
dr. Dyandra Parikesit, B.MedSc, Sp.U
2021-11-03
10891
Kandung kemih merupakan suatu organ di dalam perut bawah setiap orang, ia berfungsi untuk menampung urin dan “memompa” urin keluar pada saatnya. Dalam kesehariannya, organ ini akan terisi secara berkala oleh urin yang diproduksi oleh ginjal dan dialirkan oleh ureter (saluran kemih bagian atas). Pada saat fase pengosongan ini, kandung kemih mengalami relaksasi sehingga tidak ada perasaan ingin berkemih. Namun pada volume tertentu kandung kemih akan terasa sudah penuh dan menginfokan kita untuk ke toilet untuk berkemih. Hal ini disebut fase pengosongan. Pada fase ini otot kandung kemih akan “memeras” isinya sehingga urin dapat dikeluarkan. Seluruh mekanisme diatas memerlukan sistem persyarafan, fungsi kandung kemih, serta saluran kemih yang baik. Gangguan pada salah satu sistem akan berdampak pada efisiensi kandung kemih dalam berfungsi
Kelainan pada kandung kemih terbagi menjadi 3 kelompok besar bergantung pada penyebabnya, yaitu penyebab pada sebelum, saat, dan setelah kandung kemih (supravesika, vesika dan infravesika). Yang dimaksud dengan sebelum kandung kemih adalah segala sesuatu yang memengaruhi fungsi dan kerja dari kandung kemih. Kelompok pertama yaitu gangguan sebelum kandung kemih pada umumnya disebabkan oleh sistem persyarafan mulai dari otak sampai organ tersebut. Gangguan jenis ini sering ditemukan pada pasien dengan diabetes melitus dan pasca stroke. Gangguan kedua yaitu pada kandung kemih dapat terjadi bila terdapat gangguan pada otot atau jaringan pada kandung kemih itu sendiri. Gangguan jenis ini banyak ditemukan pada pasien dengan diabetes melitus serta pasien dengan tumor kandung kemih, batu kandung kemih, trauma, dan sumbatan saluran kemih yang berkepanjangan (pada umumnya pria dengan pembesaran prostat). Kelainan ketiga yaitu gangguan setelah kandung kemih dapat ditemukan pada pasien dengan kelainan saluran pengeluaran urin sehingga meningkatkan tekanan pada kandung kemih, seperti penyempitan dan obstruksi sal...

dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.S
2021-10-28
8989
Sebanyak 4 dari 5 orang di Indonesia tidak mengetahui gejala penyakit stroke. Padahal, penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan sebanyak 713.783 orang terkena stroke. Lebih dari itu, pada populasi penduduk ≥60 tahun, stroke menduduki peringkat pertama penyebab ketergantungan (disabilitas), di atas penyakit jantung, Diabetes Melitus (DM), penyakit sendi, dan cedera. Meskipun demikian, masih ada solusi untuk mengurangi beban masalah tersebut.
Pada dasarnya, stroke terjadi akibat adanya gangguan aliran darah di otak. Bentuknya bisa berupa sumbatan di pembuluh darah yang membuat sebagian sel-sel otak mati (stroke iskemik), atau pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan daerah di sekitarnya terdesak (stroke hemoragik). Kedua jenis ini hanya bisa dibedakan dengan pemeriksaan CT scan atau MRI.
Kerusakan di otak akibat stroke terus berjalan seiring waktu. Semakin cepat mencari pertolongan medis dan dilakukan CT scan atau MRI, semakin cepat bisa diketahui jenis strokenya, semakin cepat mendapat penanganan yang tepat. Dengan demikian, pada penanganan stroke dikenal istilah time is brain karena setiap detik sangat berharga.
Penanganan stroke yang cepat diawali dengan pengetahuan tentang deteksi gejala stroke. Untuk memudahkan hal tersebut, terdapat sebuah singkatan SeGeRa Ke RS, yang penjelasannya sebagai berikut:

dr. M. Hafiz Aini, SpPD, MH, Nur Hasanah, S.Gz
2021-10-25
2848
Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang. Hal ini terjadi ketika pembentukan tulang baru tidak sejalan dengan hilangnya tulang lama. Osteoporosis merupakan proses tulang menjadi keropos, rapuh, dan mudah patah. Osteoporosis seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat seseorang mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang yang dapat terjadi secara spontan. Tidak hanya patah tulang, tanda osteoporosis pada beberapa orang yang sudah berusia tua juga dapat dilihat dari postur tubuh yang membungkuk ke depan. Hal ini terjadi ketika tulang belakang telah rusak, sehingga sulit untuk menopang berat badan.
Berdasarkan data global di dunia, 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 3 perempuan yang berusia di atas 50 tahun berisiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Terdapat beberapa faktor risiko osteoporosis, yaitu kondisi menopause (akibat berkurangnya tingkat hormon estrogen), semakin bertambahnya usia, diet yang tidak sehat, faktor genetik, serta kurangnya aktivitas dan latihan fisik. Patah tulang yang diakibatkan osteoporosis merupakan salah satu penyebab utama timbulnya nyeri, disabilitas jangka panjang, hingga kasus yang fatal.
Osteoporosis seringkali disebut sebagai “silent disease”, karena hilangnya tulang terjadi tanpa adanya gejala bermakna. Hal ini menyebabkan jutaan orang dengan risiko tinggi osteoporosis akan banyak yang tidak terdeteksi, sehingga tidak terobati. Apa yang harus dilakukan untuk melindungi tulang tetap sehat?
Dengan melakukan langkah awal untuk melindungi tulang kita, kita akan mendapatkan masa depan sehat, aktif, dan bahagia. Berikut 4 langkah pencegahan osteoporosis:
1. Lakukan aktivitas dan latihan fisik secara teratur dan terukur
Orang yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi daripada mereka yang lebih aktif. Kombinasi latihan menahan gravitasi (weight b...

dr. Dyandra Parikesit, B.MedSc, Sp.U
2021-11-03
10891
Kandung kemih merupakan suatu organ di dalam perut bawah setiap orang, ia berfungsi untuk menampung urin dan “memompa” urin keluar pada saatnya. Dalam kesehariannya, organ ini akan terisi secara berkala oleh urin yang diproduksi oleh ginjal dan dialirkan oleh ureter (saluran kemih bagian atas). Pada saat fase pengosongan ini, kandung kemih mengalami relaksasi sehingga tidak ada perasaan ingin berkemih. Namun pada volume tertentu kandung kemih akan terasa sudah penuh dan menginfokan kita untuk ke toilet untuk berkemih. Hal ini disebut fase pengosongan. Pada fase ini otot kandung kemih akan “memeras” isinya sehingga urin dapat dikeluarkan. Seluruh mekanisme diatas memerlukan sistem persyarafan, fungsi kandung kemih, serta saluran kemih yang baik. Gangguan pada salah satu sistem akan berdampak pada efisiensi kandung kemih dalam berfungsi
Kelainan pada kandung kemih terbagi menjadi 3 kelompok besar bergantung pada penyebabnya, yaitu penyebab pada sebelum, saat, dan setelah kandung kemih (supravesika, vesika dan infravesika). Yang dimaksud dengan sebelum kandung kemih adalah segala sesuatu yang memengaruhi fungsi dan kerja dari kandung kemih. Kelompok pertama yaitu gangguan sebelum kandung kemih pada umumnya disebabkan oleh sistem persyarafan mulai dari otak sampai organ tersebut. Gangguan jenis ini sering ditemukan pada pasien dengan diabetes melitus dan pasca stroke. Gangguan kedua yaitu pada kandung kemih dapat terjadi bila terdapat gangguan pada otot atau jaringan pada kandung kemih itu sendiri. Gangguan jenis ini banyak ditemukan pada pasien dengan diabetes melitus serta pasien dengan tumor kandung kemih, batu kandung kemih, trauma, dan sumbatan saluran kemih yang berkepanjangan (pada umumnya pria dengan pembesaran prostat). Kelainan ketiga yaitu gangguan setelah kandung kemih dapat ditemukan pada pasien dengan kelainan saluran pengeluaran urin sehingga meningkatkan tekanan pada kandung kemih, seperti penyempitan dan obstruksi sal...

dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.S
2021-10-28
8989
Sebanyak 4 dari 5 orang di Indonesia tidak mengetahui gejala penyakit stroke. Padahal, penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan sebanyak 713.783 orang terkena stroke. Lebih dari itu, pada populasi penduduk ≥60 tahun, stroke menduduki peringkat pertama penyebab ketergantungan (disabilitas), di atas penyakit jantung, Diabetes Melitus (DM), penyakit sendi, dan cedera. Meskipun demikian, masih ada solusi untuk mengurangi beban masalah tersebut.
Pada dasarnya, stroke terjadi akibat adanya gangguan aliran darah di otak. Bentuknya bisa berupa sumbatan di pembuluh darah yang membuat sebagian sel-sel otak mati (stroke iskemik), atau pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan daerah di sekitarnya terdesak (stroke hemoragik). Kedua jenis ini hanya bisa dibedakan dengan pemeriksaan CT scan atau MRI.
Kerusakan di otak akibat stroke terus berjalan seiring waktu. Semakin cepat mencari pertolongan medis dan dilakukan CT scan atau MRI, semakin cepat bisa diketahui jenis strokenya, semakin cepat mendapat penanganan yang tepat. Dengan demikian, pada penanganan stroke dikenal istilah time is brain karena setiap detik sangat berharga.
Penanganan stroke yang cepat diawali dengan pengetahuan tentang deteksi gejala stroke. Untuk memudahkan hal tersebut, terdapat sebuah singkatan SeGeRa Ke RS, yang penjelasannya sebagai berikut:

dr. M. Hafiz Aini, SpPD, MH, Nur Hasanah, S.Gz
2021-10-25
2848
Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang. Hal ini terjadi ketika pembentukan tulang baru tidak sejalan dengan hilangnya tulang lama. Osteoporosis merupakan proses tulang menjadi keropos, rapuh, dan mudah patah. Osteoporosis seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat seseorang mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang yang dapat terjadi secara spontan. Tidak hanya patah tulang, tanda osteoporosis pada beberapa orang yang sudah berusia tua juga dapat dilihat dari postur tubuh yang membungkuk ke depan. Hal ini terjadi ketika tulang belakang telah rusak, sehingga sulit untuk menopang berat badan.
Berdasarkan data global di dunia, 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 3 perempuan yang berusia di atas 50 tahun berisiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Terdapat beberapa faktor risiko osteoporosis, yaitu kondisi menopause (akibat berkurangnya tingkat hormon estrogen), semakin bertambahnya usia, diet yang tidak sehat, faktor genetik, serta kurangnya aktivitas dan latihan fisik. Patah tulang yang diakibatkan osteoporosis merupakan salah satu penyebab utama timbulnya nyeri, disabilitas jangka panjang, hingga kasus yang fatal.
Osteoporosis seringkali disebut sebagai “silent disease”, karena hilangnya tulang terjadi tanpa adanya gejala bermakna. Hal ini menyebabkan jutaan orang dengan risiko tinggi osteoporosis akan banyak yang tidak terdeteksi, sehingga tidak terobati. Apa yang harus dilakukan untuk melindungi tulang tetap sehat?
Dengan melakukan langkah awal untuk melindungi tulang kita, kita akan mendapatkan masa depan sehat, aktif, dan bahagia. Berikut 4 langkah pencegahan osteoporosis:
1. Lakukan aktivitas dan latihan fisik secara teratur dan terukur
Orang yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi daripada mereka yang lebih aktif. Kombinasi latihan menahan gravitasi (weight b...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved