Artikel Kesehatan

SALURI: Deteksi Dini Lupus, Penyakit Seribu Wajah

dr. Fhathia Avisha, dr. Dezy Dwi Putri Aldelya

2022-05-11

41847

SALURI: Deteksi Dini Lupus, Penyakit Seribu Wajah

Menifestasi klinis penyakit lupus juga bisa menyerupai banyak penyakit lain, sehingga penyakit lupus juga dikenal dengan istilah penyakit seribu wajah. Beberapa penderita hanya memiliki sedikit gejala, sementara yang lainnya muncul dengan banyak gejala. Gejala dapat hilang timbul. Pada saat gejala muncul atau bertambah berat (flare) penderita merasa sakit, dan pada saat gejala menghilang (remisi) penderita merasa sehat. Manifestasi klinis LES melibatkan hampir seluruh organ tubuh yaitu muskuloskeletal, manifestasi kulit dan mukosa, ginjal, neuropsikiatri, paru, jantung, pembuluh darah, gastrointestinal (pencernaan) dan hepatik (hati), okular (mata), obstetrik (kandungan), endokrin (hormon) dan hematologik (darah). Hampir 90% penderita lupus menunjukan gejala ruam di kulit, dengan ciri khas ruam kulit yang fotosensitif. Ruam biasanya muncul beberapa hari setelah terpapar sinar ultraviolet dan dapat bertahan hingga tiga minggu. Selain ruam pada kulit, nyeri dan radang pada sendi juga paling sering terjadi. Munculan yang khas adalah nyeri pada banyak sendi yang bersifat simetris, meliput sendi-sendi pada jari-jari dan lutut. Pasien dengan lupus dapat menunjukkan gejala umum meliputi: demam, malaise (tidak enak badan), artralgia (nyeri sendi), mialgia (nyeri otot), sakit kepala, dan kehilangan nafsu makan dan berat badan. Kelelahan nonspesifik, demam, artralgia (nyeri sendi), dan perubahan berat badan adalah gejala paling umum pada kasus baru atau serangan lupus aktif berulang.

Lupus atau Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan suatu penyakit autoimun sistemik akibat tubuh memproduksi antibodi berlebihan yang menyerang sel tubuh sendiri dengan gambaran manifestasi klinis, perjalanan pernyakit, dan prognosis beragam.  Sistem kekebalan tubuh pada pasien penyakit lupus akan mengalami kehilangan kemampuan untuk mengenali sel dan jaringan tubuh sendiri (self).  Kombinasi berbagai faktor dapat meny...

Tetap Aktif dan Bugar saat Berpuasa: Tips dan Rekomendasi

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K)

2022-04-25

5944

Tetap Aktif dan Bugar saat Berpuasa: Tips dan Rekomendasi

Saat ini umat muslim di dunia sedang menjalani ibadah bulan Ramadhan ketiga di masa Pandemi COVID-19. Bukan sesuatu hal yang baru, namun kebiasaan sehat dan aktif yang tercipta karena imbas positif dari pandemi ini harus terus diadaptasikan dalam keseharian baik secara individu maupun di dalam komunitas demi keamanan dan kenyamanan bersama. Apalagi dengan memanfaatkan bulan puasa sebagai momentum untuk menjadikan tubuh lebih sehat dan bugar. Kenapa tidak?

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban bagi umat muslim sehat di dunia untuk menahan diri dari lapar dan dahaga serta menjaga dari perilaku lainnya sesuai tuntunan agama sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari selama 29–30 hari. Umumnya seorang muslim akan menjalankan dua waktu makan utama, makan pertama sesaat sebelum matahari terbit (yaitu makan sahur) dan makan kedua di akhir hari puasa (yaitu makan berbuka puasa). Perubahan pola makan ini juga disertai dengan perubahan pola tidur dan pengurangan aktivitas fisik.

Tidak jarang kinerja seseorang menjadi terganggu di bulan puasa, walaupun sebenarnya berpuasa bukan alasan untuk menjadi malas dan tidak produktif. Merasa tubuh menjadi lebih cepat lelah saat berpuasa adalah sesuatu yang wajar, karena tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola yang terjadi. Hal ini tentu saja harus dapat diatasi agar tidak terjadi terus menerus selama bulan puasa. Menjadi bugar di bulan puasa dengan terus aktif bergerak bukan tidak mungkin dilakukan dan bahkan menjadi sebuah tantangan bagi seseorang yang berpuasa Ramadhan, terutama pada masa pandemi COVID-19 yang belum berakhir hingga kini. Kunci utama sebenarnya adalah berusaha tetap mengatur waktu untuk melakukan aktivitas fisik (physical activity), termasuk di dalamnya latihan fisik (exercise) dan olahraga (sport) dengan baik, benar, terukur, dan teratur untuk menjaga kesehatan dan memelihara kebugaran, meskipun dilakukan dengan penyesuaian.

Apakah Cuci Darah Menghalangi Kita Berpuasa Ramadan?

dr. Muhammad Hafiz Aini Sp.PD; dr. Heydi Marizky Lisman

2022-04-22

16081

Apakah Cuci Darah Menghalangi Kita Berpuasa Ramadan?

Menjalankan puasa saat bulan suci Ramadan merupakan kewajiban untuk seluruh umat muslim. Banyak Sahabat RSUI pasti bertanya, bagaimana ya dengan penderita penyakit ginjal, apakah mereka yang menjalani cuci darah (hemodialisis) dapat mengikuti ibadah puasa? Yuk, simak artikel kami.

Cuci darah atau hemodialisis adalah terapi untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah menurun akibat kerusakan pada organ tersebut, hal ini dikarenakan ginjal tidak mampu lagi membuang zat sisa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh atau limbah, dan kelebihan cairan dalam tubuh, sehingga mengharuskan penderitanya untuk rutin melakukan cuci darah. Berdasarkan Rekomendasi International Diabetes Federation and Diabetes and Ramadan International Alliance (IDF-DAR), pasien dengan gagal ginjal yang telah menjalankan cuci darah masuk dalam kategori sangat beresiko tinggi, dan tidak dianjurkan untuk berpuasa. Hal ini disebabkan karena seseorang pasien yang melakukan cuci darah membutuhkan kondisi yang fit dan baik. Selama proses tindakan cuci darah, kondisi pasien dapat berubah-ubah.

Dari segi hukum agama, sebagian besar menyatakan tindakan cuci darah membatalkan puasa. Tindakan cuci darah yang membersihkan darah dan kemudian memasukkan kembali ke dalam darah dengan adanya komponen yang bersifat nutrisi dengan jumlah yang besar layaknya diinfus cairan dan makanan walaupun melalui pembuluh darah. Lajnah Daimah dan Syekh Muhammad Al-Munajid melakukan kajian bahwa cuci darah membatalkan puasa karena terdapat perubahan nutrisi dan cairan selama proses cuci darah.

Meskipun puasa tidak begitu dianjurkan bagi pasien cuci darah, beberapa literatur menjelaskan berpuasa juga memiliki efek positif bagi pasien cuci darah yang mampu untuk melakukannya. Puasa dapat dilakukan pada hari tidak melakukan cuci darah. Dengan berpuasa, pasien cuci darah secara tidak langsung dapat mengontrol cairan yang masuk dalam tubuh. Apa saja yang perlu diperhatikan bagi pasien cuci darah agar dapat ikut berpua...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved