
Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Monica Harvriza
2023-01-27
12322
Pengapuran sendi atau osteoartritis dulu sering disebut sebagai penyakit sendi degeneratif atau penyakit orang tua karena sendi menjadi aus. Namun dalam perkembangannya didapatkan juga adanya proses peradangan yang memengaruhi kerusakan sendi tersebut. Kondisi ini sering terjadi terutama pada sendi penyangga tubuh seperti sendi panggul dan sendi lutut.
Osteoartritis (OA) pada lutut biasanya merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat dari hilangnya kartilago artikular secara progresif dan signifikan yang berakibat pada penurunan fungsi fisik. Gejala klinis yang umum terjadi adalah lutut kaku dan bengkak, nyeri pada sendi setelah lama duduk atau istirahat yang semakin memburuk dengan aktivitas, dan bertambah dari waktu ke waktu.
Terapi lini pertama pada keadaan ini adalah edukasi dan latihan fisik. Edukasi berperan penting dalam upaya memodifikasi perilaku menjadi lebih sehat dan aktif untuk mencegah tingkat keparahan osteoartritis. Kombinasi latihan dengan supervisi dokter dan latihan di rumah terbukti memberikan hasil yang baik. Latihan penguatan otot pinggul dalam manajemen konservatif pada penderita OA lutut dapat direkomendasikan.
Rekomendasi Jenis Latihan pada Penderita OA Lutut
Beberapa rekomendasi jenis latihan untuk penderita OA lutut berdasarkan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Bennell dkk,mengevaluasi efek dari pemberian program latihan di rumah selama 12 minggu pada pasien dengan OA lutut kompartemen medial dan menemukan peningkatan kekuatan otot panggul.
Program latihan diberikan dengan intensitas latihan 3 set 10 repetisi, berupa:
A. Gerakan abduksi dan adduksi panggul posisi berbaring miring (dengan manset beban) dan posisi berdiri (dengan tali beban)
B. Gerakan abduksi panggul secara isometrik pada posisi berdiri di dinding dan adduksi isometrik pada posisi duduk (dengan penekanan handuk yang diletakkan di antara paha)
2. Jorge dkk, melaporkan peningkatan k...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Siti Shalihah Suriadiredja
2023-01-27
3082
Osteoporosis tentu bukan hal baru bagi kita. Sebuah kondisi pengeroposan tulang yang menjadi salah satu risiko dari penambahan usia, yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan seorang individu akan mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari. Osteoporosis adalah sebuah kelainan tulang yang mengalami penurunan kepadatan dan kualitas tulang. Seiring tulang menjadi keropos dan rapuh, maka risiko patah tulang juga meningkat. Keadaan ini terjadi secara bertahap tanpa gejala yang jelas sampai keretakan atau patah tulang terjadi. Patah tulang terutama terjadi di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Faktor Risiko dan Skrining Osteoporosis
Risiko osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia dan pulih menjadi makin sulit di kondisi tersebut. Perempuan pasca menopause berisiko tinggi mengalami penyakit ini karena kadar estrogen yang menurun.1 Osteoporosis terjadi pada hampir 1 dari 5 wanita di dunia pada usia lebih dari 50 tahun. Penelitian dari International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia berisiko 4 kali lebih tinggi terkena osteoporosis dibandingkan laki-laki.
Skrining osteoporosis direkomendasikan pada wanita berusia lebih dari 65 tahun dan wanita berusia 50–64 tahun apabila memiliki faktor risiko tertentu. Pemeriksaan yang umum digunakan adalah dual energy x-ray absorptiometry (DXA), sekaligus untuk dapat melihat massa tulang dengan adanya kondisi penipisan tulang (osteopenia), yang merupakan faktor risiko terjadinya osteoporosis di kemudian hari.
Pencegahan Osteoporosis
Beberapa tips mudah dan mampu laksana yang dapat dilakukan untuk mencegah pengeroposan tulang pada usia berapapun, diantaranya adalah:

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Anastasia Feliciana, dr. Grace S. Halim
2023-01-27
5084
Kesehatan mental atlet eSports tidak bisa disamakan dengan individu pada umumnya. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum para atlet eSports bertanding seperti strategi permainan, evaluasi, target, juga pola pikir. Ketika menjelang pertandingan atlet eSports sering mengalami stres, sehingga tak jarang berpengaruh ke kesehatan dan performa dalam bermain.
Para atlet eSports seringkali kurang memperhatikan kesehatan mereka dan terlalu berfokus pada game. Padahal karier para pemain muda eSports bisa dimulai sejak dini, saat mereka sedang dalam masa produktif. Seharusnya sebagai olahraga yang melibatkan fisik, para atlet eSports diharapkan juga selalu menjaga kesehatan dan kebugarannya, baik secara fisik maupun mental.
Masalah Kesehatan Mental pada Atlet eSports
Gangguan tidur, gangguan cemas, burnout, fobia sosial, masalah kepercayaan diri, kesulitan dalam memisahkan permainan dan kehidupan, dan gangguan kesehatan mental lainnya dapat dialami oleh atlet manapun, termasuk atlet eSports. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Smith dkk. Stresor secara signifikan memprediksi fobia sosial, cemas, burnout, kualitas tidur, rasa takut, dan perilaku menghindar. Tidur sendiri memprediksi 33,7% gejala cemas dan depresi, 49,2% depresi berat ,dan 41,4% distress psikologi. Studi ini menyimpulkan kualitas tidur yang buruk dapat menjelaskan gangguan kesehatan mental berat pada atlet eSports.
Burnout ternyata juga secara signifikan memprediksi gejala cemas dan depresi (23,4%), depresi berat (29,2%), dan distres psikologi (17,2%). Kelelahan bahkan menjadi prediktor terkuat terjadinya cemas, depresi berat dan distress psikologi. Lebih lanjut, atlet eSports lebih cenderung mengalami kelelahan oleh karena rerata waktu bermain esports sangat lama, ...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Monica Harvriza
2023-01-27
12322
Pengapuran sendi atau osteoartritis dulu sering disebut sebagai penyakit sendi degeneratif atau penyakit orang tua karena sendi menjadi aus. Namun dalam perkembangannya didapatkan juga adanya proses peradangan yang memengaruhi kerusakan sendi tersebut. Kondisi ini sering terjadi terutama pada sendi penyangga tubuh seperti sendi panggul dan sendi lutut.
Osteoartritis (OA) pada lutut biasanya merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat dari hilangnya kartilago artikular secara progresif dan signifikan yang berakibat pada penurunan fungsi fisik. Gejala klinis yang umum terjadi adalah lutut kaku dan bengkak, nyeri pada sendi setelah lama duduk atau istirahat yang semakin memburuk dengan aktivitas, dan bertambah dari waktu ke waktu.
Terapi lini pertama pada keadaan ini adalah edukasi dan latihan fisik. Edukasi berperan penting dalam upaya memodifikasi perilaku menjadi lebih sehat dan aktif untuk mencegah tingkat keparahan osteoartritis. Kombinasi latihan dengan supervisi dokter dan latihan di rumah terbukti memberikan hasil yang baik. Latihan penguatan otot pinggul dalam manajemen konservatif pada penderita OA lutut dapat direkomendasikan.
Rekomendasi Jenis Latihan pada Penderita OA Lutut
Beberapa rekomendasi jenis latihan untuk penderita OA lutut berdasarkan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Bennell dkk,mengevaluasi efek dari pemberian program latihan di rumah selama 12 minggu pada pasien dengan OA lutut kompartemen medial dan menemukan peningkatan kekuatan otot panggul.
Program latihan diberikan dengan intensitas latihan 3 set 10 repetisi, berupa:
A. Gerakan abduksi dan adduksi panggul posisi berbaring miring (dengan manset beban) dan posisi berdiri (dengan tali beban)
B. Gerakan abduksi panggul secara isometrik pada posisi berdiri di dinding dan adduksi isometrik pada posisi duduk (dengan penekanan handuk yang diletakkan di antara paha)
2. Jorge dkk, melaporkan peningkatan k...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Siti Shalihah Suriadiredja
2023-01-27
3082
Osteoporosis tentu bukan hal baru bagi kita. Sebuah kondisi pengeroposan tulang yang menjadi salah satu risiko dari penambahan usia, yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan seorang individu akan mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari. Osteoporosis adalah sebuah kelainan tulang yang mengalami penurunan kepadatan dan kualitas tulang. Seiring tulang menjadi keropos dan rapuh, maka risiko patah tulang juga meningkat. Keadaan ini terjadi secara bertahap tanpa gejala yang jelas sampai keretakan atau patah tulang terjadi. Patah tulang terutama terjadi di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Faktor Risiko dan Skrining Osteoporosis
Risiko osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia dan pulih menjadi makin sulit di kondisi tersebut. Perempuan pasca menopause berisiko tinggi mengalami penyakit ini karena kadar estrogen yang menurun.1 Osteoporosis terjadi pada hampir 1 dari 5 wanita di dunia pada usia lebih dari 50 tahun. Penelitian dari International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia berisiko 4 kali lebih tinggi terkena osteoporosis dibandingkan laki-laki.
Skrining osteoporosis direkomendasikan pada wanita berusia lebih dari 65 tahun dan wanita berusia 50–64 tahun apabila memiliki faktor risiko tertentu. Pemeriksaan yang umum digunakan adalah dual energy x-ray absorptiometry (DXA), sekaligus untuk dapat melihat massa tulang dengan adanya kondisi penipisan tulang (osteopenia), yang merupakan faktor risiko terjadinya osteoporosis di kemudian hari.
Pencegahan Osteoporosis
Beberapa tips mudah dan mampu laksana yang dapat dilakukan untuk mencegah pengeroposan tulang pada usia berapapun, diantaranya adalah:

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Anastasia Feliciana, dr. Grace S. Halim
2023-01-27
5084
Kesehatan mental atlet eSports tidak bisa disamakan dengan individu pada umumnya. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum para atlet eSports bertanding seperti strategi permainan, evaluasi, target, juga pola pikir. Ketika menjelang pertandingan atlet eSports sering mengalami stres, sehingga tak jarang berpengaruh ke kesehatan dan performa dalam bermain.
Para atlet eSports seringkali kurang memperhatikan kesehatan mereka dan terlalu berfokus pada game. Padahal karier para pemain muda eSports bisa dimulai sejak dini, saat mereka sedang dalam masa produktif. Seharusnya sebagai olahraga yang melibatkan fisik, para atlet eSports diharapkan juga selalu menjaga kesehatan dan kebugarannya, baik secara fisik maupun mental.
Masalah Kesehatan Mental pada Atlet eSports
Gangguan tidur, gangguan cemas, burnout, fobia sosial, masalah kepercayaan diri, kesulitan dalam memisahkan permainan dan kehidupan, dan gangguan kesehatan mental lainnya dapat dialami oleh atlet manapun, termasuk atlet eSports. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Smith dkk. Stresor secara signifikan memprediksi fobia sosial, cemas, burnout, kualitas tidur, rasa takut, dan perilaku menghindar. Tidur sendiri memprediksi 33,7% gejala cemas dan depresi, 49,2% depresi berat ,dan 41,4% distress psikologi. Studi ini menyimpulkan kualitas tidur yang buruk dapat menjelaskan gangguan kesehatan mental berat pada atlet eSports.
Burnout ternyata juga secara signifikan memprediksi gejala cemas dan depresi (23,4%), depresi berat (29,2%), dan distres psikologi (17,2%). Kelelahan bahkan menjadi prediktor terkuat terjadinya cemas, depresi berat dan distress psikologi. Lebih lanjut, atlet eSports lebih cenderung mengalami kelelahan oleh karena rerata waktu bermain esports sangat lama, ...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved