Artikel Kesehatan

Stunting Adalah Masalah Kita

dr. Astuti Giantini, SpPK(K), MPH – Direktur Utama RSUI

2021-05-21

8649

Stunting Adalah Masalah Kita

Stunting adalah kondisi di mana seorang anak mempunyai tinggi badan di bawah rata-rata, yaitu lebih rendah dua standar deviasi dari usianya pada grafik pertumbuhan standar. Kondisi tersebut merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan anak yang ditandai dengan perawakan pendek. Masalah yang terjadi akibat stunting bukan hanya sekedar perawakan yang pendek. Dari segi kesehatan, stunting menimbulkan komplikasi jangka pendek dan jangka panjang, di antaranya adalah perkembangan fisik anak, gangguan kognitif, gangguan mental-tingkah laku, kualitas kesehatan yang rendah, dan risiko penyakit degeneratif saat usia dewasa, seperti diabetes melitus, penyakit jantung dan gagal ginjal. Dari segi sosio-ekonomi, stunting memberikan dampak berkurangnya kualitas dan produktivitas individu hingga risiko mengalami kemiskinan yang lebih tinggi.

Stunting merupakan masalah global yang serius. Saat ini diperkiraan telah terjadi pada lebih dari 160 juta anak usia balita di seluruh dunia dan jika tidak jika tidak ditangani dengan baik, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada menambahan 127 juta anak stunting di dunia. Angka tersebut merupakan masalah besar karena menjadi ancaman terhadap kesejahteraan dan ketahanan nasional jangka panjang. Angka stunting di Indonesia tahun 2018 adalah 30,8% dari jumlah balita, atau diderita satu dari tiga balita. Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019, angka ini menurun menjadi 27,7%. Walaupun terdapat penurunan, namun angka ini masih mengkhawatirkan jika mengingat sumber daya paling berharga bagi suatu negara adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Stunting disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dicetuskan pada berbagai masa pertumbuhan, dari sejak sebelum kehamilan (masa pra-konsepsi), masa pembuahan, masa kehamilan, hingga usia balita dan usia sekolah. Stunting sangat berhubungan dengan kekurangan nutrisi dalam jangka waktu lama ataupun penyaki...

Tetap Sehat saat Hamil dan Menyusui di Bulan Puasa

dr. Allan Taufiq Rivai, Sp.OG

2021-04-23

7316

Tetap Sehat saat Hamil dan Menyusui di Bulan Puasa

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban umat Islam. Meskipun diperkenankan mengganti puasanya di hari lain atau membayar fidyah, sebagian besar ibu hamil dan menyusui nyatanya tetap memilih untuk menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Sebelum seorang ibu hamil atau menyusui memutuskan untuk mulai berpuasa, sangat dianjurkan bagi dirinya untuk menginformasikan hal tersebut ke dokter atau petugas kesehatan agar dirinya memperoleh anjuran yang sesuai serta pemeriksaan kesehatan yang diperlukan. Selanjutnya, penting bagi sang ibu untuk tetap memeriksakan dirinya dan kehamilannya secara teratur.

Salah satu tips untuk ibu hamil dan menyusui yaitu dapat mencoba melakukan latihan berpuasa sebelum datangnya bulan Ramadhan dan mencoba untuk melakukan puasa secara bertahap bila tidak mampu langsung berpuasa. 

Dalam menjalankan ibadah puasa, seorang ibu perlu mengonsumsi zat gizi dan kalori yang cukup pada waktu sahur dan berbuka. Diet gizi seimbang diperlukan agar kebutuhan ibu dan janin tetap terpenuhi. Ibu juga tetap perlu mengonsumsi suplemen dan vitamin yang diresepkan dokter. Ibu dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kandungan energinya dilepas secara perlahan (makanan dengan indeks glisemik rendah) di waktu sahur, seperti pasta berbahan dasar gandum, roti gandum, sereal berbahan dasar gandum, oatmeal dan kacang-kacangan.

Pada saat berpuasa, ibu perlu mewaspadai terjadinya dehidrasi. Rasa haus atau warna urin yang gelap merupakan tanda awal terjadinya dehidrasi. Gejala lainnya adalah pusing, kelelahan, mulut kering, atau frekuensi berkemih yang sangat jarang. Jika seorang ibu merasa pusing yang berat atau badannya terasa lemah, yang tidak berkurang dengan istirahat, sebaiknya puasanya dibatalkan dan sang ibu segera mengonsumsi cairan dan makanan dalam jumlah cukup serta mengabari petugas kesehatan.

Untuk menurunkan risiko terjadinya dehidrasi, ada beberapa hal yang dapat ibu lakukan:

  1. Minum cukup air ...

Ketika Kesepian Menjadi Musabab Munculnya Kecanduan: “The Rat Park Experiment”

Ns. I Gusti Jayanti (Juara 1 Article Contest HUT Ke-2 RSUI)

2021-03-12

6428

Ketika Kesepian Menjadi Musabab Munculnya Kecanduan: “The Rat Park Experiment”

Pernahkah kamu merasa sangat menginkan sesuatu dan tidak bisa menahan diri untuk memiliki atau menikmatinya? Mungkin hal tersebut adalah sebuah pertanda bahwa kamu sedang mengalami kecanduan. Secara luas kecanduan berarti sebuah kondisi ketergantungan baik secara fisik maupun mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi seseorang yang mengalaminya. Kecanduan dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya hanya demi kesenangan sesaat yang dapat memiliki efek negatif dalam jangka waktu panjang.

Kecanduan tidak melulu tentang penggunaan obat-obatan terlarang. Lebih luas lagi tanpa kita sadari, kecanduan berkembang di kehidupan sehari-hari yang awam kita sebut dengan ketagihan, misalnya tidak bisa berhenti menonton drama korea, berbelanja, minum kopi, merokok, atau bahkan tidak bisa berhenti makan. Jika ditanya mengapa ada orang kecanduan minum kopi, maka dengan mudah kita dapat menjawab karena di dalam kopi terdapat zat adiktif yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Namun, apakah kita pernah berpikir mengapa ada orang yang sama-sama minum kopi, dimana satu orang tetap kecanduan atau ketagihan sementara yang lain tidak?

Hal ini secara sederhana dijelaskan dalam sebuah eksperimen yang bernama “Rat Park Experiment”. Pada tahun 1970-an sebuah penelitian yang dipimpin Bruce K. Alexander melakukan sebuah eksperimen dimana ada seekor tikus ditempatkan dalam sebuah kandang sepi yang di sana sudah diletakkan dua wadah air, satunya adalah air biasa dan satu lagi adalah air dengan campuran heroin. Seperti yang diduga, tikus tersebut ketagihan air dengan campuran heroin dan meninggal karena overdosis. Percobaan selanjutnya, sekelompok tikus kemudian ditempatkan bukan lagi di sebuah kandang yang sepi, melainkan di sebuah taman lengkap dengan alat bermain atau rat park dimana para tikus dapat berinteraksi satu sama lainnya. Alhasil, tikus-tikus yang ditempatkan di rat park

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved