Artikel Kesehatan

Mengenal Retinopati Diabetik, Penyebab Kebutaan pada Penyandang Diabetes Melitus

dr. Syaffa Sadida Zahra

2022-06-08

12168

Mengenal Retinopati Diabetik, Penyebab Kebutaan pada Penyandang Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang terjadi akibat gangguan sekresi insulin oleh pankreas dan atau kelainan kerja insulin di organ target. Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah atau disebut sebagai hiperglikemia. (1) DM menjadi salah satu ancaman kesehatan global dan prevalensinya di Indonesia mencapai 8,5% dari total penduduk.

DM akan memberikan dampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia akibat banyaknya komplikasi yang mungkin terjadi. Hal ini membawa kerugian ekonomi bagi penyandang DM dan keluarganya. Komplikasi yang dapat terjadi akibat DM adalah gangguan  pembuluh darah baik pembuluh darah besar (makrovaskular) maupun pembuluh darah kecil (mikrovaskular), dan gangguan di sistem saraf (neuropati). 

Salah satu bentuk komplikasi mikrovaskuler terjadi di organ mata yang disebut sebagai retinopati diabetik (RD). Data menunjukkan satu dari tiga penyandang DM yang tidak terkontrol mengalami RD.(3) RD merupakan kondisi mata pada penyandang DM yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kebutaan akibat kerusakan pembuluh darah retina . 

Penyandang DM >5 tahun akan mengalami peningkatan risiko terkena RD. Pada awal perjalanan RD, penyandang DM tidak mengalami keluhan. Seiring perkembangan penyakit DM, penderita akan mengeluhkan melihat bayangan berbentuk bintik atau garis yang tampak mengambang pada penglihatan (floaters), penglihatan kabur, melihat area gelap pada penglihatan, adanya gangguan penglihatan di malam hari, hingga hilang penglihatan. 

Diagnosis RD dapat ditegakkan melalui pemeriksaan funduskopi. Dari pemeriksaan funduskopi, dapat dilihat adanya titik-titik berwarna kemerahan yang merupakan pembengkakan pembuluh darah berukuran mikro di retina (mikroaneurisma), perdarahan, eksudat (tumpukan lipid dalam retina), dan pembentukan pembuluh darah baru  (neovaskularisasi). Pada tahap lanjut dapat terjadi diabetik makular edema (DME) yang d...

Pentingnya Tidur Cukup untuk Menjaga Imunitas Tubuh dari COVID-19

Ns. Putri Nilasari, SKep, M.Kep dan Stevan Sunarno, SKM, MKKK

2022-06-08

7471

Pentingnya Tidur Cukup untuk Menjaga Imunitas Tubuh dari COVID-19

Apakah akhir-akhir ini Anda sering merasa kesal, tidak dapat berkonsentrasi ketika bekerja, mudah lelah dan tidak bersemangat? Bagaimana pola tidur Anda selama ini? Sebanyak satu dari tiga orang dewasa mengalami pola tidur yang buruk dan mengeluhkan jika pekerjaannya menjadi berantakan. Namun, pola tidur yang buruk tidak hanya dapat berdampak pada konsekuensi akut atau jangka pendek, tetapi juga kronik atau jangka panjang. Kurang tidur secara berulang dapat meningkatkan risiko yang serius seperti obesitas, penyakit jantung koroner dan diabetes, dan hal ini dapat memperpendek usia harapan hidup Anda. Terlebih di masa pandemi COVID-19 ini, kurang tidur dapat melemahkan imunitas tubuh Anda sehingga mempermudah virus menyerang dengan cepat.

Berapa Lama Durasi Tidur yang Dibutuhkan?

Sebagian besar dari kita membutuhkan sekitar 8 jam tidur setiap hari untuk menjaga fungsi tubuh tetap berjalan dengan baik.  Hal ini tergantung dari usia dan aktivitas kerja yang dilakukan sehari-hari. Rekomendasi jumlah jam tidur berdasarkan rentang usia dapat dilihat di Gambar 2.

Berdasarkan Tabel 1 ketika kita masuk usia dewasa (18-60 tahun) direkomendasikan untuk tidur selama 7 jam atau lebih setiap malam, namun yang perlu diperhatikan adalah ketika kita tidak dapat mencapai jumlah minimum tidur dalam sehari, maka kita harus memiliki “utang” tidur di hari selanjutnya. Mengganti utang tidur di akhir pekan dengan tidur seharian bukanlah hal yang bijak dan tidaklah efektif.

Apa yang Terjadi Jika Saya Kurang Tidur?

Gejala paling umum apabila kurang tidur adalah mudah lelah, tidak bersemangat ketika beraktivitas, mudah menguap, dan sulit berkonsentrasi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebanyak 6.000 kecelakaan terjadi setiap tahun akibat mengantuk ketika menyetir kendaraan di jalan raya. Gangguan tidur meningkatkan 36% risiko kanker saluran pencernaan dan meningkatkan ...

Kenali Faktor-Faktor Risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner Sedari Dini

dr. Muhammad Ikhsan, SpPD-KKV, FINASIM

2022-06-08

19491

Kenali Faktor-Faktor Risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner Sedari Dini

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kondisi adanya penyumbatan pada pembuluh koroner jantung (pembuluh darah yang memberikan pasokan darah dan oksigen ke otot jantung) yang disebabkan oleh penumpukan plak lemak atau pengerasan yang berujung pada proses peradangan di dinding pembuluh koroner jantung. Proses ini menyebabkan penyempitan pada pembuluh koroner yang berakibat otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah maupun oksigen yang dibutuhkan. Jika proses penyempitan ini terus berlangsung, pembuluh koroner akan tersumbat total sehingga tercetus kondisi yang dinamakan dengan serangan jantung. 

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019 menyebutkan bahwa penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian di dunia. Sekitar 17,9 juta orang meninggal akibat PJK pada tahun 20191. Angka ini merepresentasikan 32% dari seluruh kematian di dunia. Sedangkan data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia pada tahun 2018, angka kejadian penyakit kardiovaskular terus menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, yang setidaknya melibatkan 15 dari 1000 orang2. Di Indonesia,  PJK merupakan penyebab utama dari seluruh kematian, yaitu sebesar 26,4%, yang mana empat kali lebih tinggi dari angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kanker (6%). Sehingga dengan kata lain, satu dari empat orang yang meninggal di Indonesia disebabkan oleh PJK.

Gejala yang dirasakan akibat PJK cukup bervariasi, yaitu nyeri dada seperti tertimpa beban berat saat aktivitas, sesak nafas, maupun mudah lelah. Namun, kita tidak boleh lengah atau menganggap sepele bilamana tidak ada gejala-gejala tersebut berarti kita aman dari kondisi PJK. PJK dapat ditemukan pada seseorang yang tanpa gejala sekalipun, apalagi kecenderungan penderita PJK yang berusia muda atau produktif semakin meningkat. 

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita PJK, di antaranya: 

Faktor ris...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved