
dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-12-19
14973
Prostat adalah salah satu organ pada sistem reproduksi pria yang berfungsi untuk menghasilkan cairan yang membantu sperma dalam pembuahan. Prostat juga dapat mengalami berbagai bentuk perubahan, baik yang bersifat fisiologis (proses penuaan) maupun patologis (keganasan).
Perubahan fisiologis adalah perubahan bentuk prostat yang terjadi secara normal dan bertujuan untuk mendukung fungsi organ ini. Contohnya adalah perubahan bentuk prostat yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Pada pria dewasa muda, prostat biasanya berbentuk seperti bola golf dengan ukuran sekitar 3-4 cm, namun pada pria lanjut usia, prostat akan berkembang menjadi lebih besar. Selain perubahan fisiologis, prostat juga dapat mengalami perubahan patologis atau yang disebabkan oleh penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang prostat adalah kanker prostat.
Pembesaran prostat jinak (PPJ) adalah penyebab paling umum dari obstruksi saluran kemih pada pria dengan pasien hiperplasia prostat jinak (benign prostate hyperplasia / BPH). Meskipun prevalensi PPJ histologis pada seri otopsi telah dilaporkan jauh lebih tinggi, gejala klinis dilaporkan masing-masing pada 25% pria pada usia 55 tahun dan 50% pria pada usia 75 tahun.
Prostat merupakan kelenjar yang dimiliki oleh semua laki-laki dan diketahui bahwa semua prostat akan membesar dengan bertambahnya usia. Dengan bertambahnya volume prostat, maka meningkat pula keluhan yang biasa dikeluhkan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keluhan yang dapat diakibatkan oleh pembesaran prostat jinak (PPJ), silahkan membaca artikel berikut: Apakah Normal Memiliki Gangguan Berkemih pada Pria Usia Lanjut?.
Di sisi lain, tidak semua prostat membesar dengan karakteristik dan arah yang sama, sehingga variasi pembesaran kelenjar ini sangat besar. Prostat memiliki beberapa zona, sepert...

dr. Endah Setyaningsih, dr. Fhathia Avisha, dr. Nia Kurniati, Sp.A(K)
2022-12-01
32918
HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS (acquired immune deficiency syndrome) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. Selama tahun 2021 terdapat 2.485.430 ibu hamil yang diperiksa HIV di Indonesia. Dari pemeriksaan tersebut di dapatkan 4.455 (0,18%) ibu hamil yang positif HIV. Provinsi dengan presentase ibu hamil yang positif HIV tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara sebesar 1,52 %, Papua sebesar 1,25 % dan Maluku sebesar 0,91%.
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat terjadi selama masa kehamilan, saat persalinan, dan selama masa menyusui. Risiko penularan HIV selama kehamilan adalah sebesar 5-10%. Risiko penularan lebih besar didapatkan pada saat persalinan (10-20%) dan menyusui (5-20%), Risiko penularan HIV dari ibu ke anak secara keseluruhan adalah 20-50%.3 Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu seperti jumlah virus dalam tubuh (viral load) dan jumlah sel imun ibu ( sel CD4), faktor bayi atau anak yaitu usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir dan pemberian ASI, dan tindakan persalinan yaitu jenis persalinan, lama persalinan, ketubah pecah dini dan tindakan medis selama membantu proses persalinan meningkatkan risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi. Infeksi HIV pada bayi dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian sehingga berdampak buruk pada kelangsungan dan kualitas hidup anak.
Program pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke anak (PPIA) merupakan upaya terhadap perempuan usia produktif (15-49 tahun) yang terinfeksi atau memiliki risiko terinfeksi HIV untuk tetap terjaga kesehatannya, serta mencegah menularkan infeksi HIV kepada bayi yang dikandung. 4 World Health Organization (WHO) mempromosikan upaya komprehensif dari PPIA, terdiri dari:

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-11-04
81713
Fimosis dan penis mendelep (buried penis) kerap membuat orang tua dan tenaga kesehatan bingung, terutama dalam menentukan terapi terbaiknya. Fimosis diartikan sebagai ketidakmampuan preputium (kulup) untuk ditarik ke belakang glans penis (kepala penis) pada laki-laki yang tidak disunat. Tergantung pada situasinya, kondisi ini dapat dianggap fisiologis (normal) atau patologis (kelainan). Secara fisiologis, atau kongenital, fimosis adalah kondisi normal pada bayi laki-laki yang baru lahir. Dalam 90% kasus, pemisahan alami memungkinkan kulup untuk ditarik pada usia 3 tahun. Namun, fimosis yang bertahan hingga remaja akhir atau dewasa awal belum tentu semuanya abnormal. Di sisi lain, penis mendelep atau buried penis adalah kondisi penis yang berukuran normal, tetapi tersembunyi di bawah kulit perut, paha, atau skrotum (kantung di bawah penis yang menahan buah zakar). Beberapa penyebab paling umum adanya penis mendelep termasuk: 1) Kelainan saat lahir: Ligamen yang menempelkan penis ke struktur di bawahnya mungkin lebih lemah dari biasanya, 2) Obesitas berat: Kelebihan lemak di sekitar perut dan area genital dapat membuat penis tampak tersembunyi, dan 3) Limfedema: Pembengkakan di sekitar area skrotum karena pengumpulan cairan getah bening dapat menyebabkan penis terkubur di dalam jaringan. Bukti telah menunjukkan, bagaimanapun, bahwa resolusi spontan tidak selalu terjadi. Juga, pada pria dan remaja, langkah-langkah seperti diet dan olahraga tidak mungkin efektif.
Fimosis pada umumnya dapat diterapi dengan pengobatan atau sirkumsisi (sunat), beberapa gejala yang membutuhkan sirkumsisi seperti iritasi kulit, infeksi saluran kemih berulang, nyeri berkemih, perdarahan, dan kadang-kadang enuresis atau sulit berkemih. Pada kondisi ISK berulang, seorang anak bahkan dapat terhambat pertumbuhan dan kenaikan berat badannya. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai indikasi sirkumsisi, silahkan membeca artikel kami dengan judul “Sirkumsis...

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-12-19
14973
Prostat adalah salah satu organ pada sistem reproduksi pria yang berfungsi untuk menghasilkan cairan yang membantu sperma dalam pembuahan. Prostat juga dapat mengalami berbagai bentuk perubahan, baik yang bersifat fisiologis (proses penuaan) maupun patologis (keganasan).
Perubahan fisiologis adalah perubahan bentuk prostat yang terjadi secara normal dan bertujuan untuk mendukung fungsi organ ini. Contohnya adalah perubahan bentuk prostat yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Pada pria dewasa muda, prostat biasanya berbentuk seperti bola golf dengan ukuran sekitar 3-4 cm, namun pada pria lanjut usia, prostat akan berkembang menjadi lebih besar. Selain perubahan fisiologis, prostat juga dapat mengalami perubahan patologis atau yang disebabkan oleh penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang prostat adalah kanker prostat.
Pembesaran prostat jinak (PPJ) adalah penyebab paling umum dari obstruksi saluran kemih pada pria dengan pasien hiperplasia prostat jinak (benign prostate hyperplasia / BPH). Meskipun prevalensi PPJ histologis pada seri otopsi telah dilaporkan jauh lebih tinggi, gejala klinis dilaporkan masing-masing pada 25% pria pada usia 55 tahun dan 50% pria pada usia 75 tahun.
Prostat merupakan kelenjar yang dimiliki oleh semua laki-laki dan diketahui bahwa semua prostat akan membesar dengan bertambahnya usia. Dengan bertambahnya volume prostat, maka meningkat pula keluhan yang biasa dikeluhkan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keluhan yang dapat diakibatkan oleh pembesaran prostat jinak (PPJ), silahkan membaca artikel berikut: Apakah Normal Memiliki Gangguan Berkemih pada Pria Usia Lanjut?.
Di sisi lain, tidak semua prostat membesar dengan karakteristik dan arah yang sama, sehingga variasi pembesaran kelenjar ini sangat besar. Prostat memiliki beberapa zona, sepert...

dr. Endah Setyaningsih, dr. Fhathia Avisha, dr. Nia Kurniati, Sp.A(K)
2022-12-01
32918
HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS (acquired immune deficiency syndrome) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. Selama tahun 2021 terdapat 2.485.430 ibu hamil yang diperiksa HIV di Indonesia. Dari pemeriksaan tersebut di dapatkan 4.455 (0,18%) ibu hamil yang positif HIV. Provinsi dengan presentase ibu hamil yang positif HIV tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara sebesar 1,52 %, Papua sebesar 1,25 % dan Maluku sebesar 0,91%.
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat terjadi selama masa kehamilan, saat persalinan, dan selama masa menyusui. Risiko penularan HIV selama kehamilan adalah sebesar 5-10%. Risiko penularan lebih besar didapatkan pada saat persalinan (10-20%) dan menyusui (5-20%), Risiko penularan HIV dari ibu ke anak secara keseluruhan adalah 20-50%.3 Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu seperti jumlah virus dalam tubuh (viral load) dan jumlah sel imun ibu ( sel CD4), faktor bayi atau anak yaitu usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir dan pemberian ASI, dan tindakan persalinan yaitu jenis persalinan, lama persalinan, ketubah pecah dini dan tindakan medis selama membantu proses persalinan meningkatkan risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi. Infeksi HIV pada bayi dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian sehingga berdampak buruk pada kelangsungan dan kualitas hidup anak.
Program pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke anak (PPIA) merupakan upaya terhadap perempuan usia produktif (15-49 tahun) yang terinfeksi atau memiliki risiko terinfeksi HIV untuk tetap terjaga kesehatannya, serta mencegah menularkan infeksi HIV kepada bayi yang dikandung. 4 World Health Organization (WHO) mempromosikan upaya komprehensif dari PPIA, terdiri dari:

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2022-11-04
81713
Fimosis dan penis mendelep (buried penis) kerap membuat orang tua dan tenaga kesehatan bingung, terutama dalam menentukan terapi terbaiknya. Fimosis diartikan sebagai ketidakmampuan preputium (kulup) untuk ditarik ke belakang glans penis (kepala penis) pada laki-laki yang tidak disunat. Tergantung pada situasinya, kondisi ini dapat dianggap fisiologis (normal) atau patologis (kelainan). Secara fisiologis, atau kongenital, fimosis adalah kondisi normal pada bayi laki-laki yang baru lahir. Dalam 90% kasus, pemisahan alami memungkinkan kulup untuk ditarik pada usia 3 tahun. Namun, fimosis yang bertahan hingga remaja akhir atau dewasa awal belum tentu semuanya abnormal. Di sisi lain, penis mendelep atau buried penis adalah kondisi penis yang berukuran normal, tetapi tersembunyi di bawah kulit perut, paha, atau skrotum (kantung di bawah penis yang menahan buah zakar). Beberapa penyebab paling umum adanya penis mendelep termasuk: 1) Kelainan saat lahir: Ligamen yang menempelkan penis ke struktur di bawahnya mungkin lebih lemah dari biasanya, 2) Obesitas berat: Kelebihan lemak di sekitar perut dan area genital dapat membuat penis tampak tersembunyi, dan 3) Limfedema: Pembengkakan di sekitar area skrotum karena pengumpulan cairan getah bening dapat menyebabkan penis terkubur di dalam jaringan. Bukti telah menunjukkan, bagaimanapun, bahwa resolusi spontan tidak selalu terjadi. Juga, pada pria dan remaja, langkah-langkah seperti diet dan olahraga tidak mungkin efektif.
Fimosis pada umumnya dapat diterapi dengan pengobatan atau sirkumsisi (sunat), beberapa gejala yang membutuhkan sirkumsisi seperti iritasi kulit, infeksi saluran kemih berulang, nyeri berkemih, perdarahan, dan kadang-kadang enuresis atau sulit berkemih. Pada kondisi ISK berulang, seorang anak bahkan dapat terhambat pertumbuhan dan kenaikan berat badannya. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai indikasi sirkumsisi, silahkan membeca artikel kami dengan judul “Sirkumsis...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved