Artikel Kesehatan

Waspada, Pneumonia Mengintai Penderita Diabetes

dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D., Sp.P(K), FAPSR

2023-04-28

30226

Waspada, Pneumonia Mengintai Penderita Diabetes

Diabetes merupakan penyakit sistemik yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh sehingga terjadi peningkatan risiko infeksi dan komplikasi, salah satunya adalah pneumonia. Pneumonia merupakan radang paru akibat infeksi kuman seperti bakteri dan virus. Komplikasi ini dapat dicegah dan ditangani dengan cara menjaga kadar gula darah tetap normal, menjaga kebersihan tubuh, menjaga berat badan ideal, melakukan vaksinasi, dan konsisten beraktivitas fisik seperti olahraga.

Mengapa Penderita Diabetes Mengalami Penurunan Daya Tahan Tubuh?
Diabetes terjadi akibat gangguan fungsi insulin pankreas untuk menjaga kadar gula darah. Insulin pada kondisi sehat diproduksi pankreas dan berfungsi untuk mengantarkan gula dalam darah ke dalam sel sehingga sel mendapatkan energi untuk melakukan metabolisme. Kegagalan fungsi insulin atau kerusakan pankreas dapat terjadi akibat akumulasi lemak tubuh berlebih, misalnya pada orang obesitas. Hal tersebut mengakibatkan hiperglikemia, yaitu kadar gula darah tinggi. Kondisi ini berbahaya bagi tubuh karena gula darah tinggi mengakibatkan proses radang khususnya di sel lapisan pembuluh darah.
Proses radang yang dipicu oleh kadar gula yang tinggi dapat terjadi di seluruh tubuh, termasuk pada pembuluh darah kecil organ vital seperti paru, sistem saraf, mata, ginjal, serta jari-jari tangan dan kaki. Proses radang yang berlebihan tersebut mengakibatkan ketahanan sel menurun sehingga perlindungan terhadap kuman berkurang. Oleh karena itu, peradangan berlebihan mengakibatkan sel daya tahan tubuh tidak berfungsi normal; alih-alih melindungi, sel tersebut justru mengakibatkan proses kerusakan di dalam tubuh. Akibatnya, penderita diabetes terutama dengan kadar gula darah tinggi dan tidak terkontrol rentan mengalami infeksi yang dapat ditularkan dari lingkungan sekitar.

Apa Saja Dampak Merugikan Pneumonia bagi Penderita Diabetes?
Radang paru akibat pneumonia mengakibatkan gangguan pada alv...

Sering Berkendara Motor, Apakah Menyebabkan Disfungsi Ereksi?

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc., Sp.U, FICS, Fakhri Rahmadiansyah, Muhammad Fakhri Prayitno, Iffatul Faizah

2023-04-28

7318

Sering Berkendara Motor, Apakah Menyebabkan Disfungsi Ereksi?

Disfungsi ereksi (DE) adalah masalah kesehatan masyarakat global yang mempengaruhi beragam aspek kehidupan penderitanya, seperti: kualitas hidup, hubungan interpersonal, pekerjaan, dan sosial. Pengemudi kendaraan umum dan semua pengendara sepeda motor merupakan kelompok berisiko tinggi yang dapat mengalami disfungsi ereksi. Secara global, prevalensi disfungsi ereksi pada populasi umum berkisar antara 15% hingga 66,9% di berbagai negara di dunia.

Seseorang dikatakan mengalami disfungsi ereksi ketika orang tersebut kesulitan mencapai ereksi atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seks secara memuaskan. Di sisi lain, ereksi dapat terjadi berkat berbagai sistem yang terkoordinasi dengan baik. Perlu diketahui pula bahwa disfungsi ereksi dapat dibagi menjadi 2 kategori umum berdasarkan mekanisme terjadinya menurut International Society of Impotence Research yaitu organik dan psikogenik. Organik berarti terdapat gangguan pada pembuluh darah di daerah penis, gangguan pada persarafan, dan gangguan pada struktur anatomi. Sementara faktor psikologis lebih banyak behubungan dengan Kesehatan mental seseorang dan tingkat stres yang dialaminya.

Terdapat berbagai kondisi yang dapat meningkatkan terjadinya disfungsi ereksi. Berdasarkan penelitian, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya disfungsi ereksi, yaitu: 

  • kondisi medis (hipertensi, diabetes melitus, obesitas, penyakit jantung, gejala saluran kemih bagian bawah),
  • gaya hidup tidak sehat (merokok, penggunaan alkohol, aktivitas fisik),
  • penggunaan obat antihipertensi,
  • riwayat cedera perineum (area selangkangan),
  • operasi terutama operasi prostat,
  • faktor psikologis (stres psikologis, peningkatan kecemasan, depresi, masalah interpersonal, kualitas hidup yang buruk),
  • pengendara sepeda motor.

Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan kejadian disfungsi ereksi yang lebih tinggi secara signifikan ...

Upaya Pencegahan dan Penanganan Risiko Penyakit Ginjal Kronik

dr. Endah Setyaningsih, dr. Fhathia Avisha

2023-03-31

30382

Upaya Pencegahan dan Penanganan Risiko Penyakit Ginjal Kronik

Ginjal bekerja mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit dan asam basa serta mengeluarkan sisa metabolisme  tubuh (urea, kreatinin dan asam urat) dan zat kimia asing dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, mereabsorbsi air dan zat-zat tubuh yang dibutuhkan kembali, serta mensekresi kelebihannya sebagai urin Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi setidaknya selama 3 bulan atau lebih. Kerusakan ditandai dengan penurunan fungsi ginjal dan/atau gangguan struktur pada ginjal. Laju filtrasi glomerular (LFG) dibawah 60 mL/min/1.73 m2 menunjukan telah terjadi penyakit ginjal kronik.

Prevalensi penyakit ginjal kronik (PGK) semakin meningkat, pada tahun 2040 diproyeksikan jika PGK menjadi salah satu penyebab kematian tertitnggi di dunia.  Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 didapatkan pravalensi Penyakit Ginjal Kronik di Indonesia sebesar 0,5%. Penyebab kerusakan ginjal pada PGK adalah multifaktorial dan kerusakannya bersifat ireversibel. Berdasarkan penelitian ini didapatkan sebagian besar penderita PGK di Indonesia berjenis kelamin perempuan (60,3%) dan obesitas (25,4%). Komorbid tersering didapatkan yaitu hipertensi (40,8%) dan Diabetes Melitus (3,3%).2 Jika mencapai tahap akhir stadium PGK, penderita PGK akan memerlukan dialisis (cuci darah) dan transplantasi ginjal. 

Berikut berapa upaya pencegahan dan penanganan risiko  penyakit ginjal kronik yaitu:

1.      Lakukan Pemeriksaan Kesehatan

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan:

  •  Pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal yaitu pemeriksaan ureum, kreatinin, dan laju filtrasi ginjal (LFG)
  • Pemeriksaan urin rutin untuk mendeteksi apakah terdapat protein/ albumin pada urin

2.      Kontrol Tekanan Darah

Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko yang menyebabkan penyakit ginjal kronik.  Pasien yang memiliki tekanan darah ...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved