Artikel Kesehatan

Penurunan Berat Badan Cepat dan Drastis Demi Mengejar Kompetisi Olahraga, Amankah?

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Merryana Seputri, dr. Yohanes K S

2023-01-27

8018

Penurunan Berat Badan Cepat dan Drastis Demi Mengejar Kompetisi Olahraga, Amankah?

Masalah berat badan merupakan salah satu hal yang sering menjadi perhatian khusus. Hal ini karena berat badan atlet sering menjadi persoalan sebelum pertandingan atau kompetisi. 

Dalam persiapan untuk menghadapi suatu kompetisi, setiap atlet telah ditetapkan kelasnya sesuai dengan berat badan yang dimiliki. Namun seringkali terjadi perubahan berat badan atlet selama masa latihan sehingga kelas yang seharusnya ditempati atlet tidak lagi sesuai dengan kelas yang telah ditetapkan sebelumnya. Keadaan ini cenderung mendorong upaya untuk menyesuaikan kembali berat badan atlet (menambah atau mengurangi) walaupun waktu kompetisi sudah dekat.

Masalah Berat Badan pada Beberapa Cabang Olahraga

Selain penggolongan usia dan jenis kelamin, beberapa cabang olahraga seperti pencak silat, taekwondo, tinju, angkat besi, dan berbagai cabang olahraga lainnya memiliki pembagian kelas pertandingan berdasarkan berat badan. Pembagian kelas berat badan ini ditentukan berdasarkan penimbangan badan yang dilakukan satu hari sampai dengan beberapa saat sebelum atlet yang bersangkutan mengikuti pertandingan dan akan dikenakan sanksi diskualifikasi apabila berat badannya tidak sesuai dengan kelas yang diikutinya.

Kecenderungan atlet untuk memilih bertanding pada kelas di bawah berat badannya, membuat atlet dan pelatih melakukan berbagai cara untuk menyesuaikan berat badan atlet.6 Namun demikian, untuk mencapai target tersebut, seringkali atlet melakukan penurunan berat badan yang drastis saat beberapa hari menjelang pertandingan, dan kemudian kembali ke pola makan sebelumnya jika pertandingan telah selesai. Rutinitas ini seringkali menjadi sebuah siklus selama karir sang atlet.

Berdasarkan fenomena tersebut, timbul pertanyaan terkait sejauh mana keamanan tindakan ini bagi kesehatan atlet itu sendiri? Apakah ada bahaya yang dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang akibat melakukan penurunan b...

Benarkah Konsumsi Suplemen Protein akan Membuat Tubuh Lebih Berotot?

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Gilang Pradipta Permana, dr. Daniel

2023-01-25

71599

Benarkah Konsumsi Suplemen Protein akan Membuat Tubuh Lebih Berotot?

Pembentukan otot memang bukan hal yang mudah, sehingga tak jarang seseorang akan berusaha untuk mencoba berbagai cara untuk membentuk otot di tubuhnya dengan maksimal. Sebagian pun masih mempercayai pendapat yang menyampaikan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan massa otot dengan cepat adalah dengan mengonsumsi suplemen protein. Apakah memang benar anggapan yang beredar tersebut?

Protein memang memegang peran penting dalam proses sintesis dan pertumbuhan otot pada tubuh manusia. Salah satunya adalah untuk perbaikan sel otot setelah melakukan latihan fisik. Memang benar bahwa mengonsumsi protein setelah sesi latihan kekuatan dapat meningkatkan pertumbuhan otot, meskipun tidak ada kaitan antara jumlah protein dan jumlah otot yang diperoleh.

Kebutuhan Asupan Protein Untuk Pembentukan Otot

Secara umum, jumlah protein yang direkomendasikan pada individu sehat adalah 0,8 g/kgBB/hari. Berbeda dengan individu yang berlatih menguatkan otot, kebutuhan protein meningkat menjadi berkisar 1,6–2,0 g/kgBB/hari.

Pada individu yang melakukan latihan kekuatan otot, konsumsi protein dari asupan makanan sehari-hari seringkali dirasakan masih kurang, sehingga banyak orang yang mengonsumsi tambahan suplementasi protein seperti whey dan kasein untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terlebih dengan adanya kepercayaan di komunitas olahraga bahwa protein perlu dikonsumsi dalam jumlah besar untuk membangun otot, atau suplemen protein akan membuat pembentukan otot lebih efektif dibandingkan dengan protein yang terdapat dalam makanan.

Suplementasi Protein

Pada saat ini, terdapat berbagai jenis suplemen protein yang beredar di pasaran. Sebagian besar suplemen tersebut dibuat dari sumber y...

Bermain eSports Bebas Cedera

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Anastasia Feliciana, dr. Jason Oscar Y. T

2023-01-25

2311

Bermain eSports Bebas Cedera

eSports atau electronic sports merupakan jenis olahraga berbasis peralatan elektronik yang kian marak menjadi fenomena dunia kompetisi baru. Walaupun masih sarat dengan kontroversi, sampai saat ini sudah banyak genre eSports yang dipertandingkan di dunia baik dalam format turnamen berskala kecil, komunitas, sampai dengan kejuaraan dunia.

Bagi para pemain video game, eSports tentu bukan istilah baru, namun sejatinya masih banyak yang belum mengetahui tentang eSports walaupun sudah disandingkan dengan olahraga populer lain di dunia seperti sepak bola maupun bola basket. Bahkan eSports sudah termasuk menjadi cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.

Dunia kompetisi elektronik dengan karakteristik olahraga terus berkembang secara dinamis, bertanding satu sama lain untuk menjadi juara dengan keterlibatan audiens dan penonton, membuat dunia eSports medicine pun turut makin berkembang dan harus diperkuat.

Mengenal eSports Medicine

eSports medicine adalah sub-bagian dari sports medicine yang berkonsentrasi pada pencegahan, diagnosis, dan tatalaksana cedera akut maupun kronik yang disebabkan oleh eSports. Selain itu esports medicine memperhatikan kesehatan jangka panjang, keamanan, dan kesejahteraan seluruh atlet yang berpartisipasi di dalam olahraga esports, baik amatir maupun profesional, dewasa maupun anak-anak.

Risiko Cedera pada Atlet eSports

Atlet eSports ternyata berpotensi mengalami cedera dengan karakteristik kompetisi yang dilakukan. Sebuah temuan terbaru pada 65 atlet eSports yang berumur 18–22 tahu...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved