
Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K)
2022-02-07
9872
Dunia anak secara alamiah adalah bermain dengan segala keaktifan yang dimiliki. Menjadikan aktivitas fisik, latihan fisik, maupun olahraga sebagai bagian dari keseharian seorang anak tidak hanya menyenangkan bagi mereka, tapi juga menyehatkan. Mendorong anak untuk aktif sejak dini akan menjadikan bergerak sebagai sebuah kebutuhan rutin untuk menjadi sehat, bugar, dan berprestasi sepanjang kehidupan mereka.
Segala kegiatan yang membuat tubuh bergerak dapat digolongkan sebagai aktivitas fisik (physical activity), termasuk di dalamnya adalah latihan fisik (exercise) dan olahraga (sport). Ketiga istilah ini mempunyai dasar persamaan bergerak walaupun berbeda dalam dosis, dan merupakan salah satu modalitas bagi seorang anak untuk mencapai titik kesehatan, menuju kebugaran, dan meraih prestasi. Berbagai upaya promosi kesehatan dirancang untuk dapat meningkatkan sistem kesehatan dan memperluas kesempatan bagi setiap anak untuk menjadi lebih aktif bergerak dan bugar secara fisik sejak dini.
Manfaat Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik bermanfaat bagi pertumbuhan fisik dan mental. Hal ini tentu saja akan memberikan berbagai keuntungan fisik dan psikologis bagi seorang anak, karena dapat mengoptimalkan proses tumbuh kembang dengan meningkatkan kekuatan otot dan tulang, meningkatkan fokus dan kinerja serta pembelajaran skolastik, meningkatkan suasana hati, dan menurunkan risiko beberapa penyakit terkait gaya hidup.
Berkurangnya aktivitas fisik tentu saja akan menurunkan tingkat kebugaran serta akan menimbulkan masalah kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan kebiasaan melakukan latihan fisik secara teratur pada anak. Seorang anak yang aktif akan cenderung tumbuh menjadi aktif pada masa dewasa dan terus menuai keuntungan dari gaya hidup aktif sepanjang hidup mereka. Anak yang terbiasa aktif bergerak sejak dini terbukti lebih terbuka pada pengalaman baru sehingga se...

dr. Yoga Devaera, Sp.A(K), Ema Fiki Munaya, SKM, MKM
2022-02-04
9580
Nutrisi pada masa anak-anak penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang tepat dan untuk mencegah berbagai kondisi kesehatan yang merugikan (Centers for Disease Control and Prevention, 2021). Nutrisi untuk anak usia sekolah menjelang pubertas atau dalam rentang usia 6-12 tahun merupakan topik penting yang jarang dibicarakan. Walaupun memang dalam rentang usia tersebut kurva pertumbuhan anak memang cenderung menurun jika dibandingkan dengan anak dalam satu tahun pertama kehidupannya atau dalam masa pubertas, namun bukan berarti nutrisi anak dalam usia tersebut tidak penting dan dapat diabaikan. Dalam rentang usia ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kebutuhan nutrisi anak, permasalahan nutrisi yang dapat dialami oleh anak, serta kesehatan tulang anak.
Dalam masa pra pubertas atau usia 6-12 tahun, nutrisi anak harus dicukupi sesuai dengan kebutuhanya. Kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi mencakup makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien contohnya adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat yang ideal dikonsumsi anak adalah karbohidrat kompleks, yaitu karbohidrat yang mengalami sedikit pengolahan. Namun sayangnya, di Indonesia kita terbiasa mengonsumsi karbohidrat yang sudah mengalami banyak pengolahan sehingga komponen kompleksnya sudah hilang dan kandungan seratnya rendah.
Karbohidrat kompleks ini bermanfaat untuk menjaga kestabilan hormon insulin dan sebagai sumber serat tubuh. Lemak dan protein juga dibutuhkan oleh anak agar tumbuh optimal. Tidak semua lemak buruk, ada asam lemak esensial sangat dibutuhkan sebagai persiapan masa pubertas. Secara umum, protein terbaik bagi anak usia sekolah adalah protein yang bersumber dari hewan atau disebut protein hewani. Mikronutrien atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit seperti besi, kalsium,selenium, vitamin, dan lain sebagainya harus diberikan dalam jumlah yang cukup. Untuk vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B dan C, akan dibuang...

Andreas Suryo Wijaya, Dhiya Athaullah N.A., dan Kevin Tjoa
2022-02-02
18535
Apakah itu Pemeriksaan Radiologi Röntgen Dada?
Pemeriksaan radiologi Röntgen dada atau atau chest x-ray (CXR) merupakan salah satu pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan. Pemeriksaan ini menggunakan sinar X yang memancarkan radiasi. Pajanan sinar X saat ini dikuatirkan masyarakat akan menyebabkan kanker, terutama kanker paru. Namun, apakah benar demikian?
Mengapa Terjadi Kanker?
Kanker adalah kondisi ketika pembelahan sel tubuh terjadi secara berlebihan dan tidak terkendali. Secara sederhana, sel kanker dapat dianggap sebagai kondisi hilangnya “rem” dan aktifnya “gas” pembelahan sel. Kondisi ini diakibatkan kerusakan materi genetik terutama DNA. Kanker adalah penyakit multifaktorial, artinya disebabkan oleh kombinasi berbagai hal yang mencetuskan kanker. Proses terbentuknya kanker (karsinogenesis) adalah proses kompleks yang melibatkan faktor internal mulai dari imun tubuh, sistem perbaikan DNA, kerentanan genetik, dan peradangan. Faktor eksternal juga berperan seperti zat-zat karsinogen, antioksidan, dan infeksi.
Sinar X dan Kanker
Sinar X adalah sebuah gelombang elektromagnetik berenergi tinggi. Saat mengenai suatu objek (termasuk tubuh manusia), sebagian sinar X diserap oleh tubuh. Sebagai bentuk radiasi, sinar X memiliki sifat karsinogenik. Kerusakan DNA secara signifikan terjadi pada dosis dan lama pajanan tertentu. Pajanan radiasi yang diterima tubuh bergantung dengan sumber radiasi, wilayah geografis, area tubuh yang terpajan, massa tubuh, usia, jenis kelamin, dan banyak hal lainnya.
Radiasi yang dihasilkan CXR berkisar 0,1 mSv atau setara dosis radiasi lingkungan dalam 10 hari. Dosis radiasi pada pemeriksaan radiologi lainnya beragam mulai dari 6,1 mSv pada CT scan dada atau setara dosis 2 tahun, CT scan perut/abdomen sekitar 10 mSv, dan PET scan mencapai 25 mSv atau setara dosis 8 tahun. Namun hingga kini belum diketahui dosis radiasi CXR yang dapat menyebabkan kanker...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K)
2022-02-07
9872
Dunia anak secara alamiah adalah bermain dengan segala keaktifan yang dimiliki. Menjadikan aktivitas fisik, latihan fisik, maupun olahraga sebagai bagian dari keseharian seorang anak tidak hanya menyenangkan bagi mereka, tapi juga menyehatkan. Mendorong anak untuk aktif sejak dini akan menjadikan bergerak sebagai sebuah kebutuhan rutin untuk menjadi sehat, bugar, dan berprestasi sepanjang kehidupan mereka.
Segala kegiatan yang membuat tubuh bergerak dapat digolongkan sebagai aktivitas fisik (physical activity), termasuk di dalamnya adalah latihan fisik (exercise) dan olahraga (sport). Ketiga istilah ini mempunyai dasar persamaan bergerak walaupun berbeda dalam dosis, dan merupakan salah satu modalitas bagi seorang anak untuk mencapai titik kesehatan, menuju kebugaran, dan meraih prestasi. Berbagai upaya promosi kesehatan dirancang untuk dapat meningkatkan sistem kesehatan dan memperluas kesempatan bagi setiap anak untuk menjadi lebih aktif bergerak dan bugar secara fisik sejak dini.
Manfaat Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik bermanfaat bagi pertumbuhan fisik dan mental. Hal ini tentu saja akan memberikan berbagai keuntungan fisik dan psikologis bagi seorang anak, karena dapat mengoptimalkan proses tumbuh kembang dengan meningkatkan kekuatan otot dan tulang, meningkatkan fokus dan kinerja serta pembelajaran skolastik, meningkatkan suasana hati, dan menurunkan risiko beberapa penyakit terkait gaya hidup.
Berkurangnya aktivitas fisik tentu saja akan menurunkan tingkat kebugaran serta akan menimbulkan masalah kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan kebiasaan melakukan latihan fisik secara teratur pada anak. Seorang anak yang aktif akan cenderung tumbuh menjadi aktif pada masa dewasa dan terus menuai keuntungan dari gaya hidup aktif sepanjang hidup mereka. Anak yang terbiasa aktif bergerak sejak dini terbukti lebih terbuka pada pengalaman baru sehingga se...

dr. Yoga Devaera, Sp.A(K), Ema Fiki Munaya, SKM, MKM
2022-02-04
9580
Nutrisi pada masa anak-anak penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang tepat dan untuk mencegah berbagai kondisi kesehatan yang merugikan (Centers for Disease Control and Prevention, 2021). Nutrisi untuk anak usia sekolah menjelang pubertas atau dalam rentang usia 6-12 tahun merupakan topik penting yang jarang dibicarakan. Walaupun memang dalam rentang usia tersebut kurva pertumbuhan anak memang cenderung menurun jika dibandingkan dengan anak dalam satu tahun pertama kehidupannya atau dalam masa pubertas, namun bukan berarti nutrisi anak dalam usia tersebut tidak penting dan dapat diabaikan. Dalam rentang usia ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kebutuhan nutrisi anak, permasalahan nutrisi yang dapat dialami oleh anak, serta kesehatan tulang anak.
Dalam masa pra pubertas atau usia 6-12 tahun, nutrisi anak harus dicukupi sesuai dengan kebutuhanya. Kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi mencakup makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien contohnya adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat yang ideal dikonsumsi anak adalah karbohidrat kompleks, yaitu karbohidrat yang mengalami sedikit pengolahan. Namun sayangnya, di Indonesia kita terbiasa mengonsumsi karbohidrat yang sudah mengalami banyak pengolahan sehingga komponen kompleksnya sudah hilang dan kandungan seratnya rendah.
Karbohidrat kompleks ini bermanfaat untuk menjaga kestabilan hormon insulin dan sebagai sumber serat tubuh. Lemak dan protein juga dibutuhkan oleh anak agar tumbuh optimal. Tidak semua lemak buruk, ada asam lemak esensial sangat dibutuhkan sebagai persiapan masa pubertas. Secara umum, protein terbaik bagi anak usia sekolah adalah protein yang bersumber dari hewan atau disebut protein hewani. Mikronutrien atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit seperti besi, kalsium,selenium, vitamin, dan lain sebagainya harus diberikan dalam jumlah yang cukup. Untuk vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B dan C, akan dibuang...

Andreas Suryo Wijaya, Dhiya Athaullah N.A., dan Kevin Tjoa
2022-02-02
18535
Apakah itu Pemeriksaan Radiologi Röntgen Dada?
Pemeriksaan radiologi Röntgen dada atau atau chest x-ray (CXR) merupakan salah satu pemeriksaan radiologi yang paling sering dilakukan. Pemeriksaan ini menggunakan sinar X yang memancarkan radiasi. Pajanan sinar X saat ini dikuatirkan masyarakat akan menyebabkan kanker, terutama kanker paru. Namun, apakah benar demikian?
Mengapa Terjadi Kanker?
Kanker adalah kondisi ketika pembelahan sel tubuh terjadi secara berlebihan dan tidak terkendali. Secara sederhana, sel kanker dapat dianggap sebagai kondisi hilangnya “rem” dan aktifnya “gas” pembelahan sel. Kondisi ini diakibatkan kerusakan materi genetik terutama DNA. Kanker adalah penyakit multifaktorial, artinya disebabkan oleh kombinasi berbagai hal yang mencetuskan kanker. Proses terbentuknya kanker (karsinogenesis) adalah proses kompleks yang melibatkan faktor internal mulai dari imun tubuh, sistem perbaikan DNA, kerentanan genetik, dan peradangan. Faktor eksternal juga berperan seperti zat-zat karsinogen, antioksidan, dan infeksi.
Sinar X dan Kanker
Sinar X adalah sebuah gelombang elektromagnetik berenergi tinggi. Saat mengenai suatu objek (termasuk tubuh manusia), sebagian sinar X diserap oleh tubuh. Sebagai bentuk radiasi, sinar X memiliki sifat karsinogenik. Kerusakan DNA secara signifikan terjadi pada dosis dan lama pajanan tertentu. Pajanan radiasi yang diterima tubuh bergantung dengan sumber radiasi, wilayah geografis, area tubuh yang terpajan, massa tubuh, usia, jenis kelamin, dan banyak hal lainnya.
Radiasi yang dihasilkan CXR berkisar 0,1 mSv atau setara dosis radiasi lingkungan dalam 10 hari. Dosis radiasi pada pemeriksaan radiologi lainnya beragam mulai dari 6,1 mSv pada CT scan dada atau setara dosis 2 tahun, CT scan perut/abdomen sekitar 10 mSv, dan PET scan mencapai 25 mSv atau setara dosis 8 tahun. Namun hingga kini belum diketahui dosis radiasi CXR yang dapat menyebabkan kanker...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved