Artikel Kesehatan

Deteksi Dini pada Kanker Prostat, Apa Manfaat dan Tujuannya?

dr. Dyandra Parikesit, B.MedSc, Sp.U

2021-09-07

4171

Deteksi Dini pada Kanker Prostat, Apa Manfaat dan Tujuannya?

Prostat merupakan kelenjar yang dimiliki setiap pria yang berfungsi untuk memproduksi cairan semen yang bermanfaat untuk memberikan nutrisi untuk sperma dan juga sebagai lubrikasi saat ejakulasi. Dengan bertambahnya usia, maka bertambah juga ukuran prostat sehingga terkadang dapat menyebabkan gangguan berkemih, seperti sering ke toilet (siang dan malam), pancaran urin melemah dan terputus-putus, bahkan sampai urin kemerahan (darah) dan infeksi saluran kemih.

Pembesaran pada prostat dapat berupa pembesaran prostat jinak (mayoritas kasus), namun bisa juga merupakan suatu bentuk keganasan prostat. Di dunia, kanker prostat merupakan salah satu kanker terbanyak pada pria. Mayoritas pasien kanker prostat yang didiagnosis dan terapi pada stadium dini, memiliki angka harapan hidup hingga 5 tahun serta kualitas hidup cukup baik. Menurut data dari Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) pada tahun 2020, kanker prostat menempati urutan ke-5 jenis kanker yang paling banyak diderita oleh pria di Indonesia, akan tetapi para penderita tersebut pada umumnya datang dalam kondisi stadium lanjut.

Gejala yang paling sering ditemukan pada pasien dengan stadium awal adalah gangguan berkemih. Namun pada stadium lanjut, keluhannya dapat dirasakan di luar prostat itu sendiri, seperti nyeri tulang, sesak nafas, dan penurunan berat badan. Ukuran prostat tidak secara langsung berhubungan dengan gejala yang dirasakan. Dapat ditemukan ukuran prostat kecil dengan gejala yang berat, namun bisa juga sebaliknya.

Kondisi ini merupakan penyakit menahun yang memiliki beberapa faktor resiko seperti usia yang semakin tua (pria di atas 50 tahun), ras (orang kulit hitam memiliki risiko lebih besar terkena kanker prostat daripada orang dari ras lain), riwayat keluarga (jika saudara sedarah, seperti orang tua, saudara kandung atau anak, telah didiagnosis menderita kanker prostat, risiko seseorang mengalaminya akan meningkat), obesitas (kanker lebih cenderung menjadi lebih agresif ...

Optimalkan Asupan Protein untuk Melawan Kuman

Nur Hasanah, S.Gz

2021-08-18

14349

Optimalkan Asupan Protein untuk Melawan Kuman

Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang berperan penting bagi tubuh, utamanya sebagai zat pembangun tubuh. Semua sel dan jaringan yang ada di tubuh kita mengandung protein, oleh karena itu protein sangat penting untuk pertumbuhan, perbaikan sel-sel dan jaringan tubuh yang rusak, serta mempertahankan fungsi tubuh agar dapat berjalan dengan baik.

Di era pandemi COVID-19 saat ini, nutrisi (termasuk pula) hidrasi yang tepat, sangatlah penting. Orang yang makan makanan seimbang cenderung lebih optimal dalam kesehatannya, dengan sistem kekebalan yang lebih kuat serta risiko penyakit kronis dan penyakit menular yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, misalnya tinggi lemak atau tinggi karbohidrat serta kalori yang tidak adekuat, baik berlebih maupun kurang. Protein menjadi salah satu zat gizi yang berperan dalam membentuk antibodi untuk melawan infeksi. Kekurangan protein berakibat pada terjadinya gangguan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Berdasarkan Data Survei Konsumsi Makanan Individu tahun 2014, secara nasional rerata asupan protein remaja sebesar 59,8 gram per hari, lebih rendah dibandingkan rerata AKP (angka kecukupan protein) yaitu sebesar 67 gram. Hal yang sama juga terjadi pada penduduk usia >55 tahun, yang rerata asupan proteinnya sebesar 55,9 gram per hari, lebih rendah dibandingkan rerata AKP untuk penduduk usia tersebut yaitu sebesar 59,9 gram.

Oleh sebab itu, bagaimana caranya untuk mengoptimalkan asupan protein harian kita? Berikut ini beberapa tipsnya:

1.      Hitung kebutuhan proteinmu dalam sehari

Angka kebutuhan protein tiap individu sebenarnya berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, berat badan, dan aktivitas fisik. Namun jika diperkirakan, kebutuhan protein rata-rata tiap individu yaitu 0,8 –1 g/kgBB atau sekitar 15–20% dari kebutuhan kalori per harinya....

Dok, Apakah Saya Memiliki Batu Saluran Kemih (BSK)?

dr. Dyandra Parikesit, B.MedSc, Sp.U

2021-08-10

33552

Dok, Apakah Saya Memiliki Batu Saluran Kemih (BSK)?

Pernahkah Anda merasakan sakit pinggang hilang timbul yang menjalar (kadang sampai perut, kaki atau kemaluan) dan tidak dipengaruhi oleh perubahan posisi? Mungkin saja, Anda mengalami batu saluran kemih. Batu saluran kemih (BSK) dapat terjadi apabila terdapat deposit mineral yang menumpuk dan mengeras dalam urin yang pekat. Batu ini dapat terjadi di sepanjang saluran ginjal, ureter (saluran kemih atas), kandung kemih, bahkan urethra (saluran kemih bawah). Kandungan mineral dalam urin yang pekat dapat lebih mudah mengalami pengkristalan. Seiring dengan berjalannya waktu, kristal tersebut dapat menjadi semakin banyak dan besar, sehingga tampak seperti batu. Mineral yang terkandung dalam BSK dapat berbeda dan beragam, mulai dari kalsium, asam urat, fosfat, oksalat, atau mineral lainnya.

Batu saluran kemih merupakan penyakit terbanyak di bidang Urologi di Indonesia (utamanya dikarenakan iklim tropis). Riset Kesehatan Dasar 2013 Indonesia melaporkan angka kekerapan (prevalensi) BSK di Indonesia sekitar 0,6%. Beberapa negara di Eropa sendiri melaporkan sekitar 1-20% populasinya memiliki BSK. Laki-laki lebih sering mengalami BSK dibandingkan perempuan yaitu 3:1 dengan puncak kejadian (insidens) terjadi pada usia 40-50 tahun.

Gejala sakit pinggang hilang timbul yang menjalar (kadang sampai perut, kaki atau kemaluan) dan tidak dipengaruhi oleh perubahan posisi, paling sering dirasakan pasien dan membuat pasien akan mencari pertolongan. Yang perlu diperhatikan, ukuran batu tidak memengaruhi derajat nyeri. Batu yang besar bisa tidak menyebabkan gejala, di sisi lain, batu yang kecil namun menyumbat dapat dikeluhkan pasien sebagai nyeri pinggang yang luar biasa. Namun demikian, keluhan seseorang terhadap BSK dapat bervariasi, mulai dari tanpa keluhan, nyeri berkemih, infeksi saluran kemih, buang air kecil (BAK) berdarah, dan tidak dapat berkemih sama sekali. Lebih lanjut bila BSK telah disertai dengan penyulit, maka dapat timbul keluhan lain seperti demam dan s...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved