya lampu dari mobil di malam hari, dan kesulitan melihat di malam hari. Katarak biasanya tidak menimbulkan nyeri tetapi kondisi sensitif terhadap cahaya dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Saat mengalami katarak, lensa akan tetap keruh dan tidak akan kembali jernih seperti semula. Kacamata dan penerangan yang baik akan membantu penglihatan pada fase awal tetapi operasi adalah satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghilangkan katarak.
Operasi katarak adalah salah satu operasi yang sangat aman dan paling sering dilakukan. Proses operasi biasanya dilakukan oleh dokter spesialis mata dengan anestesi lokal. Secara garis besar, operasi akan mengangkat lensa yang keruh dan menggantikannya dengan lensa tanam buatan. Teknik operasi modern yang sering dilakukan untuk operasi katarak disebut sebagai Fakoemulsifikasi. Prosedur operasi akan dimulai dengan membuat luka kecil pada kornea mata agar dapat mencapai lensa yang keruh. Kemudian, dokter operator akan menghancurkan lensa menjadi beberapa bagian menggunakan alat yang mengeluarkan gelombang ultrasound. Setelah itu, fragmen lensa akan dihisap dari bola mata dan dimasukkan lensa tanam buatan yang baru.
Fakoemulsifikasi menjadi standar emas operasi katarak karena beberapa keuntungannya. Pertama, keuntungan yang paling penting adalah rehabilitasi visual. Penglihatan akan menjadi lebih baik karena lensa buatan yang ditanamkan dapat memperbaiki kelainan refraksi yang ada pada pasien sebelumnya. Kedua, luka yang kecil biasanya tidak memerlukan jahitan. Ketiga, waktu penyembuhan tidak memakan waktu lama dan kebanyakan pasien merasa mampu beraktivitas kembali setelah 2 hingga 3 hari pasca operasi.
Saat ini, operasi fakoemulsifikasi untuk katarak sudah tersedia di RSUI. Operasi dilakukan oleh dokter operator spesialis mata handal ...

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-03-04
36270
Varikokel merupakan kondisi di mana pembuluh darah sekitar buah zakar (testis) di dalam kantung zakar (skrotum) membesar. Varikokel umumnya dialami oleh pria dewasa sekitar 15 persen dan remaja pria sekitar 20 persen. Pada sebagian penderita, kondisi tersebut tidak menimbulkan gejala sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan (operasi). Namun pada kasus tertentu, pembedahan tetap perlu dilakukan pada penderita varikokel yang mengalami nyeri pada skrotum, terganggunya kadar hormon, ukuran testis yang mengecil pada pemeriksaan berkala dan gangguan kesuburan.
Varikokel dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan. Varikokel derajat pertama adalah pembesaran pembuluh darah testis hanya terbukti dengan perabaan selama manuver Valsava (mengedan). Varikokel derajat kedua, yaitu pembesaran pembuluh darah testis hanya terlihat dengan palpasi pada posisi tegak. Sedangkan varikokel derajat ketiga ditegakkan bila pembesaran pembuluh darah testis terlihat jelas. Kondisi varikokel ini menyebabkan kemandulan atau penurunan kualitas sperma pada pria melalui beberapa cara yaitu: peningkatan suhu testis, peningkatan tekanan dalam testis, kurangnya oksigen karena melemahnya aliran darah, refluks metabolit toksik dari kelenjar adrenal dan kelainan profil hormonal. Kelainan pada sperma dapat berupa oligospermia (kondisi ketika sperma dalam air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi berjumlah sedikit), asthenozoospermia (jumlah sperma dengan motilitas normal kurang dari 40% total sperma yang dikeluarkan), teratozoospermia (sel sperma yang diproduksi mempunyai persentase sperma dengan bentuk yang tidak normal), dan gabungan beberapa kondisi di atas.
Terapi operatif berupa mikroligasi varikokel dengan bantuan mikroskop diketahui merupakan baku emas dalam penanganan varikokel. Selain dapat mengidentifikasi pembuluh darah yang berukuran sangat kecil, mikroskop juga dapat membantu dokter memisahkan jaringan sekitar seperti pembuluh darah arteri, kelenjar getah bening dan saluran spe...

Ema Fiki Munaya, SKM, MKM; dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR
2022-03-01
20240
Merokok merupakan salah satu perilaku yang berkorelasi dengan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit kardiovaskular. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah sekian lama mengingatkan penggunaan tembakau merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar di dunia, yang telah bertanggung jawab terhadap kematian 8 juta orang per tahun. Merokok bukan hanya membahayakan perokok itu sendiri, tapi juga membahayakan orang yang menghirup asap rokok tersebut atau biasa disebut dengan perokok pasif.
Akhir-akhir ini, muncul tren baru dalam merokok yaitu penggunaan rokok elektrik atau e-cigarettes. Data Amerika Serikat pada 2015 menunjukkan penggunaan rokok elektrik di kalangan siswa sekolah menengah mengalami peningkatan sebesar 900%, dan sebanyak 40% pengguna rokok elektrik berusia muda tidak pernah merokok tembakau biasa. Beberapa alasan mengapa rokok elektrik sangat menarik bagi anak muda adalah pertama, banyak remaja mempercayai bahwa rokok elektrik kurang berbahaya jika dibandingkan dengan rokok biasa. Alasan kedua adalah rokok elektrik dianggap lebih murah jika dibandingkan rokok tradisional. Alasan ketiga adalah cartridge atau kemasan isi ulang rokok elektrik umumnya diformulasikan dengan perasa seperti mentol dan buah-buahan yang menarik bagi para pemuda.
Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan rokok dan menghasilkan aerosol atau campuran partikel kecil di udara. Rokok elektrik dikemas dalam berbagai bentuk dan ukuran. Sebagian besar memiliki baterai, elemen pemanas, dan tempat untuk menampung cairan. Rokok elektrik tersedia dalam bentuk menyerupai rokok biasa, cerutu, pipa, USB flash drive, pena, dan barang sehari-hari lainnya. Perangkat yang lebih besar seperti sistem tangki sehingga tidak terlihat seperti produk tembakau lainnya. Rokok elektrik juga dikenal dengan banyak nama seperti e-cigs, e-hookah, mods, pena vape, vape, dan rokok si...

dr. Gisela Haza Anissa, Sp.M dan dr. Syska Widyawati, Sp.M(K), M.Pd.Ked
2022-03-04
7766
Perubahan pada penglihatan yang mungkin muncul jika mengalami katarak yaitu pandangan buram, kesulitan membaca, pandangan ganda, sensitif terhadap cahaya terang misalnya lampu dari mobil di malam hari, dan kesulitan melihat di malam hari. Katarak biasanya tidak menimbulkan nyeri tetapi kondisi sensitif terhadap cahaya dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Saat mengalami katarak, lensa akan tetap keruh dan tidak akan kembali jernih seperti semula. Kacamata dan penerangan yang baik akan membantu penglihatan pada fase awal tetapi operasi adalah satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghilangkan katarak.
Operasi katarak adalah salah satu operasi yang sangat aman dan paling sering dilakukan. Proses operasi biasanya dilakukan oleh dokter spesialis mata dengan anestesi lokal. Secara garis besar, operasi akan mengangkat lensa yang keruh dan menggantikannya dengan lensa tanam buatan. Teknik operasi modern yang sering dilakukan untuk operasi katarak disebut sebagai Fakoemulsifikasi. Prosedur operasi akan dimulai dengan membuat luka kecil pada kornea mata agar dapat mencapai lensa yang keruh. Kemudian, dokter operator akan menghancurkan lensa menjadi beberapa bagian menggunakan alat yang mengeluarkan gelombang ultrasound. Setelah itu, fragmen lensa akan dihisap dari bola mata dan dimasukkan lensa tanam buatan yang baru.
Fakoemulsifikasi menjadi standar emas operasi katarak karena beberapa keuntungannya. Pertama, keuntungan yang paling penting adalah rehabilitasi visual. Penglihatan akan menjadi lebih baik karena lensa buatan yang ditanamkan dapat memperbaiki kelainan refraksi yang ada pada pasien sebelumnya. Kedua, luka yang kecil biasanya tidak memerlukan jahitan. Ketiga, waktu penyembuhan tidak memakan waktu lama dan kebanyakan pasien merasa mampu beraktivitas kembali setelah 2 hingga 3 hari pasca operasi.
Saat ini, operasi fakoemulsifikasi untuk katarak sudah tersedia di RSUI. Operasi dilakukan oleh dokter operator spesialis mata handal ...

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-03-04
36270
Varikokel merupakan kondisi di mana pembuluh darah sekitar buah zakar (testis) di dalam kantung zakar (skrotum) membesar. Varikokel umumnya dialami oleh pria dewasa sekitar 15 persen dan remaja pria sekitar 20 persen. Pada sebagian penderita, kondisi tersebut tidak menimbulkan gejala sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan (operasi). Namun pada kasus tertentu, pembedahan tetap perlu dilakukan pada penderita varikokel yang mengalami nyeri pada skrotum, terganggunya kadar hormon, ukuran testis yang mengecil pada pemeriksaan berkala dan gangguan kesuburan.
Varikokel dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan. Varikokel derajat pertama adalah pembesaran pembuluh darah testis hanya terbukti dengan perabaan selama manuver Valsava (mengedan). Varikokel derajat kedua, yaitu pembesaran pembuluh darah testis hanya terlihat dengan palpasi pada posisi tegak. Sedangkan varikokel derajat ketiga ditegakkan bila pembesaran pembuluh darah testis terlihat jelas. Kondisi varikokel ini menyebabkan kemandulan atau penurunan kualitas sperma pada pria melalui beberapa cara yaitu: peningkatan suhu testis, peningkatan tekanan dalam testis, kurangnya oksigen karena melemahnya aliran darah, refluks metabolit toksik dari kelenjar adrenal dan kelainan profil hormonal. Kelainan pada sperma dapat berupa oligospermia (kondisi ketika sperma dalam air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi berjumlah sedikit), asthenozoospermia (jumlah sperma dengan motilitas normal kurang dari 40% total sperma yang dikeluarkan), teratozoospermia (sel sperma yang diproduksi mempunyai persentase sperma dengan bentuk yang tidak normal), dan gabungan beberapa kondisi di atas.
Terapi operatif berupa mikroligasi varikokel dengan bantuan mikroskop diketahui merupakan baku emas dalam penanganan varikokel. Selain dapat mengidentifikasi pembuluh darah yang berukuran sangat kecil, mikroskop juga dapat membantu dokter memisahkan jaringan sekitar seperti pembuluh darah arteri, kelenjar getah bening dan saluran spe...

Ema Fiki Munaya, SKM, MKM; dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR
2022-03-01
20240
Merokok merupakan salah satu perilaku yang berkorelasi dengan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit kardiovaskular. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah sekian lama mengingatkan penggunaan tembakau merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar di dunia, yang telah bertanggung jawab terhadap kematian 8 juta orang per tahun. Merokok bukan hanya membahayakan perokok itu sendiri, tapi juga membahayakan orang yang menghirup asap rokok tersebut atau biasa disebut dengan perokok pasif.
Akhir-akhir ini, muncul tren baru dalam merokok yaitu penggunaan rokok elektrik atau e-cigarettes. Data Amerika Serikat pada 2015 menunjukkan penggunaan rokok elektrik di kalangan siswa sekolah menengah mengalami peningkatan sebesar 900%, dan sebanyak 40% pengguna rokok elektrik berusia muda tidak pernah merokok tembakau biasa. Beberapa alasan mengapa rokok elektrik sangat menarik bagi anak muda adalah pertama, banyak remaja mempercayai bahwa rokok elektrik kurang berbahaya jika dibandingkan dengan rokok biasa. Alasan kedua adalah rokok elektrik dianggap lebih murah jika dibandingkan rokok tradisional. Alasan ketiga adalah cartridge atau kemasan isi ulang rokok elektrik umumnya diformulasikan dengan perasa seperti mentol dan buah-buahan yang menarik bagi para pemuda.
Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan rokok dan menghasilkan aerosol atau campuran partikel kecil di udara. Rokok elektrik dikemas dalam berbagai bentuk dan ukuran. Sebagian besar memiliki baterai, elemen pemanas, dan tempat untuk menampung cairan. Rokok elektrik tersedia dalam bentuk menyerupai rokok biasa, cerutu, pipa, USB flash drive, pena, dan barang sehari-hari lainnya. Perangkat yang lebih besar seperti sistem tangki sehingga tidak terlihat seperti produk tembakau lainnya. Rokok elektrik juga dikenal dengan banyak nama seperti e-cigs, e-hookah, mods, pena vape, vape, dan rokok si...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved